Bocoran Novel Assassin’s Creed Unity: Pertemuan Pertama Arno dan Élise

cover-acunity

Novel Assassin’s Creed Unity mungkin bisa menghibur citizen yang sudah muak dengan gamenya. Entah karena citizen tidak bisa memainkannya gara-gara spesifikasi kebangetan tinggi dan tidak punya konsol Now-Gen. Atau karena, walau citizen memenuhi kedua syarat itu dan sanggup membelinya, citizen malah merasa lebih apes lagi: jadwal rilis sempat ditunda, ada banyak glitch (yang bikin ngakak), jadwal rilis patch ditunda, dan jalan cerita yang kurang sesuai dengan sejarah.

Di luar semua itu pun masih ada keluhan mengenai plot Assassin’s Creed Unity yang kurang emosional, perkembangan karakter Arno yang payah, dan kurangnya cerita tentang Élise. Semua gangguan teknis yang disebutkan di atas tentu tidak ada di novel Assassin’s Creed Unity. Terlebih, lewat novel ini citizen bisa mengetahui lebih banyak tentang masa lalu Arno dan Élise, juga memahami motivasi atas tindakan-tindakan Élise sepanjang cerita. Misalnya, Élise rupanya sempat berkorespondensi dengan Jennifer Scott, kakak Haytham Kenway dari Assassin’s Creed Forsaken dan anak pertama Edward Kenway dari Assassin’s Creed Black Flag.

novel Assassin's Creed

Novel Assassin’s Creed Unity Bukan Novel Adaptasi Pertama

Novel Assassin’s Creed Unity terbit awal Desember 2014 dan sudah beredar di toko-toko buku di Indonesia (saya membelinya di Books & Beyond, tapi biasanya novel Assassin’s Creed juga dijual di Periplus, Kinokuniya, dan Gramedia yang besar). Sama dengan novel-novel sebelumnya, novel Assassin’s Creed Unity ditulis oleh Oliver Bowden. Edisi terjemahan bahasa Indonesia novel ini akan diterbitkan pertengahan 2015 oleh Fantasious yang juga telah menerbitkan judul-judul pendahulunya.

Baca:

“Aku telah dihabisi, ditipu, dan dikhianati. Mereka membunuh ayahku—dan aku akan membalaskan dendam ini, apa pun risikonya!”

1789: kota Paris yang megah menyaksikan terbitnya Revolusi Prancis. Jalanan berkerikil berubah menjadi sungai darah ketika rakyat bangkit menentang golongan bangsawan yang menindas mereka. Tapi keadilan revolusi harus dibayar dengan sangat mahal…

Pada masa jurang antara si kaya dan si miskin mencapai jarak terjauh, dan sebuah negara menghancurkan dirinya sendiri, seorang pemuda dan seorang gadis berjuang untuk membalaskan apa saja yang telah direnggut dari mereka.

Segera Arno dan Élise terseret ke dalam pertarungan antara Assassin dan Templar yang sudah berlangsung ratusan tahun—sebuah dunia penuh dengan bahaya yang lebih mematikan daripada jangkauan imajinasi mereka.

Tragedi Mengiringi Pertemuan Pertama Arno dan Élise

Teks di atas adalah terjemahan dari sampul belakang novel Assassin’s Creed Unity. Rasanya sangat generik dan kurang berkesan, ya? Citizen yang sudah memainkan atau setidaknya mengikuti perkembangan berita Assassin’s Creed Unity pasti tahu bahwa ada kisah cinta antara Arno dan Élise. Posisi mereka yang berseberangan–Arno di kubu Assassin, sedangkan Élise di kubu Templar–tidak bisa dianggap sepele saat citizen tahu bahwa Arno dan Élise sesungguhnya dibesarkan bagaikan saudara.

Seakan sudah lazim bagi tokoh utama serial Assassin’s Creed untuk kehilangan ayahnya, tragedi itu menimpa Arno juga. Bahkan, seperti Haytham, Arno dibesarkan oleh Templar. (Edward beruntung mempunyai orangtua lengkap, tapi malah meninggalkan mereka. Connor ditinggal pergi ayahnya sejak masih dalam kandungan.) Ironisnya, tragedi itulah yang mengiringi pertemuan pertama Arno dan Élise. Bukan, pertemuan pertama mereka bukanlah Ketika Arno Menyelamatkan Seorang Gadis Templar, melainkan sebuah kejadian jauh sebelum itu, ketika Arno dan Élise masih kecil.

novel Assassin's Creed Unity

12 September 1794

Hubungan kami diikat dengan benang kematian—kematian ayahku.

Berapa lama kami menjalani hubungan yang biasa dan lazim? Setengah jam? Waktu itu aku berada di Istana Versailles bersama ayahku yang sedang punya urusan di sana. Ayah menyuruhku menunggu sementara dia mengerjakan urusan apa pun itu. Selagi aku duduk sambil mengayun-ayunkan kaki, melihat para penghuni istana yang berdarah biru berlalu lalang, siapa lagi yang muncul kalau bukan Élise de la Serre.

Senyumnya kelak aku cintai, rambut merahnya kala itu tidak istimewa bagiku, dan kecantikannya yang nanti membuat mataku sebagai orang dewasa betah menatapnya tak tampak di mataku sewaktu kecil. Apa boleh buat, waktu itu aku baru delapan tahun. Anak laki-laki delapan tahun, yah, mereka tidak senang meluangkan waktu untuk anak perempuan delapan tahun, kecuali anak perempuan delapan tahun itu sangat istimewa. Dan Élise istimewa. Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Dia masih anak-anak. Tapi bahkan dalam beberapa detik bertemu dengannya aku tahu dia tidak seperti anak perempuan lain yang pernah bertemu denganku.

Kelanjutan cuplikan di atas bisa dibaca di blog penerjemahnya (klik di sini). Citizen tidak perlu khawatir novel Assassin’s Creed Unity bakal penuh dengan kembang gula cinta antara Arno dan Élise. Fokus ceritanya tetap perseteruan antara Assassin dan Templar dengan latar Revolusi Prancis.

Sayangnya, apabila citizen kurang sreg membaca novel berbahasa Inggris atau keberatan dengan harganya yang ikut terbang bersama dolar (Baca: Rupiah Anjlok, Bagaimana Nasib Gamer?), citizen harus menunggu sekitar setengah tahun lagi untuk mendapatkan edisi terjemahannya. Sementara itu, citizen bisa membaca Vandaria Saga: Winterflame, novel yang juga berkaitan dengan video game. (Baca: Vandaria dan Artoncode Membakar Antusiasme Gamer dan Penikmat Novel dengan Winterflame)

novel Assassin's Creed Unity dan Vandaria Saga Winterflame


SHARE
Previous article10 Game Indonesia Terbaik 2014
Next articleBocor! Inikah Wajah Villain Utama dalam Star Wars: The Force Awakens?
Meskipun menyandang nama musik, Melody Violine lebih senang menulis daripada bermain musik. Itulah mengapa ia memutuskan untuk kuliah di Program Studi Indonesia FIB UI hingga lulus pada tahun 2009. Selain menjadi kontributor Duniaku, ia menerjemahkan novel-novel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, termasuk di antaranya adalah adaptasi novel Assassin's Creed (Oliver Bowden).