Salah Sasaran, GTA V Dituduh Ajari Anak-anak Berbuat Zina!

duniaku-gtafps-1

Entah sudah berapa kali game selalu disalahkan atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat. Mungkin kamu masih ingat dengan kejadian sekitar satu tahun lalu, dimana beberapa game dijadikan kambing hitam atas tragedi penembakan masal yang terjadi di Sandy Hook, Amerika Serikat (baca: Penembakan Brutal Siswa SD di Sandy Hook dan Hujatan Salah Alamat Kepada Mass Effect). Bukan mengenai tragedi penembakan lagi, namun beberapa hari ini di media sosial banyak berseliweran berita mengenai Grand Theft Auto (GTA) V yang dituduh mengajarkan zina kepada anak-anak. Memang sejak kapan ya GTA menjadi game untuk anak-anak?

duniaku-gtazina-1

Jika kurang jelas dengan gambar di atas, berikut ini saya kutip sedikit bagian dari artikel tersebut.

Orang tua harus semakin hati-hati pada putra-putrinya yang kecanduan permainan game. Selain banyak game yang mengandung kekerasan, belakangan juga keluar game edisi terbaru yang mengajari anak berzina. Nauzubillah

Ada game edisi terbaru yang sekarang sangat laris digandrungi anak-anak di dunia. Versi terbaru permainan Grand Theft Auto (GTA) mempersilahkan penggunanya untuk melakukan seks dengan pelacur. Tidak hanya itu, penikmat permainan ini juga dapat membunuh pelacur itu. Benar-benar sadis. Semua itu memungkinkan dalam game yang tersedia di Playstation 4 dan Xbox One. Pada edisi game ini sebelumnya memang ada pelacur, tapi tidak bisa berhubungan dengannya. Sekarang, dengan first-person mode yang baru, aksi perzinaan ini dimungkinkan.

Sedikit mengkritisi berita di atas. Pertama, seperti yang kita tahu GTA bukanlah game untuk anak-anak. Rockstar Games tentu sudah sangat paham, dimana  dengan dimasukkannya unsur-unsur kekerasan dan seksual dalam game tersebut, mereka juga harus menerima kenyataan kalau game ini akan diganjar rating dewasa atau M dalam ESRB. Tentunya rating ini bukan hanya sekedar hiasan di cover game, karena badan rating dan Rockstar sendiri tentu tidak ingin game ini disalah gunakan dan dimainkan oleh target audience yang tidak tepat, yaitu gamer yang masih di bawah umur. Jadi menganggap GTA mengajarkan zina kepada anak-anak jelas sebuah pernyataan yang salah sasaran.

esrb ratings
Penting untuk memperhatikan dan memahami arti dari logo-logo diatas dalam sebuah cover game

Jadi mengapa sampai ada pemberitaan salah sasaran seperti itu? Pendidikan mengenai sistem rating dan game yang kurang menjadi salah satu penyebabnya. Mungkin sang penulis artikel atau orang tua yang menjadi narasumber kurang mendapatkan pendidikan mengenai implementasi sistem rating dalam sebuah game. Di dalam asumsi mereka, game = mainan anak-anak. Di sini orang tua memegang peranan yang sangat penting, agar jangan sampai anak-anak mereka memainkan game yang tidak sesuai dengan umur mereka. Panduannya tentu saja lewat sistem rating yang tertera di setiap cover game, dimana orang tua harus mengerti dengan implementasi sistem rating yang seharusnya (baca: [Kuliah Om Jas] Apa Itu Rating Game).

Sistem rating ini harus menjadi panduan untuk para orang tua saat memilih game yang cocok dimainkan oleh anak mereka. Jika anak masih di bawah umur, tentu peran serta orang tua dibutuhkan untuk menyaring game-game apa saja yang tidak boleh dimainkan oleh mereka. Jika menganut ke sistem ESRB, anak-anak seharusnya dilarang untuk memainkan game-game dengan rating T (Teen/Remaja) atau M (Mature/Dewasa).

duniaku-gtavnew-8

Namun masalah kembali muncul ketika ESRB yang selama ini menjadi kiblat rating game di Indonesia ternyata masih tidak sesuai dengan kultur dan identitas Indonesia, karena masih ada beberapa aspek yang dianggap tabu di Indonesia, namun di negara luar dianggap sebagai hal yang biasa. Untuk itu memang dibutuhkan sistem rating yang lebih sesuai dengan kultur yang ada di Indonesia. Saat ini, sistem rating khusus untuk Indonesia tengah digodok oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama para pelaku industri game di Indonesia (baca: Liputan: Diskusi Membahas Sistem Rating Game di Indonesia Bersama Kemenkominfo). Tujuannya tentu saja, memberikan panduan kepada orang tua ataupun gamer itu sendiri mengenai game apa yang cocok untuk mereka mainkan selain juga. Selain alasan karena ESRB, PEGI atau CERO belum sesuai dengan kultur, masih ada banyak alasan lain yang membuat Indonesia harus memiliki sistem rating tersendiri (baca: 4 Alasan Kenapa Indonesia Butuh Game Rating Sendiri)

Sistem rating di Indonesia sendiri nantinya akan dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain U (ditujukan untuk semua umur), B (Balita, usia 1-5 tahun yang membutuhkan pendampingan orang tua), A (Anak, usia 6-10 tahun yang membutuhkan bimbingan orang tua), R (Remaja, usia 13 tahun ke atas dan masih membutuhkan bimbingan orang tua), D (Dewasa, usia 17 tahun ke atas) dan X (Lebih Dewasa, 21 tahun ke atas). Sistem ini statusnya tentatif dan masih digodok untuk mencari komposisi yang pas. Ke depannya saat diimplementasikan nanti, sistem rating ini bisa berperan dalam pendidikan game untuk masyarakat. Harapannya tentu saja, kesalahpahaman yang terjadi selama ini dimana game selalu menjadi biang keladi masalah-masalah sosial di masyarakat bisa tereduksi.

Rating dalam GTA V
Rating yang harus diperhatikan setiap akan membeli game

Di sisi lain, tentu ada nilai positif dari pemberitaan di atas. Dengan membaca berita di atas, orang tua tentunya bisa tahu bahwa ada game yang mengajarkan tindakan zina dan kekerasan. Harapannya setelah membaca berita tadi, orang tua bisa menjauhkan anak-anak mereka yang masih di bawah umur dari game-game yang berisi konten-konten tersebut.


SHARE
Previous articleTotal War: Attila | Saatnya Menjadi Penakluk yang Keji ala Attila
Next articleLumia 535 Mulai Dijual di Indonesia, Windows Phone Pertama Microsoft Siap Menantang Android!
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.