Interview Concept Artist Game Winterflame, Staven Andersen: Mereka Semua Anak-anak Saya!

Template575 x 216x00

Like a spark that creates a flame,
Staven’s works tantalize minds and hide lavish mysteries discoverable for the searching eyes.

Interview Concept Artist Staven Andersen mengungkap banyak hal menarik. Citizen yang sudah memiliki novel Vandaria Saga: Winterflame pasti sudah menikmati ilustrasi mewah di dalamnya. Sebagian besar ilustrasi tersebut adalah karya Staven Andersen yang sudah sangat berpengalaman dalam ilustrasi novel, baik terjemahan maupun lokal. Beberapa novel lain yang juga diilustrasi oleh Staven adalah Carrie karya Stephen King, Sleeping Murder karya Agatha Christie, dan Katarsis karya Anastasia Aemilia. Tapi Staven juga berpengalaman dalam membuat ilustrasi untuk video game, termasuk game Winterflame yang sedang dikembangkan oleh Artoncode Indonesia untuk platform mobile dan PC.

(Baca: Stok Menipis, Winterflame Novel Fantasi Indonesia Paling Dicari)

Staven sempat berbagi pengalamannya mengerjakan novel Vandaria Saga: Winterflame di GAT Festival akhir November 2014 lalu (Baca: Novel Vandaria Saga: Winterflame Hasil Proses Kreatif Setahun Lebih!). Untuk tahu lebih banyak tentang Staven, Tim Duniaku berkesempatan mengobrol dengan Staven soal proyeknya saat ini, pendapatnya mengenai concept artist, dan lain-lain.

OA 69
Staven ketika ditemui di studio Artoncode


Let’s Interview Concept Artist

 


Duniaku (D): Hai, Staven. Sedang mengerjakan apa?

Staven Andersen (S): Hai! Ini… desain environment untuk game Winterflame, tapi belum boleh dipublish, hehe.


D: Aduh, sayang sekali, kan udah banyak orang penasaran sejak melihat desain ilustrasinya di prototipe Winterflame Game di IGS. 
(Baca:  IGS 2004: Vandaria dan Artoncode “Membakar Antusiasme Gamer dan Penikmat Novel dengan Winterflame!)

S: Tunggu tanggal mainnya di Kickstarter aja ya. Nanti banyak desain yang dipamerin di situ kok.


D: Sambil menunggu, game apa yang bisa citizen mainkan, yang diilustrasi oleh Staven juga?

S: Ada game flash, judulnya Loondon. Langsung ke Kongregate.com aja.

Interview Concept Artist Game Winterflame, Staven Andersen: Mereka Semua Anak-anak Saya!

Staven Andersen, concept artist kelas dunia ikut proyek Winterflame!

Abaikan

D: Boleh tahu dong, apa definisi concept art menurutmu?

S: Menurut saya, concept art bukan patokan yang sama sekali tidak boleh dilanggar dalam desain-desain berikutnya, melainkan batu loncatan untuk menginspirasi pengembangan desain ke bentuk yang bahkan lebih baik lagi—a spark that creates a flame.


D: Jadi bagaimana kamu memulai karirmu di bidang desain dan concept art?

S: Perjalanan yang lumayan panjang, dimulai dari ikut teman mengerjakan story board, mock-up iklan cetak, sampai sampul buku, dan lain-lain. Untuk concept art, hal itu terjadi sambil jalan saja, saya tidak ingat ada batu loncatan yang membuat saya mulai mengerjakan concept art.

Staven Covers
Sampul-sampul novel ilustrasi Staven yang sudah terbit

D: Apa karyamu yang paling kamu banggakan?

Semuanya. Mereka semua anak-anak saya—apa pun rupanya, saya bangga akan mereka. Lagi pula, bila saya bersikap pilih kasih, bisa-bisa mereka membuka mata mereka dan pulang ke laut.

D: Hahaha, bisa-bisa mereka hidup dan pergi ya. Nah, apa saranmu untuk orang-orang yang ingin menjadi artist?

S: Menjadi artis? Bisa dimulai dengan suka mencari sensasi… Becanda! Tidak perlu jadi artist. Bila Anda ingin berkarya, berkarya saja demi/atas nama berkarya itu sendiri. Setiap orang berjiwa seni/kreatif mau tidak mau pasti berkarya, karena itulah dirinya. Soal label artist, seniman, dan lain-lain, biarlah orang lain yang memberikannya.

bab 27 - hyomon village
Salah satu ilustrasi Staven di novel Vandaria Saga: Winterflame

D: Karya-karyamu sangat unik! Bagaimana caramu mencari inspirasi dan memprosesnya?

S: Sumber inspirasi saya dari macam-macam sumber—kebanyakan dari alam yang menakjubkan, karya-karya seni klasik terutama pelukis-pelukis Flemish, literatur-literatur unik, sejarah, dan beberapa pembuat film yang inspiratif seperti David Lynch dan Lars Von Trier.

Saat membuat concept art, biasanya saya membaca narasi, kalau ada, mengenai hal yang akan dikerjakan, lalu mencari referensi-referensi yang dibutuhkan. Setelah itu saya melakukan mindmapping atau brainstorming, dilanjutkan dengan membuat sketsa.

D: Terima kasih, Staven. Interview Concept Artist berakhir di sini. Semoga sukses bersama Vandaria dan Artoncode!

Interview Concept Artist Game Winterflame, Staven Andersen: Mereka Semua Anak-anak Saya!

Staven Andersen, concept artist kelas dunia ikut proyek Winterflame!

Abaikan


SHARE
Previous articleThe Simpsons Semarakkan Natal ala Disney Frozen
Next articleIni Lho Setsu chan, Kucing Terjelek di Jepang!
Meskipun menyandang nama musik, Melody Violine lebih senang menulis daripada bermain musik. Itulah mengapa ia memutuskan untuk kuliah di Program Studi Indonesia FIB UI hingga lulus pada tahun 2009. Selain menjadi kontributor Duniaku, ia menerjemahkan novel-novel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, termasuk di antaranya adalah adaptasi novel Assassin's Creed (Oliver Bowden).