RPP E-Commerce Bakal Habisi Toko Online Indonesia?!

RPP-e-ecommerce

Apakah kamu doyan melakukan transaksi online? Entah itu berjualan atau berbelanja di forum atau toko online? Nah, siap-siaplah untuk direpotkan dengan prosedur yang saat ini sedang digodok dalam Rancangan Peraturan Pemerintah atau RPP E-commerce.

Rancangan undang-undang apa lagi nih? Sebetulnya rancangan ini bertujuan sangat baik, yaitu untuk melindungi pihak penjual dan konsumen. Namun sayangnya ada sejumlah kerancuan yang ditemukan dalam pasal-pasalnya, serta dikhawatirkan bisa mengurangi kenyamanan para pelaku transaksi.

Kerancuan Pasal RPP E-commerce

Contohnya adalah pasal 18 dan 19 dalam rancangan undang-undang ini. Disebutkan dalam pasal 18 bahwa setiap pelaku usaha diwajibkan mempunyai tanda khusus yang disahkan oleh kementerian melalui sistem elektronik. Termasuk juga dengan perijinan khusus perdagangan, yang artinya kalau ingin berjualan di forum Kaskus, Tokopedia, OLX, atau situs-situs e-commerce lain, kamu harus punya semacam surat ijinnya. Nah, tanda khusus tersebut membutuhkan legalitas dari kepemilikan KTP dan NPWP. Tak hanya penjual, bahkan pihak pembeli pun dibebani tanggung jawab sama!

Akibat rancangan peraturan yang kesannya sangat ribet tersebut, maka ancaman yang lebih besar pun mengintai dunia e-commerce lokal. Daripada menggunakan e-commerce yang harus mematuhi prosedur khusus dari peraturan perundangan tersebut, tentu saja lebih baik memilih e-commerce luar seperti eBay, Amazon, atau AliExpress. Toh, banyak juga situs-situs e-commerce dari negara-negara tetangga terdekat yang tak menuntut persyaratan rumit. Atau justru jualan saja di Facebook, Instagram, via grup BBM, dsb.

Media Sosial Bakal Gantikan Toko Online?

Bertambah Satu Pilihan Online Shopping, eBay Akan Segera Membuka Tokonya di Indonesia

Setahun lalu salah satu BUMN Indonesia, Telkom memang diketahui sedang memulai kerjasama dengan eBay untuk menyiapkan toko online eBay cabang Indonesia. Tampaknya kini rencana tersebut akan segera terwujud, karena eBay Indonesia akan dirilis dalam dua bulan ke depan.
Baca Juga

Rancangan undang-undang e-commerce yang sedang ramai dibahas ini juga memunculkan prediksi perihal kebangkitan media sosial sebagai sarana transaksi online. Di awal kemunculan media sosial seperti Facebook, sejumlah pihak dengan lihainya mengincar peluang pemasaran dari jejaring tersebut. Lama kelamaan, peminatnya mulai berkembang pesat diikuti dengan munculnya sejumlah media sosial baru.

Kebanyakan pengguna media sosial menyadari bahwa aktivitas jual beli yang dilangsungkan di media sosial kurang optimal. Apalagi ada sebagian pihak yang merasa tidak nyaman jika media tersebut dimanfaatkan sebagai sarana jual beli. Namun seiring dengan pengembangan konsep yang dilakukan oleh media sosial, banyak fitur yang sebenarnya bisa langsung dimanfaatkan untuk memenuhi tujuan bisnis. Contohnya adalah penggunaan grup tertutup atau fanpage di Facebook. Jadi, bisa dikatakan bahwa pemakaian media sosial, khususnya Facebook dengan situs e-commerce sebetulnya hampir tak ada bedanya.

Tapi kebanyakan pelaku bisnis di internet lebih memilih situs e-commerce karena layanannya pada dasarnya dikhususkan untuk kebutuhan transaksi. Anggota yang tergabung di sana pun sudah memiliki kesamaan visi dan tujuan perihal apa yang ingin mereka lakukan di sana. Namun RPP E-Commerce yang sedang digodok oleh pemerintah ini seolah akan menjadi bumerang bagi masa depan bisnis online ini.

Saat pemakaian situs e-commerce sedang marak-maraknya, justru muncul wacana tentang rencana pemberlakuan aturan yang lebih ketat. Di satu sisi, tujuannya memang nampak bagus karena ingin melindungi setiap pelaku bisnis online. Sayangnya, ada aturan atau regulasi dalam ranah maya di negara kita masih kurang kuat dan belum disadari sepenuhnya oleh sebagian besar masyarakat.

Kalau ingin berjualan atau membeli saja harus memenuhi sejumlah persyaratan yang agak merepotkan, tentu lebih banyak orang yang akhirnya kembali menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, Path, dan sebagainya sebagai sarana jual beli online mereka. Sangat tidak berlebihan jika RPP ini justru bisa membunuh toko online di Indonesia.

idea

 

Berdamai dengan idEA

Kronologi Beli iPhone Dapat Sabun, Apes atau Memang Disengaja?

Kasus beli iphone dapat sabun ramai diperbincangkan netizen beberapa hari terakhir. Benarkah ini merupakan usaha black campaign, atau sekedar apes?
Baca Juga

Kabar gembira datang dari idEA, Asosiasi E-commerce Indonesia, yang mengumumkan bahwa Menteri Perdagangan akhirnya setuju untuk melibatkan asosiasi e-commerce ini dalam penyusunan RPP E-commerce. Sebelumnya idEA mengadakan konferensi pers pada tanggal 1 Juli untuk menyampaikan pandangan resmi mereka terkait draft RPP E-commerce yang dinilai tidak transparan, karena tidak melibatkan pelaku industri e-commerce.

Selain dilibatkan dalam penyusunan RPP, idEA kemungkinan juga akan turut andil dalam proses akreditasi pelaku usaha e-commerce di Indonesia. Proses akreditasi ini diharapkan bisa menjadi upaya melindungi konsumen dan meminimalisir penipuan online yang marak terjadi belakangan ini.

Nah, terkait dengan rancangan undang-undang tersebut, apakah kamu betul-betul siap untuk menaati setiap aturan yang akan diberlakukan nanti?


SHARE
Previous articleProduct Manager PB Garena: “Kami FOKUS Berantas Cheat!”
Next articleBoci, Teman Belajar Anak-anak yang Asyik!
Ari aka Hawke Zigma memiliki segudang pengalaman dalam jurnalis game. Hawke populer sebagai anak didik langsung dari GrandC. Dia banyak membantu GrandC dalam menulis, meliput event berita, bahkan konsep. Nama Hawke cukup populer dalam dunia game underground karena dia juga pernah menggawangi langsung salah satu jaringan toko game di Surabaya, yakni GameQuarters.