Ternyata KPAI Tidak Paham dengan Sistem Rating Game Indonesia

sistem rating game indonesia

Belum juga disahkan, rancangan sistem rating game Indonesia sudah mendapatkan penolakan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang salah memahami esensi sistem ini.

Sistem Rating Game Indonesia Segera Diresmikan, Ini Rancangannya!

Rancangan Sistem Rating Game Indonesia Segera Diresmikan sudah dirampungkan oleh Kemenkominfo. Sebelum disahkan, kamu bisa memberikan komentar dan masukan!
Baca Juga

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia (Kemenkominfo) sudah merilis Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (RPM) tentang Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik atau yang mungkin kita kenal dengan Sistem Rating Game Indonesia. Karena sifatnya masih berupa rancangan, maka Kemenkominfo pun memberikan batas waktu hingga 30 Oktober 2015 kemarin bagi siapa saja yang ingin memberikan koreksi dan masukan mengenai rancangan ini, sebelum akhirnya benar-benar disahkan.

Sistem Rating Game Indonesia ini memang memiliki tujuan yang cukup penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai game-game apa yang cocok untuk dikonsumsi sesuai dengan usia penggunanya. Namun sayang, RPM ini sudah mendapatkan kritik yang cukup pedas dari pihak yang sepertinya masih tidak paham dengan esensi dari sistem ini, salah satunya adalah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dalam pernyataan resminya, KPAI mengkritisi RPM ini dan menyebutnya sebagai bentuk pelegalan terhadap perilaku kekerasan anak sejak usia dini.

Bahkan, KPAI sudah menyatakan bahwa mereka menolak keseluruhan isi RPM ini. Lho kok bisa?

sistem rating game indonesia susanto kpai
Susanto

“KPAI menyatakan sikap menolak keseluruhan isi RPM ini karena dapat mendorong perkembangan game bernuansa kekerasan yang berpotensi diimitasi oleh anak di dunia nyata,” ungkap Wakil Ketua KPAI, Susanto seperti dikutip dari Vivanews. Susanto juga menyebutkan bahwa RPM ini dinilai tidak memenuhi unsur-unsur dalam UU perlindungan anak, dan bertentangan dengan prinsip perlindungan anak dan revolusi mental.

Senada dengan Susanto, dalam pernyataan resminya, ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh mengungkapkan bahwa usia anak-anak adalah 0-18 tahun, dan tidak seharusnya diklasifikasikan menjadi beberapa bagian seperti yang tertuang dalam RPM tersebut. Sebagai informasi, dalam RPM tersebut usia anak-anak dipisah menjadi beberapa bagian, mulai dari 2-6 tahun, 7-12 tahun, 13-16 tahun, dan 17 tahun ke atas dimana masing-masing kategori ditentukan apa saja unsur yang boleh ditampilkan, dan apa yang tidak. “Bisa jadi tidak ada kekerasan, tetapi lucu-lucuan yang eksploitatif, seperti bias gender, sektarian, tentu ini tidak bisa dibenarkan,” tutur Asrorun.

RPM ini juga disebut Susanto sebagai bentuk larangan terhadap anak-anak untuk mendapat salah satu hak mereka, yaitu bermain. Justru, Susanto menyarankan bahwa Pemerintah seharusnya mengatur para penyedia permainan anak agar merilis game yang bermuatan edukasi. Pernyataan penolakan KPAI ini pun tertuang dalam surat resmi yang dikeluarkan bersama dengan Indonesia Children Online Protection (ID COP) seperti dikutip dari posting di Twitter berikut ini.

Game Online Dianggap Berbahaya, Bisakah Sistem Rating Game Indonesia Jadi Solusi?

Ada beberapa game online yang dianggap berbahaya oleh KPAI. Edukasi dengan menggunakan sistem rating game Indonesia diharapkan bisa menjadi solusinya.
Baca Juga

Membaca surat pernyataan ini, sepertinya KPAI tidak memahami betul apa yang dimaksud dengan sistem rating untuk game. Sistem rating bukan untuk melegalisasi kekerasan sejak usia dini (seperti yang tertuang dalam poin A surat pernyataan di atas), akan tetapi justru mengedukasi orang tua agar anak-anak mereka yang masih di bawah umur tidak memainkan game yang mengandung unsur kekerasan, yang seharusnya baru diperuntukkan bagi mereka yang sudah menginjak dewasa.

Sedangkan untuk poin C dan D, kita tidak bisa menahan “gempuran” game dari dunia luar yang jumlahnya mungkin ada ratusan setiap harinya, sama halnya dengan bentuk hiburan lain seperti film. Kadang ada game-game penuh muatan edukasi yang masuk, kadang pula ada game-game dengan muatan kekerasan. Kita juga tidak bisa menutup akses terhadap game-game tersebut. Yang bisa dilakukan hanyalah membuat sebuah filter agar game tersebut dikonsumsi oleh target umur yang sesuai. Memang sudah ada sistem rating game dari beberapa negara lain seperti ESRB dan PEGI. Namun, sistem rating yang sudah beredar terkadang tidak sesuai dengan kultur dan kebudayaan di Indonesia. Untuk itu, perlu dibuat sistem rating khusus Indonesia, yang sesuai dengan kultur dan kebudayaan di sini.

sistem rating game indonesia

KPAI Umumkan Delapan Game Online Berbahaya!

Ada delapan game online berbahaya di Indonesia, kini Kementerian Komunikasi dan Informatika menyiapkan Game Rating System sebagai filter game Indonesia.
Baca Juga

Justru dengan adanya sistem rating game Indonesia ini bisa berdampak baik bagi usaha edukasi game kepada masyarakat Indonesia, dan sesuai dengan tujuan KPAI yang ingin “melindungi” anak dari unsur-unsur dewasa dalam berbagai konten hiburan, termasuk game. Bayangkan jika tidak ada sistem rating, atau orang tua yang awam tidak memahami sistem rating ESRB atau PEGI yang sudah berlaku sebelumnya. Bisa-bisa mereka membelikan game untuk anak mereka yang sebenarnya masih belum cukup umur untuk mengkonsumsinya, lantas jika ada “masalah” dengan anaknya setelah memainkan game tersebut, orang tua langsung menjustifikasi game sebagai kambing hitamnya. Sudah banyak kasus dimana game dikambing hitamkan atas perilaku “nakal” anak, padahal seharusnya game tersebut memang bukan untuk anak-anak.

Sebenarnya, sistem rating game Indonesia ini hampir mirip dengan salah satu tugas Lembaga Sensor Film (LSF) yang sudah lama ada di Indonesia, yaitu memberikan label rating untuk film yang akan beredar di Indonesia. Jika LSF saja tidak mendapat penolakan dari KPAI, lantas mengapa sistem rating game Indonesia ini justru ditolak?

sistem rating game indonesia

Jadi, bagaimana pendapat kalian? Setujukah kalian jika sistem rating game Indonesia ini ditolak keberadaannya karena pemikiran salah seperti yang diungkapkan KPAI?