Review Cinderella: Kisah Klasik Yang Menghibur dengan Sedikit Sentuhan Magis

Cinderella-2015

Kisah klasik Cinderella, meskipun tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru dan berarti, tetapi film ini berhasil menghibur penonton.

Awalnya, saya sempat skeptis dengan film Cinderella. Saya merasa kalau film ini akan biasa-biasa saja. Saya juga sempat mengira bahwa hype dan banyaknya orang yang melihat Cinderella karena film ini menanyangkan animasi pendek Frozen Fever sebelum filmnya diputar. Akan tetapi, setelah melihat filmnya sendiri, saya jadi tahu kenapa Cinderella begitu hype.

Frozen Fever, Begini Jadinya Ketika “Putri Salju” Terserang Flu

KIsah ajaib Frozen belum selesai. Dengan ditambah karakter baru Frozen Fever siap menghibur!
Baca Juga

The Story

Warning: May Contain Spoilers – Lewati Bagian Ini Jika Tidak Ingin Terkena Spoiler

cinderella on the horse

Cinderella mengisahkan sebuah kisah tentang seorang remaja perempuan Ella (Lily James) yang awalnya hidup bahagia bersama Ibu (Hayley Atwell) dan Ayah-nya (Ben Chaplin). Semua kebahagian tersebut tiba-tiba musnah begitu saja ketika Ibu-nya tiba-tiba meninggal karena suatu penyakit tertentu. Ayah-nya yang berusaha untuk move on, akhirnya menikah lagi dengan seorang janda, Lady Tremaine (Cate Blanchett), dan kedua putri-nya: Drizella (Sophie McShera) dan Anastasia (Holliday Grainger).

Awalnya semua terlihat (lumayan) normal, hingga akhirnya Ayah Ella meninggal selama perjalanan. Dengan alasan untuk menghemat biaya hidup, Lady Tremaine mulai memecat semua pembantu yang ada dan menyuruh Ella mengurusi seluruh kegiatan rumah tangga. Ella pun menjadi seorang pesuruh. Tidak ingin meninggalkan rumahnya yang merupakan sisa kenangan dirinya dengan Ayah dan Ibu kandungnya, Ella berusaha untuk tetap tegar. Sampai suatu ketika, dia bertemu dengan seorang pangeran bernama Kit (Richard Madden) dan memimpikan sesuatu yang besar –dengan sedikit bantuan dari ibu peri (Helena Bonham Carter).

The Review

cinderella-2015-lily-james
Lily James sebagai Ella

Lily James berperan sebagai Ella dengan cukup bagus. Meskipun penampilannya tidak bisa dibilang spesial, tetapi dia berhasil menjadi tokoh yang disukai dalam film. Tokoh Ella disini terlihat cukup meyakinkan –terutama ketika Ella berinteraksi dengan hewan-hewan CGI, Pangeran Kit dan tokoh-tokoh lainnya. Selain itu, Ella sendiri disini digambarkan dengan cukup bagus. Tidak seperti kisah klasik dimana sang tokoh hanya bisa pasrah di-bully, ada saat-saat dimana Ella akan berontak, dalam artian Ella berani melawan balik sang Ibu Tiri –walaupun maksimal hanya membantah ucapannya. Dialog yang dia ucapkan kepada sang Ibu Tiri dipenghujung film cukup mengena, bagus dan memorable.

Sandra Dewi, Cinderella Asal Indonesia!

Indonesia jadi satu-satunya negara yang punya duta film Cinderella!
Baca Juga
Cinderella-2015-Movie-Sophie-McShera-Cate-Blanchett-Holliday-Grainger
Lady Tremaine (Cate Blanchett), dan kedua putri-nya: Drizella (Sophie McShera) dan Anastasia (Holliday Grainger)

Sebagai seorang bintang terkenal, Cate Blanchett berperan dengan baik sebagai Lady Tremaine. Semua tingkah lakunya dan tindakan-tindakannya sebagai seorang tokoh antagonis terlihat begitu elegan. Pendek kata, bisa dibilang tokoh ini jahat tapi likeable –semuanya berkat penampilan Cate Blanchett. Sophie McShera dan Holliday Grainger yang memerankan saudara tiri Ella juga berperan dengan baik dan mampu mengeksekusi humor-humor ringan dengan baik –bahkan ada beberapa bagian yang bisa membuat kita tertawa lepas.

cinderella Bonham Carter
Bellatrix Lestrange, is that you?

