Review Parasyte Part 2: Penutup yang Bagus Untuk Duologi Ini

Review Parasyte Part 2 - C

Selang satu tahun setelah Parasyte Part 1 rilis, lanjutannya sudah bisa dinikmati di Indonesia. Simak saja review Parasyte Part 2 ini untuk mengetahui apakah film ini layak untuk ditonton!

Review Jurassic World: Keren dan Mencekam!

Sequel terbaru dari Jurassic Park ini akhirnya beredar di Indonesia! Bagaimana kualitasnya? Simak saja review Jurassic World berikut untuk jawabannya!
Baca Juga

Jujur, Parasyte Part 1 terasa agak mengecewakan. Ini terutama karena paruh awalnya yang, menurut penulis pribadi, terkesan terlalu penuh dan padat akibat meringkas terlalu banyak bagian manga/anime-nya. Padahal aksinya sendiri oke, body horror yang disajikan keren mengingat film ini tak memiliki dana sebesar film Hollywood, dan paruh terakhirnya lebih bisa dinikmati.

Mungkin karena bagian yang harus diadaptasi di Parasyte Part 2 ini lebih sedikit ketimbang Part 1, terasa kalau filmnya sendiri lebih enak untuk diikuti. Tapi ada peluang kalau kamu-kamu yang suka Part 1 mungkin tidak akan terlalu menyukai Part 2. Unsur fun yang terasa di beberapa bagian Part 1 terasa berkurang di lanjutannya ini, karena keseluruhan ceritanya terasa lebih kelam dari awal hingga akhir walau sutradara film masih berhasil memasukkan satu-dua humor di dalam ceritanya.

Parasyte_Pt_2-p02

Filmnya juga lumayan menitikberatkan pada studi karakter, dan efek kejadian di Part 1 kepada watak dan pribadi mereka. Untungnya, setidaknya bagi penulis, studi karakter ini disajikan dengan cukup memikat. Eri Fukatsu sebagai Ryoko Tamiya, terutama, berhasil menyajikan perkembangan sifat karakternya dengan menyentuh. Cukup luar biasa, mengingat karakternya lebih sering tampil sebagai sosok tanpa emosi di layar. Tak heran kalau dia didaulat sebagai salah satu poin positif dalam review Parasyte Part 2 ini.

Sedangkan dua karakter utamanya, Shota Sometani sebagai Shinichi Izumi dan Ai Hasimoto sebagai Satomi Murano, mampu menyajikan karakter mereka dengan… tidak buruk. Hanya saja karakter mereka, Murano terutama, terasa lebih whiny ketimbang di versi manga.

Untuk kamu-kamu yang sudah membaca manga Parasyte hingga tamat, sebenarnya tak terlalu banyak kejutan berarti yang bisa kamu temukan di sini. Meski ada karakter yang tidak terlalu disorot, atau dihilangkan sekalian, dan ada perubahan latar adegan, garis besar kejadian-kejadian utamanya masih cukup setia dengan yang disajikan di manga. Tidak sepenuhnya jelek tentu. Setidaknya ini bisa memuaskan fans yang menginginkan adaptasi setia dari manga ke live action.

Salah satu kekurangan yang ditemukan dari film ini adalah bagian penutupnya, yang terasa dipanjang-panjangkan. Lucunya, pembaca manganya mungkin paham bagian yang penulis maksud karena adegan ini juga disajikan dengan setia dari manganya. Bahkan bagi penulis pribadi bagian ini di manga terasa seperti bab yang sekedar dimasukkan untuk mengakhiri plot yang menggantung, dan kesempatan tambahan untuk memasukkan pesan moral dan pendapat tentang manusia. Hal itu lebih terasa lagi di filmnya.

Selain itu… teks Indonesia yang disajikan Blitz masih bermasalah. Tidak separah Naruto: The Last, yang sampai benar-benar sulit dinikmati. Namun kamu masih bisa menemukan beberapa terjemahan yang terlalu literal, atau salah konteks. Padahal teks Inggrisnya, yang jadi acuan penerjemah, masih ada menyertai teks Indonesianya. Semoga ke depannya masalah ini diperbaiki. Akan konyol kalau setiap film Jepang yang dirilis Blitz memiliki kelemahan seperti ini. Biarlah ini menjadi salah satu poin negatif di review Parasyte Part 2, dan tidak sampai mengganggu film seperti Attack on Titan yang katanya akan dirilis.

Sekian review Parasyte Part 2. Kalau kamu tertarik, lebih baik cepat-cepat mengunjungi Blitz Megaplex agar tidak melewatkan film ini!

Review Parasyte Part 2: Penutup yang Bagus Untuk Duologi Ini

Simak review Parasyte Part 2 ini untuk mengetahui apakah film ini mampu menyajikan penutup yang bagus untuk adaptasi live action Parasyte!

Abaikan

 

REVIEW OVERVIEW
Skor Film
80 %

SHARE
Previous articleFase CBT BlackSquad Online Indonesia Dimulai! Mainkan dan Rebut Hadiahnya!
Next articleBattle of Surabaya Dilirik Oleh Disney?
Novelis yang telah menulis cerpen Apollyon di Fantasy Fiesta 2010, Selamanya Bersamamu di Fantasy Fiesta 2011, serta novel Hailstorm dan Redfang untuk seri Vandaria Saga. Menyukai dunia video game, literatur, komik, dan tabletop game. Berharap suatu saat nanti bisa menguasai dunia lewat karya-karyanya.