Educa Studio, Komitmen Memajukan Dunia Pendidikan Lewat Game!

Educa Studio

Mencari developer game Indonesia yang fokus mengembangkan game dan aplikasi untuk edukasi mungkin bisa dihitung dengan jari. Salah satu nama yang memiliki komitmen tinggi terhadap edukasi tersebut adalah Educa Studio. Educa Studio adalah studio pengembangan game yang berbasis di Jawa Tengah, dimana mereka kerap kali merilis game untuk mengedukasi anak atau yang sering kita sebut dengan Edugame. Mereka berhasil menelurkan banyak produk dengan berbagai lini mulai dari Marbel, RIRI dan KABI yang sebagian besar dirilis untuk platform mobile.

Nah, dalam kesempatan kali ini, kami berhasil mewawancarai Andi Taru, Founder sekaligus CEO dari Educa Studio. Andi banyak bercerita mengenai latar belakang pembentukan Educa Studio, hingga memberikan pendapatnya mengenai bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang baik untuk diterapkan di Indonesia. Yuk kita simak bersama hasil wawancaranya berikut ini!

Duniaku (D): Apa sih yang melatar belakangi Educa Studio sehingga ingin fokus dalam pengembangan game dan aplikasi edukasi?

Andi Taru (AT): Educa Studio memiliki Visi “Memanfaatkan Teknologi Informasi (IT) untuk mengembangkan produk yang bermuatan Edukasi dan Bermanfaat bagi Masyarakat Luas. dan memiliki misi “Menampung talenta-talenta berbakat, terus bertumbuh dan berkembang untuk mewujudkan visi.”

Dari visi misi tersebut, Educa Studio ingin mengambil peran di dalam mengembangkan dunia pendidikan ke arah yang lebih baik, fokus pada pengembangan produk, menampung talenta-talenta berbakat sesuai dengan bidangnya untuk satu tujuan yaitu Bermanfaat bagi masyarakat.

Educa Studio
Andi Taru (berdiri paling tengah) bersama tim Educa Studio

D: Sejak tahun berapa Educa Studio berdiri, dan apakah sejak berdiri tersebut sudah fokus ke game edukasi?

AT: Secara legal, sebenarnya Educa Studio berdiri pertengahan 2011, namun kami mulai beroperasi pada akhir tahun 2011. Sesuai dengan namanya, Educa Studio memang sudah di-set untuk fokus pada bidang edukasi. Mungkin ke depan tidak hanya game, karena game hanya sebuah media edukasi. Kita berharap dapat ekspansi pada bidang  kreatif yang lain namun masih mengangkat tema edukasi.

D: Pernahkah mengembangkan game atau aplikasi di luar edukasi?

AT: Pernah, tetapi hanya untuk refreshing tim saja. Tapi karena kurang serius, sampai saat ini kebanyakan masih belum bisa dipublikasikan karena belum selesai. Hahaha… Tahun 2012 kita pernah rilis Dandelion The Game, tetapi sepertinya walau sukses di kompetisi tapi kurang sukses di end user. Sekarang masih dalam tahap perbaikan dan pengembangan. Tetapi masih belum bisa dipastikan kapan akan rilis.

D: Menurut pendapat mas Andi, apa sih kelebihan pembelajaran dengan game atau aplikasi dibanding sistem pembelajaran yang konvensional?

AT: Pertama, konten dapat lebih interaktif. Sebagai contoh bisa kita bandingkan buku cerita konvensional dengan buku cerita interaktif RIRI dari Educa Studio. Dalam setiap halaman, terdapat beberapa komponen interaktif seperti: Animasi, Voice (Suara yang bercerita), Sound Effect (ketika terjadi animasi tertentu) juga Backsong yang dapat disesuaikan dengan kondisi cerita. Komponen-komponen tersebut tidak akan mudah didapatkan melalui sistem yang konvensional.

Kedua, lebih menarik minat anak. Jika konten lebih interaktif minat penggunaan dari user (dalam hal ini anak-anak) akan menjadi lebih tinggi. Sistem pembelajaran konvensional memang masih tetap dibutuhkan, namun terkadang anak-anak akan merasa bosan apabila hanya disuguhkan teks yang terlalu banyak.

