Review Film Attack on Titan – Lumayan, Meskipun Banyak Perbedaan dari Manganya

Review Film Attack on Titan - ErenSetelah sempat diundur, akhirnya film live-action Attack on Titan tayang juga di Indonesia. Fans mungkin penasaran dengan kualitas film ini, mengingat beberapa reviewer Jepang dan Barat memberinya kritik keras. Lalu bagaimana tanggapan Duniaku? Ya, silakan baca saja review film Attack on Titan ini!

Plot film Attack on Titan pasti sudah familier buat fans manganya. Eren, Mikasa, dan Armin adalah teman sejak kecil yang tumbuh di dalam perlindungan dinding besar. Setelah perdamaian panjang, tiba-tiba saja dinding yang melindungi distrik mereka runtuh dan para titan pun menyerbu masuk. Dikompori oleh kebenciannya terhadap titan, Eren pun bertekad untuk menumpas mereka.

Review Film Attack on Titan - 002Ada banyak perubahan dari versi anime dan manganya, mulai dari nama karakter, lokasi, hingga latar waktu. Meski begitu, selama kamu tidak terlalu ingin adaptasi kaku dari material dasarnya, film ini sebenarnya tidak terlalu buruk.

Salah satu kekuatan utama film Attack on Titan ini justru visualnya. Memang, tim produksi film ini tak bisa menyajikan pemandangan ala Eropa dari manganya. Namun latar post apocalypse yang disajikan di sini cukup memukau dan memuaskan.

Post apocalypse? Ya, seperti yang terlihat di trailer, visual latar tempat film Attack on Titan ini memang sangat post apocalypse, mulai dari pakaian kotor para karakternya, makanan seadanya, serta kondisi hidup para penduduk sipil. Reruntuhan yang tersaji di luar dinding bahkan mengingatkan kepada game seperti Last of Us… dengan titan menggantikan zombie jamur.

Selain latar, penampilan titan-titannya juga cukup oke. Seperti manganya, penampilan mereka yang seperti eksibisionis raksasa mungkin terasa lucu. Tapi mereka tetap bisa memberikan kengerian saat mereka mulai melahap mangsa.

Review Attack on Titan - 004Untuk plot, meski banyak modifikasi di sana-sini, film ini kira-kira merangkum kisah dari masa lalu Eren hingga kebangkitan Rogue Titan.

Review Film Attack on Titan - 001

Naruto Versi Hollywood akan Dikerjakan oleh Lionsgate

Moga-moga sih nggak akan sejelek Dragonball Evolution
Baca Juga

Namun tetap ada perubahan signifikan, mulai dari peran para karakternya hingga alasan mobilisasi Survey Corps. Pendekatan rangkuman ini juga sayangnya memotong beberapa hal yang bisa membantu membangun karakter, seperti peran ibu Eren (yang digantikan oleh karakter lain, dengan sangat mengejutkan) hingga tidak diperlihatkannya pelatihan Trainee Corps ke 104.

Karakter di film Attack on Titan ini sebenarnya banyak yang menarik. Tapi pembangunan karakter yang tidak terlalu banyak membuat penulis merasa kurang terikat dengan karakter-karakter yang tersaji di film ini. Salah satu karakter utama, Armin, malah kurang ditonjolkan kelebihannya hingga keberadaannya benar-benar terkubur oleh karakter seperti Hans, Souda, bahkan Sasha dan Jean.

Pentingkah? Tentu saja. Manga seperti Attack on Titan dan Terra Formars biasanya membangun karakter menarik, hingga pembaca merasa tegang dan sakit saat mereka mati. Minimnya pembangunan karakter membuat penulis hanya bisa peduli pada satu-dua karakter saja hingga film berakhir.

Review Film Attack on Titan - 003

Game Attack on Titan Paling Keren Nih! Kendalikan Eren Layaknya Nonton Anime!

Pernah membayangkan karena greget kalian berharap bisa mengendalikan Eren, Mikasa atau Levi untuk menghabisi Titan selama nonton anime Attack on Titan? Kini hal itu bisa dilakukan melalui game ini!
Baca Juga

Dan entah bagaimana karakter yang paling mendapat porsi pembangunan karakter, Eren, justru tampil lebih menyebalkan di komik dari awal hingga akhir. Sebuah prestasi yang sangat “luar biasa.”

Selain itu, entah apa yang dipikirkan oleh sutradara Shinji Higuchi saat dia memasukkan satu adegan mesra yang sangat random di tengah film. Sejak awal, adegan semacam ini juga bisa membuat kening berkerut mengingat betapa minimnya fan service di manga dan anime Attack on Titan. Tapi penempatannya dan apa yang terjadi kemudian membuat keseluruhan adegan ini lebih terasa kocak ketimbang seksi atau tragis.

Mengesampingkan kelemahan itu, Attack on Titan sebenarnya masih cukup oke. Kalau kamu tidak keberatan dengan tontonan berdarah atau deviasi dari manga/animenya, film ini mungkin masih bisa memuaskan kamu. Tapi, akhirnya yang menggantung bisa jadi akan mengecewakan, mengingat film ini memang dipersiapkan sebagai bagian pertama dari duologi. Mungkin akan dibuat review film Attack on Titan secara keseluruhan, menyambung bagian pertama ini dengan kedua, setelah sequelnya rilis nanti.

REVIEW OVERVIEW
Skor Film
65 %

SHARE
Previous articleTrailer Gundam: Iron-Blooded Orphans Dirilis!
Next articlePre Order Just Cause 3, Kamu Bisa Dapat Pulau Pribadi!
Novelis yang telah menulis cerpen Apollyon di Fantasy Fiesta 2010, Selamanya Bersamamu di Fantasy Fiesta 2011, serta novel Hailstorm dan Redfang untuk seri Vandaria Saga. Menyukai dunia video game, literatur, komik, dan tabletop game. Berharap suatu saat nanti bisa menguasai dunia lewat karya-karyanya.