Ibu Peri dalam Cinderella digambarkan sebagai sosok yang unik. Tokoh ini memiliki peran yang sama seperti kedua saudara tiri Ella: sebagai penghibur dalam film dengan tingkah lakunya yang lucu. Lucunya lagi, entah kenapa saya melihat tingkah laku Ibu Peri ini mirip Bellatrix Lestrange. Mungkinkah karena keduanya sama-sama diperankan oleh Helena Bonham Carter? Haha.

Lilly-Thomas-and-Richard-Madden-in-Cinderella
Richard Madden sebagai Princess ‘Kit’ Charming

Richard Madden yang berperan sebagai Pangeran Kit juga bisa dibilang membawakan tokohnya tersebut dengan baik. Tidak ada yang benar-benar spesial dari pembawaannya, tetapi kurasa dia mampu membuat penonton perempuan jatuh hati padanya –sebagaimana Ella.

Selain para pemain, sang sutradara Kenneth Branagh juga patut diacungi jempol. Dia mampu mengarahkan Cinderella dengan baik. Pembangunan ceritanya semenjak awal bagus, tetapi sayang berubah menjadi membosankan begitu memasuki pertengahan film. Cinderella tampak terlihat putus asa untuk menambahkan sesuatu yang baru ke dalam ceritanya. Beberapa konflik baru memang ditambahkan ke dalam cerita tetapi konflik-konflik tersebut tidak begitu berarti dan berakhir begitu saja.

Hal ini mungkin saja karena Branagh tidak ingin membuat film ini menjadi terlalu rumit sehingga membingungkan penonton yang kebanyakan juga masih anak-anak. Ataukah mungkin ingin membawa konflik-konflik tersebut menuju sekuel? Yah, siapa yang tahu.

Cinderella-2015-offical-stills-cinderella-37816256-5760-3840
Jahat, tapi kurang greget

Selain konflik, ada beberapa hal yang cukup disayangkan. Perlakuan jahat keluarga tiri Ella kurang greget –tetapi mungkin masih bisa dimaafkan karena Cinderella ditujukan sebagai film keluarga. Adegan-adegan sedihnya secara keseluruhan kurang begitu mengena kepada penonton. Dari sekian banyaknya adegan sedih, mungkin hanya adegan perpisahan Ella dan Ibunya yang meninggal yang terlihat sedih.

Bagian terbaik dari film ini menurut saya ada dua: penggambaran sosok orang tua kandung dan juga pesan moral yang ingin disampaikan. Sosok orang tua kandung disini terasa begitu hangat, mendukung dan menyangi anaknya dengan penuh kasih sayang. Pesan moral yang disampaikan: “Be Kind. Be Courageous” atau dalam bahasa Indonesia: “baik hatilah dan miliki keberanian” secara sukses tersampaikan kepada penonton sepanjang film.

Kesimpulan

CINDERELLA

Sejatinya, cerita dari Cinderella sendiri tidak banyak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Mungkin sesuatu yang baru salah satunya adalah origin dari nama Cinderella itu. Nama ini diberikan oleh keluarga tirinya karena tubuh Ella yang kotor terkena abu (Cinder) selama menjadi pesuruh. Ceritanya sederhana, tetapi kesederhanaan cerita itu menjadi nilai plus tersendiri bagi filmini.

Cinderella memang memiliki kekurangan, tetapi film ini secara keseluruhan cukup menghibur penonton. Jika ingin memberikan nilai, maka saya akan beri nilai 8/10 untuk Cinderella.

Cinderella kini tengah tayang dibioskop-bioskop Indonesia. Sudahkah kamu menontonnya?


SHARE
Previous articleKnights of Valour, Game Online Baru Berbasis Romance of the Three Kingdoms
Next articleReview Run All Night: Dosa Liam Neeson Sang Pembunuh Bayaran
Veteran game survival-horror terutama game seri Resident Evil dan Dead Space. Menurutnya, game survival-horror adalah obat terbaik dalam menangani stress (karena ketakutan, jadi lupa sama stress-nya). Selain memainkan game, dia juga gemar mengikuti anime, manga, comic, film dan novel. Saat ini sibuk menulis banyak judul light novel di Wattpad, light novel-nya yang berjudul The Alternative sudah dicetak.