Ketiga, lebih praktis. Dalam satu tablet, dapat diisi dengan berbagai macam aplikasi dan game dengan berbagai macam materi. Itulah mengapa Educa Studio membuat banyak sekali variasi aplikasi. Banyaknya aplikasi tidak akan menjadi kendala bagi user. Dengan adanya teknologi, semua serasa ada dalam satu genggaman.

KABI
KABI, salah satu lini produk Educa Studio yang berisi kisah Nabi.

D: Apa sih kendala yang kerap dihadapi saat mengembangkan game dan aplikasi edukasi?

AT: Kendala utama biasa ada pada desain dan user requirements. Tahap itu yang paling sulit di dalam pembuatan game edukasi. karena imajinasi anak-anak (user) dengan imajinasi developer kadang berbeda. Harus hati-hati dan mempertimbangkan banyak aspek.

D: Sampai saat ini, apa saja penghargaan yang pernah diterima Educa Studio Penghargaan mana sih yang paling memorable?

AT: Beberapa penghargaan yang pernah didapat Educa antara lain:

  • Marbel (Second Winner Industry Creative Festival 2012 Kemenperin di Bandung)
  • Dandelion The Game (Finalist Indonesia Game Show 2012 di Jakarta)
  • Dandelion The Game (Third Winner Android Game Competition 2012 di Bandung)
  • Marbel Belajar Membaca (First Winner Rock Star Pro Developer 2013 di Jakarta)
  • GameMarbel.Com (First Winner INAICTA 2013 di Jakarta)
  • Educa Studio (The Most Developer Award, 2014 by Nampol di Jakarta)
  • Speaker at Startup Session di acara APMF 2014 di Nusa Dua Bali

Yang paling memorable adalah ketika pertama kali, di Increfest 2012. Karena sebenarnya itu menjadi titik awal perjuangan dan semangat setelah sekian lama mempertahankan MARBEL. Btw, MARBEL sebenarnya sudah lahir pada tahun 2008 ketika saya masih kuliah.

D: Menurut pendapat mas Andi, sistem pendidikan di Indonesia ini bagaimana?

AT: Menurut saya, saat ini sudah semakin baik. Namun masih ada catatan seperti:

  • Harus ditambahkan lagi porsi untuk pelajaran moral dan budi pekerti
  • Partisipasi dan kesadaran bersama untuk membangun pendidikan yang lebih baik dan lebih murah
  • Kolaborasi antara pemerintah, instansi pendidikan dan industri masih perlu ditingkatkan
  • Pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia
  • Pemanfaatan teknologi, untuk menambah kualitas sistem belajar mengajar

D: Ada ga sih harapan dari Educa Studio mengenai sistem pendidikan di Indonesia untuk ke depannya?

AT: Harapan saya, tercipta sebuah model yang pasti di mana model tersebut dapat menjadi garis besar pendidikan Indonesia ini mau dibawa ke mana? Sistem Pendidikan merupakan hal yang krusial, di mana kita mempertaruhkan masa depan bangsa di masa yang akan datang. Jika sudah ada garis besar dan tujuan yang jelas, maka kolaborasi akan bisa berjalan lebih baik. Yang menjalani (baik pengajar maupun pelajar) juga pasti akan merasa lebih nyaman dan mendapatkan hasil yang lebih baik dari tujuan tersebut.

Marbel
Marbel atau Mari Belajar, salah satu lini dengan produk terbanyak

D: Kalau harapan personal untuk Educa Studio apa?

AT: Ketika awal mendidikan Educa Studio, saya punya mimpi besar Educa Studio ini bisa menjadi wadah bagi:

  • Pengajar sesuai dengan bidang masing-masing: berperan sebagai pembuat konten
  • Developer sesuai dengan bidangnya: berperan sebagai pembuatan aplikasi
  • End user: sebagai pengguna akhir dari hasil produksi
  • Pemerintah: sebagai penyedia regulasi
  • Industri: sebagai pendukung untuk mempercepat siklus dan komunikasi antar entitas di dalamnya

Melalui Educa Studio, nantinya saya berharap akan tercipta ekosistem proses belajar mengajar yang lebih baik, lebih efisien, lebih menarik dan lebih murah.

D: Terima kasih atas waktunya, sukses terus untuk Educa Studio!

AT: Terima kasih juga!


SHARE
Previous articleForza Motorsport 6 Dikonfirmasikan, Siap Dirilis Bareng Mobil Mewah!
Next articleIni Dia Penampilan Terbaru Tokoh Naruto Live Action!
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.