Novel Vandaria Saga: Winterflame Hasil Proses Kreatif Setahun Lebih!

 

novel promo banner 575 x 216

 

Tim Vandaria Saga dan Artoncode Indonesia merayakan terbitnya novel Vandaria Saga: Winterflame pada Sabtu, 29 November 2014, lalu di panggung GAT Festival, Kampus Anggrek Binus University, Jakarta. Dalam acara ini, hadir sebagai pembicara adalah Melody Violine (editor), Staven Andersen (ilustrator), dan Buntono Sidik alias Abun (desainer game). Sebagai moderator, Albertus Agung dari Binus memimpin acara.

Dengan tajuk ”Peran Profesional dalam Pengembangan Serial Fantasi”, tim Vandaria Saga dan Artoncode bermaksud berbagi pengalaman mereka selama mengerjakan Winterflame. Tidak heran acara ini mengungkap banyak hal, baik tentang proyek Winterflame maupun dapur tim Vandaria Saga sendiri.

Launching Winterflame - Panggung GAT 

Winterflame, novel terbaru Vandaria Saga, sudah direncanakan sejak 2012. Fachrul R.U.N. selesai menulis naskah pertama Winterflame akhir tahun itu juga. Sejalan dengan kerja sama antara Vandaria Saga dan Artoncode Indonesia, tim yang kemudian dibentuk untuk menggodok Vandaria turut menggali potensi Winterflame. Tidak tanggung-tanggung, Winterflame dikembangkan untuk menjadi mobile game (2015) dan proyek lain yang masih dirahasiakan. Kini novel Vandaria Saga: Winterflame bisa diperoleh di toko-toko buku dengan harga Rp95.000,00. Itu sangat murah untuk novel tebal dan berilustrasi mewah seperti Winterflame!

Inti cerita Winterflame sekilas sederhana, bahkan klise: tiga pencuri terseret dalam perburuan artefak berbahaya, Winterflame. Tapi Melody selaku editor membocorkan bahwa itu baru permulaannya; cerita akan dilanjutkan dengan pengaruh kebangkitan artefak itu dalam mobile game Winterflame yang akan diluncurkan tahun depan. Abun melengkapi pernyataan itu dengan menjelaskan bahwa game Winterflame nanti bukan adaptasi dari novelnya, melainkan cerita yang berhubungan dengan novelnya.

Launching Winterflame - Buntono Sidik, game designer Artoncode Indonesia

Menanggapi pertanyaan seorang pengunjung, Staven Andersen sang ilustrator menerangkan deskripsi dari novelis (Fachrul R.U.N.) sangat berpengaruh terhadap desain ilustrasi yang dibuatnya. Meskipun demikian, ilustrator juga biasa mengajukan ide yang kemudian diadopsi oleh penulis ke dalam novel Winterflame. Proses ini bisa berulang kali terjadi, dan baru berhenti ketika sudah ”eneg” atau sudah mencapai tenggat.

Para pengunjung, termasuk panitia GAT Festival, tanpa antusias mengikuti acara ini. Beberapa di antara mereka menghampiri para pembicara seusai acara. ”Sebenarnya saya ingin bertanya lebih dalam,” tutur Max, seorang mahasiswa Binus, ”sayang waktunya terlalu sempit.” Max juga menyayangkan topik yang diangkat oleh tim Vandaria kali ini terlalu umum, jadi dia hanya mendapatkan permukaan dari proses kreatif pengembangan serial fantasi.

Launching Winterflame - Hadiah untuk Perpustakaan Binus

Di antara hadiah-hadiah yang diterima oleh pengunjung, poster peta negara yang diceritakan di novel Winterflame mungkin hadiah yang paling menarik. Di GAT Festival 2014 juga ada booth Vandaria (bersama Faunia Paw! dan Harmoni) tempat pengunjung bisa mengerjakan puzzle karakter Winterflame untuk mendapatkan hadiah. Acara ditutup dengan serah terima plakat antara panitia dan tim Vandaria Saga. Belakangan tim Vandaria Saga menyumbang satu novel Vandaria Saga: Winterflame ke perpustakaan Binus, Kampus Anggrek.

Bagi citizen yang ketinggalan acara ini, ada kesempatan lain untuk mendengarkan langsung proses kreatif pembuatan Winterflame dari tim Vandaria Saga dan Artoncode di Game Dev Gathering 2014. Pada acara yang diadakan Sabtu, 6 Desember 2014, di Universitas Multimedia Nusantara itu Ami Raditya (pendiri Vandaria Saga) dan Anton Budiono (General Manager Artoncode Indonesia) akan berbicara tentang ”Building Intellectual Property”. Walau tiket penonton GDG 2014 sudah habis, citizen masih bisa mendaftar untuk masuk waiting list di sini.

 

 


SHARE
Previous articleHare Gene Masih Ngontrak? Mainin Saja MapleStory 2, Banyak Tanah Kosong Untuk Bangun Rumah!
Next articleJangan Baca Ini Kalau Nggak Mau Kebocoran The Last Naruto!
Meskipun menyandang nama musik, Melody Violine lebih senang menulis daripada bermain musik. Itulah mengapa ia memutuskan untuk kuliah di Program Studi Indonesia FIB UI hingga lulus pada tahun 2009. Selain menjadi kontributor Duniaku, ia menerjemahkan novel-novel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, termasuk di antaranya adalah adaptasi novel Assassin's Creed (Oliver Bowden).