Puluhan Game Keren Ramaikan Indie Prize Showcase Casual Connect Asia 2015!

indie prize showcase
Dengan status sebagai salah satu negara denga jumlah “kontingen” terbanyak, developer Indonesia menjadikan Indie Prize Showcase ini sebagai ajang untuk unjuk gigi karya mereka.

Lewat An Octave Higher, Kidalang Berhasil Sabet Gelar dalam Indie Prize Casual Connect Asia 2015!

Kidalang, developer asal Bandung berhasil meraih satu gelar dalam ajang developer indie prestisius di Asia, Indie Prize Casual Connect Asia 2015. Selamat!
Baca Juga

Satu bagian acara yang tidak pernah absen dalam perhelatan Casual Connect adalah Indie Prize Showcase, tak terkecuali dalam Casual Connect Asia 2015 ini. Total ada sekitar 200 game yang mendaftarkan diri, yang harus diseleksi lagi hingga hanya ada 86 game saja yang berhak mendapatkan meja showcase dalam Casual Connect Asia 2015 yang sudah berakhir kemarin, 21 Mei 2015. Dari 86 game yang mengikuti showcase tersebut, juri akhirnya memilih beberapa diantaranya sebagai pemenang untuk masing-masing kategori, dimana Indonesia mendapatkan satu gelar Best Game Narrative lewat An Octave Higher dari Kidalang.

indie prize showcase

Ada banyak perbedaan mengenai penyelenggaraan Indie Prize Showcase tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pertama dari segi voting pengunjung untuk mendapatkan pemenang dari Best in Show: Audience Choice. Jika di tahun-tahun sebelumnya, pengunjung bebas memberikan voting dengan menempelkan stiker voting langsung di papan nama masing-masing game, maka kali ini sistemnya diganti dengan balot yang dikumpulkan dalam satu kotak. Jadinya, pengunjung tidak bisa mengetahui game mana yang sudah mendapatkan banyak voting, dan mana yang belum. Plus, jadinya kurang transparan juga sih…

indie prize showcase
Jarak yang telalu sempit ini nih yang bikin susah nyobain game..

Casual Connect Asia 2015, Mengintip Miniatur dan Perkembangan Industri Game Kasual

Ini adalah tahun ketiga Duniaku mengikuti Casual Connect Asia. Bagaimana suasana di hari pertama dari Casual Connect Asia 2015 ini? Simak liputannya!
Baca Juga

Kedua dari meja showcase-nya sendiri. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, meja showcase dalam Indie Prize Showcase kali ini lebih sempit dan terkesan “sumpek”. Penataannya pun penulis rasa kurang membuat nyaman pengunjung yang ingin mencicipi ataupun developer yang mendudukinya, karena jarak antar baris meja kurang lebar. Jadinya, pengunjung terkadang kesulitan untuk mencicipi game yang ada di bagian tengah. Memang sih, tampak peserta Indie Prize Showcase tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Bahkan menurut bocoran panitia, mereka sampai banyak menolak submission di hari terakhir karena meja sudah habis. Namun penulis rasa jarak antar baris meja ini bisa lebih diperluas lagi mengingat spot di sekitar area Indie Prize Showcase masih cukup luas.

indie prize showcase

Ketiga dari sisi penjurian. Penulis sempat mengamati beberapa kali area Indie Prize di hari pertama, kedua dan ketiga, hasilnya tidak ada satu pun juri yang datang berkeliling untuk mencoba game-game yang dilombakan. Pun ketika bertanya kepada beberapa orang developer Indonesia yang ikut serta, mereka mengaku tidak melihat juri yang datang ke meja mereka, membawa alat tulis dan melakukan penjurian. Hal ini membedakannya dengan tahun lalu, dimana para juri terjun langsung ke masing-masing meja untuk melakukan penilaian. Tentu tidak mudah untuk memilih game-game mana yang berhasil mendapatkan gelar. Hal ini diungkapkan Yuliya Moshkaryova, organizer dari Indie Prize ini saat malam penghargaan di Shanghai Dolly, Clarke Quay di hari kedua Casual Connect Asia 2015. “It’s not only about the games. It is about the game designers, artists and audio directors, managers, and software developers,” ungkapnya kala itu.

indie prize showcase

Bagaimana dengan kiprah developer Indonesia sendiri dalam Indie Prize Showcase ini? Lanjut ke halaman selanjutnya.

1
2

SHARE
Previous articleVisual Utama Tokyo Game Show 2015 Gambarkan Kebebasan Nge-game!
Next articleBatman Arkham Knight, Detail Terbaru Aksi Terbaik Dark Knight Gotham!
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.