Karakter Ini Nyaris Bikin Super Smash Bros Kena Rating Lebih Dewasa

Nintendo memang identik dengan game-game untuk semua umur (ESRB Rating: Everyone). Apalagi untuk game unggulan, macam Super Smash Bros, yang baru dirilis untuk Nintendo 3DS. Tentu Nintendo ingin agar rating semua umur ini tetap melekat, sehingga pasarnya makin luas.

Tapi tahukah kamu kalau ternyata Super Smash Bros ini nyaris mendapat rating remaja (Teen). Bukan karena adegan pertarungan di dalamnya, melainkan karena adanya kehadiran satu karakter tertentu. Dia adalah Tharja, penyihir hitam dari Fire Emblem Awakening.

tharja

Meski hanya muncul sebagai trophy, namun busana minimalis Tharja membuat ESRB terpaksa memberikan rating Teen untuk Super Smash Bros. Nintendo langsung meresponnya dengan menghapus trophy ini.

Screenshot tentang Tharja sebagai trophy sendiri sudah beredar di internet, diperkirakan dari versi copy untuk rating ESRB. Sementara dari laporan gamer yang sudah memainkan versi retail game ini sejak seminggu lalu, trophy Tharja sama sekali belum ditemukan.

Tharja sebagai trophy Super Smash Bros
Tharja sebagai trophy Super Smash Bros

Sebelumnya hal yang mirip juga pernah terjadi. Di DLC Fire Emblem Awakening, yang berjudul Summer Scramble, artwork Tharja yang tampil begitu seksi harus disensor Nintendo di versi US-nya.

versi Jepang
versi Jepang

 

versi US dan Eropa (dengan sensor)
versi US dan Eropa (dengan sensor)

Tharja sendiri memang adalah karakter yang didesain sensual. Dari karakteristik, sebetulnya Tharja bukan tipikal karakter penggoda. Namun memang pakaiannya yang minim, disertai gaya gothic-nya, membuat banyak fans kesengsem. Alhasil Tharja menjadi salah satu karakter Fire Emblem Awakening yang paling populer. Salah satu buktinya adalah adanya statue 1/7 buatan Max Factory (yang nyaris saya beli ketika mampir di Akihabara kemarin).

Aaaak!!
Aaaak!!

 


SHARE
Previous articleParah! Speedy Paksa Pengunjung Wikipedia Lihat Iklan
Next articleActivision Bagi-bagi Call of Duty: Advanced Warfare Versi Xbox One dan PS4 Gratis!
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.