Review Interstellar: Jangan Takut Bingung Saat Nonton, Ini Pegangannya!

Review Film Interstellar Indonesia

Interstellar adalah film arahan Christopher Nolan yang sudah ditunggu-tunggu tayangnya sejak trailer pertamanya beredar akhir tahun lalu. Dengan rating 9.4/10 dari IMDb, rasanya pantas Interstellar menjadi salah satu film yang wajib ditonton bulan ini (baca: satu Lagi Film yang Wajib Kamu Tonton Bulan Ini: Interstellar).

Christopher Nolan terkenal sebagai pembuat film yang gemar mengeksplorasi berbagai konsep filosofis, misalnya ruang dan waktu dalam film Inception. Walau Interstellar lebih banyak ditulis adiknya, Jonathan Nolan, kecenderungan itu tetap kental. Tidak tanggung-tanggung, untuk Interstellar, Nolan bersaudara mendaulat seorang ahli teori-teori gravitasi dan astrofisika sebagai konsultan film ini.

Bagi para penggemar film-film Nolan, tentu ide-ide rumit justru menjadi alasan utama mereka menonton Interstellar. Namun, bagaimana dengan penonton lainnya? Apakah mereka malah merasa gentar? Apalagi durasinya lebih dari 2,5 jam. Waduh, bisa-bisa kita kebanyakan bingung dan akhirnya ketiduran!

Jangan khawatir, citizen. Berpeganganlah kepada tiang, eh, kepada lima poin berikut ini.

Review Film Interstellar Indonesia


1

Masa Lalu, Masa Kini, atau Masa Depan?


Apabila sudah menonton trailer-nya, citizen sudah melihat tokoh utama, Cooper (Matthew McConaughey), tinggal di rumah sederhana dan mengendarai truk tua. Kehidupan mereka terlihat seperti berasal dari beberapa puluh tahun lalu, hingga Cooper membuka sebuah laptop.

Interstellar bercerita tentang masa depan, ketika bumi mulai rusak dan terlalu banyak manusia kelaparan. Masa muda Donald, ayah Cooper, adalah ketika gadget baru ditemukan hampir setiap hari dan orang berlomba-lomba mendapatkannya; mirip dengan antusiasme kita terhadap iPhone dan smartphone. Tidak ada kepastian seberapa jauh cerita Interstellar dengan masa kini, tapi kita bisa menganggapnya sekitar 70 tahun dari sekarang.


2

Naluri Bertahan Hidup dan Cinta


Cooper sulit menerima bahwa manusia pada zamannya adalah generasi penjaga, alih-alih penjelajah. Dia percaya bahwa berusaha bertahan hidup bukanlah dengan bertahan di Bumi yang semakin tidak ramah, melainkan mencari tempat baru di antara bintang-bintang. Sebuah kejadian ganjil menuntun Cooper kepada profesi lamanya: pilot NASA. Orang-orang mengira Cooper ditakdirkan untuk menjalani misi pencarian planet tempat tinggal baru. Hanya anak perempuannya, Murphy, yang tidak setuju.

Konflik cerita dalam Interstellar didorong oleh naluri manusia untuk bertahan hidup. Naluri ini didorong oleh cinta manusia kepada orang-orang terdekatnya. Beberapa kali dua hal ini berbenturan, seperti saat Cooper kesulitan meninggalkan keluarganya. Tapi naluri bertahan hidup juga bisa mewujud menjadi sosok menyeramkan: dusta, pengkhianatan, bahkan kekerasan. Interstellar menghadirkannya dengan sangat manusiawi. Walau kesal, mungkin kita dalam hati mengaku bisa saja kita melakukan hal yang sama.

Review Film Interstellar Indonesia


3

Perjalanan Melintasi Ruang dan Waktu


Sesudah menikmati visual yang indah saat Cooper dan kawan-kawan mengarungi angkasa, para tokoh kerap kali membahas hal-hal ilmiah seputar ruang dan waktu.

Pada dasarnya mereka harus pergi sangat jauh, karena tidak ada planet dalam jangkauan manusia yang bisa menampung manusia. Itu berarti mereka harus pergi lebih jauh daripada tata surya kita, bahkan galaksi bima sakti, padahal bahan bakar dan usia manusia tidak cukup untuk sampai ke sana. Itu berubah ketika 50 tahun sebelumnya lubang cacing muncul di tata surya kita. Lubang cacing adalah jalan pintas ke tempat jauh, dalam kasus ini penghubung antargalaksi.

Perkara waktu menjadi krusial begitu Cooper tiba di galaksi lain. Waktu bersifat relatif, maksudnya memiliki kecepatan berbeda di ruang yang mempunyai kecenderungan tertentu. Ketika Cooper menjelajahi galaksi lain, dia harus mendatangi tempat di mana waktu berjalan jauh lebih lambat daripada waktu di Bumi. Hal ini membuat Cooper terdesak untuk menuntaskan misinya secepat mungkin.


4

Gravitasi dan Dimensi


Sulit menjelaskan kedua hal ini tanpa banyak spoiler. Jadi saya hanya bisa memberikan pegangan: gravitasi tidak terikat kepada ruang tiga dimensi dan waktu satu dimensi yang mengikat manusia. Setidaknya, demikianlah teori yang divisualkan dalam Interstellar.

Review Film Interstellar Indonesia


5

Reguler, 3D, atau IMAX?


Sesudah memutuskan untuk menonton Interstellar, kebingungan berikutnya adalah dengan layar apa sebaiknya kita tonton film ini: reguler, 3D, atau IMAX? Reguler jelas tidak cocok, karena perjalanan di angkasa cukup lama, dan ini bisa jadi malah membosankan pada layar lebar biasa. Sesungguhnya 3D sudah oke untuk menonton Interstellar, tapi film ini dibuat oleh Nolan untuk layar IMAX. Apabila tahun lalu citizen menyesal karena tidak menonton Gravity di IMAX, jangan sampai penyesalan itu terulang dengan Interstellar.

Masih penasaran dengan Interstellar tapi tidak mau terkena spoiler lebih banyak? Rasakan sendiri serunya menjadi pilot NASA seperti Cooper dengan bermain di Interstellar Space Hunt


SHARE
Previous articleTips Call of Duty: Advanced Warfare, Kombinasi Pick 13 Terbaik untuk Multiplayer
Next articleMenjadi Kenyataan, Naruto Akhirnya Berumah Tangga!
Meskipun menyandang nama musik, Melody Violine lebih senang menulis daripada bermain musik. Itulah mengapa ia memutuskan untuk kuliah di Program Studi Indonesia FIB UI hingga lulus pada tahun 2009. Selain menjadi kontributor Duniaku, ia menerjemahkan novel-novel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, termasuk di antaranya adalah adaptasi novel Assassin's Creed (Oliver Bowden).