Inilah Kenapa Trilogi The Hobbit Lebih Buruk Dibanding The Lord of the Rings

lotrvshob2

Seorang mahasiswa Dublin Business School Film Society, Sean Hickey, membuat esai video yang menjabarkan dengan sangat cemerlang semua alasan mengapa trilogi The Hobbit adalah malapetaka bila dibandingkan dengan pendahulunya, trilogi The Lord of the Rings.

Video ini bukan hanya sekedar keluh-kesah. Buktinya: Sean hampir tidak menyebut fakta bahwa Peter Jackson memaksakan cerita buku anak-anak menjadi tiga film! Lewat video ini, Sean banyak mengupas perbandingan langsung antara dua trilogi dan menunjukkan mengapa trilogi The Lord of the Rings jauh lebih unggul dalam segala hal, khusus ketika datang ke cerita dasar. [baca: Hanya di Middle-earth: Shadow of Mordor, Kalian Bisa Ketemu Dengan Sang Penempa Cincin]

Silakan disimak:

Inilah Kenapa Trilogi The Hobbit Lebih Buruk Dibanding The Lord of the Rings

Kenapa prekuel selalu lebih buruk?

Abaikan

Trilogi The Hobbit bukan kumpulan film buruk. Tapi memang jika dibandingkan dengan trilogi The Lords of the Rings, harus kita akui The Hobbit punya banyak kelemahan. Hal yang sama juga terjadi pada Star Wars. Kita tahu bahwa Star Wars Episode IV-VI jauh lebih solid dibanding Star Wars Episode I-III. [baca: Membedah Tuntas Teaser Perdana Star Wars: The Force Awakens!]

lotrvshob3

Mengingat kisah Star Wars kini dilanjutkan oleh Disney lewat trilogi baru, saya berharap kisah Middle Earth (The Hobbit/The Lords of the Rings) juga mendapat perlakuan yang sama. Masih ada The Silmarillion, yang bisa dibedah menjadi 10 film! Atau 20, jika Peter Jackson kembali dipercaya menjadi sutradara.

Baca juga: Shared Universe Akan Dominasi Industri Film Hollywood

lotrvshob4

Sebagai penutup, kita nikmati lagu di bawah, yang tentunya akan membuat kita semakin kangen dengan kisah epik Middle Earth.

Inilah Kenapa Trilogi The Hobbit Lebih Buruk Dibanding The Lord of the Rings

Kenapa prekuel selalu lebih buruk?

Abaikan


SHARE
Previous articleTongsis, Dari Tidak Berguna, Hingga Semua Punya
Next articleXenoblade Chronicles X Perlihatkan Keadaan Manusia Jika Pindah ke Planet Asing
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.