Begini Jadinya Jika Para Developer Bikin Desain Game “Usil”!

desain game

Kamu merasa desain game dari game-game free to play terlalu “kejam” dan pay to win? Apa yang dilakukan oleh tiga developer “usil” ini lebih kejam lagi! Ini dia salah satu sesi paling legendaris dalam sejarah Casual Connect!

Satu materi “legendaris” ikut memeriahkan hari pertama penyelenggaraan Casual Connect Asia 2015 kemarin. Berjudul Evil Game Design Challenge, sesi ini menghadirkan beberapa desainer game papan atas untuk ditantang mengubah desain game agar game tersebut bisa mengeruk keuntungan yang lebih banyak dari game free to play, bagaimanapun caranya dan apapun reaksi dari para pemainnya.

Casual Connect Asia 2015, Mengintip Miniatur dan Perkembangan Industri Game Kasual

Ini adalah tahun ketiga Duniaku mengikuti Casual Connect Asia. Bagaimana suasana di hari pertama dari Casual Connect Asia 2015 ini? Simak liputannya!
Baca Juga

Panel ini diisi oleh Matt Hall (co-founder dari Hipster Whale), Gabby Dizon (CEO dari Altitude Games) dan Nikki Assavathorn (CEO dari Infinity Levels Studio). Ketiga CEO studio game ini ditantang oleh sang moderator, Teut Weidemann untuk mengubah desain game, utamanya monetisasi dari Angry Birds agar lebih menarik dan mengeruk keuntungan yang lebih banyak lagi. Mungkin ada sebagian dari kamu yang menganggap monetisasi dari game free to play cukup “kejam”? Ketiga desainer game “usil” dengan ini membuatnya lebih kejam lagi!

Gabby Dizon - desain game
Gabby Dizon

Contohnya ada Gabby yang mengusulkan agar Angry Birds ada tambahan fitur “add a birds” yang bisa dibeli oleh pemain. Fitur ini ditawarkan kepada pemain saat pemain tersebut gagal dalam sebuah level. Dengan gameplay Angry Birds yang sedikit mengandalkan keberuntungan, tentu hal ini bisa memicu pemain untuk menggunakan fitur tersebut, membeli burung dengan harga sekian sebagai in app purchase dan melanjutkan level yang gagal tersebut. Jika fitur ini benar-benar diimplementasikan, kira-kira kamu lebih baik mengulang level, atau membeli burung tambahan untuk menyelesaikan level tersebut? Hehe..

Matt Hall - desain game
Matt Hall

Beda lagi dengan Matt Hall, yang memberikan usul agar lebih menonjolkan seri utama dari Angry Birds tersebut. Ya, meskipun sudah banyak spin off, user sebaiknya harus tetap “diingatkan” dengan Angry Birds original, dan seharusnya versi original ini harus yang paling bagus diantara semua seri yang dirilis. Salah satu caranya adalah dengan memberitahukan user mengenai update baru Angry Birds original jika user tersebut men-download dan memainkan spin off-nya. Lalu bisa juga dengan membuat sebuah akun khusus yang terintegrasi (Angry Birds Account), sehingga user bisa terus memantau progress game-game Angry Birds yang sudah dia mainkan.

Nikki Assavathorn - desain game
Nikki Assavathorn

Tips Membuat Press Release agar Game-mu Diulas di Media Internasional!

Game sudah jadi, maka saatnya kamu mengenalkannya kepada dunia. Simak tips membuat press release berikut agar game-mu diulas di media internasional!
Baca Juga

Desain yang paling kompleks dimiliki oleh Nikki, dimana dia ingin membuat Angry Birds ini lebih memiliki elemen RPG, dimana masing-masing burung memiliki status yang bisa di-upgrade dan memonetisasi upgrade tersebut. Selain itu, penting juga untuk menambahkan elemen kompetisi di dalam game seperti PvP dengan level yang bisa dibuat sendiri oleh pemain. Selain itu perlu juga dibuatkan sebuah liga antar pemain, dimana elemen-elemen kompetisi ini bisa membuat pemain untuk mengeluarkan uang lebih banyak. Kamu tentu tidak ingin kalah hebat dibandingkan temanmu gara-gara dia meng-upgrade lebih banyak bukan?

Di akhir sesi, audiens diminta untuk memberikan penilaian mengenai desain mana yang paling disuka. Dan mayoritas audiens rupanya memilih Angry Birds dengan elemen RPG dan kompetisi milik Nikki sebagai favoritnya. Mungkin Rovio tertarik untuk mengimplementasikan ide Nikki ini suatu saat nanti?


SHARE
Previous articleStreet Fighter V Belum Lengkap Tanpa Karakter Psycho yang Satu Ini!
Next articleSTARMARIE Sukses Meledak di Indonesia!
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.