Bagaimana Interstellar Meramalkan Kematian Agama

Interstellar 3

Interstellar, mahakarya baru dari Christopher Nolan memang wajib ditonton oleh pecinta film bulan ini. Kombinasi konsep menarik tentang perjalanan ruang dan waktu, visual apik, hubungan emosional antar tokoh yang dalam serta jawaban berani tentang masa depan umat manusia sepertinya jadi alasan yang pantas untuk menyandang rating 9.0 dari IMDB.

Film yang scriptnya banyak dikerjakan oleh Jonathan Nolan ini nampaknya juga cukup berhasil menjawab kritikus dan ilmuwan tentang akurasi film fiksi ilmiah. Hal bisa jadi karena dilibatkannya fisikawan teoritis Kip Throne dalam pembuatan film ini sejak awal.  Walaupun demikian, beberapa ilmuwan lain seperti Neil De Grasse Tyson dan Bil Nye masih mengkritik beberapa aspek ilmiah dalam film ini.

Interstellar 2

Dikisahkan di masa depan planet bumi di masa depan mengalami kekeringan dan perubahan iklim parah. Saat umat manusia menghadapi kepunahan akibat ganasnya bumi, ilmuwan Nasa menemukan anomali ruang-waktu yang memungkinkan perjalanan ke Planet di luar tata surya. Planet inilah yang nantinya diharapkan dapat menjadi tempat tinggal “baru” umat manusia. Puncak konflik yang berusaha dibangun adalah pertarungan antara kepentingan pribadi dengan keberlangsungan umat manusia. (Baca : Review Interstellar: Jangan Takut Bingung Saat Nonton, Ini Pegangannya! )

Satu hal yang kita mungkin cermati adalah film ini banyak dibangun atas simbolisme agama, kita ambil contoh bencana yang menimpa bumi di Interstellar ada kesamaan dengan bencana yang menimpa Mesir di masa Firaun dan Musa. Walaupun tidak digambarkan secara mendetail, bencana yang terjadi di planet bumi di masa depan adalah kekeringan, gagal panen dan hama, yang cukup mirip dengan tahapan bencana yang digambarkan kitab suci.

Lalu kita juga bisa menilik konsep wormhole dan black hole yang menjadi plot utama film ini. Disebutkan dengan memanfaatkan kedua fenomena antariksa ini, umat manusia bisa menjelajah ruang dan waktu. Konsep ini sangat cocok dengan deskripsi perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad. Pada perjalanan miraj disebutkan Nabi yang menunggangi Buraq perlu melewati 7 langit (dimensi? di Interstellar) untuk bertemu Tuhan. Cuma bedanya di Interstellar, setelah masuk lubang hitam bukannya bertemu Tuhan, Cooper malah bertemu manusia yang peradabannya sudah lebih maju.

Interstellar 1
Juru selamat kali ini adalah tukang Insinyur

Cooper, tokoh utama film ini juga mempunyai peran yang mirip dengan Yesus yaitu sebagai juru selamat. Bahkan penjabaranya akurat dengan menempatkan Cooper sebagai “pengantar” umat manusia ke keselamatan, mirip dengan arti nama Yesus menurut bahasa Ibrani. Kemiripan lain adalah kebangkitan Cooper setelah “kematian” dan perginya tokoh ini tidak lama setelahnya (untuk menjemput Brandt).

12 Astronot yang melakukan ekspedisi pertama sepertinya juga merupakan manifestasi dari 12 rasul yang diantaranya ada pengkhianat , walaupun jelas motif pengkhianatan kali ini lebih mulia yaitu bukan kepentingan pribadi namun lebih ke keberlangsungan umat manusia. Kebangkitan dari tokoh pengkhianat ini lekat juga lekat dengan simbolisme Lazarus yang dapat hidup lagi setelah “mati”.

Penggambaran Endurance dapat juga diasosiasikan dengan bahtera Nuh. Sebabnya adalah di pesawat tersebut terdapat embrio yang ditujukan untuk melanjutkan keberlangsungan umat manusia setelah “bencana besar”. Di Pesawat tersebut juga terdapat bekal untuk jangka waktu cukup lama mirip seperti di bahtera Nuh.

Apa?! Kita turun ke peringkat 2?!
Jadi kita Adam dan Hawa ya

Kemiripan lain adalah pada “perjodohan” Cooper dan Brandt yang merupakan simbolisme dari berpisahnya Adam dan Hawa (Eva) setelah “jatuh” dari surga. Jumlah embrio yang dibawa oleh Endurance juga berjumlah sekitar 50 an, mirip seperti disebutkan tradisi lama.

Walaupun banyak menggunakan simbolisme agama, film ini sepertinya bermaksud sebaliknya yaitu menolak doktrin agama. Buktinya adalah film ini malah penuh dengan adegan yang berusaha membuktikan doktrin agama itu salah. Contoh doktrin yang berusaha dipatahkan adalah tentang adanya makhluk lain seperti “Malaikat” atau “Hantu”. Hal ini dicontohkan pada adegan sentuhan Brandt kepada “cahaya” (dapat diasosiasikan dengan Roh Kudus) yang ternyata hanyalah Cooper di lubang hitam. Contoh lainnya adalah “makhluk” yang sering berinteraksi dengan Murphy ternyata adalah Cooper sendiri yang berada di Tesseract.

Selain contoh yang sudah diesebutkan, penolakan terbesar terhadap agama tidak lain adalah dengan menggugat keberadaan Tuhan. Caranya tidak lain dengan menceritakan bahwa semakin jauh mencari, bukanlah Tuhan yang ditemukan, namun malah manusia sendiri (yang teknologinya sudah sangat maju).  Dengan memberikan pandangan tentang “ketidak-adaan” Tuhan ini, sepertinya Interstellar ingin bercerita bahwa kita (manusia) adalah Tuhan dan agama akan mati saat ilmu pengetahuan semakin berkembang. Jadi, gimana menurut kamu, apakah memang film ini  cukup untuk meruntuhkan keyakinanmu? atau malah mempertebal imanmu?