[Opini] Kenapa Banyak Sekali Drama di Internet dan Media Sosial?

drama di internet noragami aragotoMulai dari Miku Ind*m*ret, adzan di-remix, hingga spam nggak jelas di forum Internasional. Kenapa begitu banyak sekali drama di Internet?

Dengan banyaknya hal yang terjadi di Indonesia, mulai dari KPAI yang walk out saat berdiskusi tentang bagaimana cara “melindungi anak-anak” dari efek buruk video game hingga masalah yang cukup rumit seperti “papa minta saham”, sepertinya Indonesia tidak akan pernah kehabisan drama. Dan berbicara tentang drama, sepertinya drama paling panas tidak muncul dari dalamnya neraka di bawah atau tingginya langit di atas kita. Drama muncul dari dalam internet.

drama di internet lex luthorMari kita mulai dari salah satu drama terpanas di internet: tentang seorang pelayan minimarket yang ber-cosplay menjadi Hatsune Miku. Bagi kamu yang belum tahu tentang Hatsune Miku, dia adalah ikon terkenal vocaloid—sebuah singing voice synthesizer atau, gampangnya dalam bahasa Indonesia, sebuah software untuk membuat lagu.

drama hatsune miku
Hatsune Miku

Mungkin memiliki salah satu pelayan ber-cosplay sebagai Miku untuk mendatangkan pelanggan adalah sebuah ide yang bagus. Akan tetapi—seperti kasus kota Minomako yang menggunakan poster anime “erotis” untuk mempromosikan pariwisata kota mereka—alih-alih mendatangkan pelanggan, yang ada malah “kritik” yang datang.

Tapi, berbeda dengan kasus kota Minokamo, “kritik” disini tidak terasa sama sekali seperti kritik, melainkan sebuah ejekan yang tidak masuk akal dan sama sekali tak beretika. Mulai dari kata-kata kasar seperti “l*cur”, “menjijikan” hingga semua ejekan terburuk yang dapat ditujukan kepada seorang perempuan dilancarkan kepada si pelayan. Parahnya, sang ayah biologis pelayan tersebut menyaksikan aksi “bully” ini. Mencoba untuk membela sang putri tercinta, ujung-ujungnya sang ayah ikut-ikutan kena “bully”.

push button noragami aragoto thumbsDrama panas lainnya—dan mungkin pantas dinobatkan sebagai drama terpanas tahun 2015—adalah Adzan yang di-remix dan digunakan sebagai BGM berjudul Push Button dalam Noragami Aragoto. Banyak yang memprotes hal ini, dan—spoiler alert—termasuk orang Indonesia.

Sayangnya, jika orang luar negeri mencoba untuk mendiskusikan dan komplain secara baik-baik langsung ke orang yang bersangkutan, bocah-bocah asal Indonesia—seperti kebanyakan orang Indonesia—melakukan komplain, protes keras, menggonggong marah secara berlebihan yang tidak pada tempatnya. Dan meski komite produksi Noragami Aragoto telah menarik CD Push Button tersebut dari pasar dan meminta maaf dengan tulus kepada seluruh umat muslim, para bocah—lagi, seperti kebanyakan orang Indonesia—tetap berkomentar miring dan marah-marah.

Yang terparah adalah: masalah ini terbawa ke forum internasional Yaraon, banyak bocah imbisil yang mulai spamming, berkomentar miring, mengolok-olok orang Jepang, agama, para gadis kawaii dan negara mereka menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan vulgar.

drama di internet“Internet itu tidak memiliki peraturan. Semua orang, segala macam orang–mulai dari yang bocah hingga paling brengsek dan kurang ajar sekalipun–bisa masuk ke dalamnya.”

Ya, orang-orang—para bocah yang masih belum cukup umur—suka sekali asal komentar tanpa berpikir, memahami dan membaca situasi. Hal ini tentunya menciptakan percikan-percikan awal api drama.

Tentu saja, ada alasan kenapa api drama di Internet ini terus tumbuh menjadi besar: karena orang-orang memberi drama ini “perhatian.”

Semakin diperhatikan, drama ini akan menjadi semakin besar. Contohnya, dalam kasus pelayan yang ber-cosplay Miku: awalnya, seorang bocah berkomentar miring. Lalu, muncul seseorang membela. Mungkin karena keduanya tidak saling mengenal—atau entahlah, mungkin juga karena si bocah dan orang tersebut sama-sama “bocah”—akhirnya malah terjadi debat diantara mereka berdua. Keduanya pun mulai saling olok-mengolok hingga akhirnya lupa dengan awal mula permasalahannya apa—out of topic alias OOT.

Makin panas, akhirnya ada orang lain yang ikut nimbrung. Makin ramai.

Makin ramai lagi ketika orang lain mulai share perilaku para bocah tersebut. Tidak hanya di-share secara perorangan, bahkan beberapa FansPage dan grup yang diikuti oleh ribuan orang pun ikut-ikutan melakukan share. Semakin di-share, semakin banyak yang tahu. Orang-orang Indonesia yang kebanyakan mudah terprovokasi pun mulai menelusuri link tersebut dan berkumpul kemudian saling sahut-menyahut dan di-share lagi. Berawal dari komentar miring si bocah lalu terjadilah fenomena yang akrab kita sebut dengan “drama”.

drama di internet 2“Share semacam ini seperti bangkai. Kita yang mudah terprovokasi akan hal ini tak jauh berbeda dengan lalat dan hewan-hewan pemakan bangkai yang menjijikan.”

Mungkin—hanya mungkin—sebagian dari kalian yang pernah melakukan share seperti ini memang benar-benar mempunyai tujuan yang baik: berusaha untuk menghimbau orang lain agar tidak berlaku seperti itu. Tapi, ya begitulah: segala macam orang bisa kalian temukan dalam internet. Selalu saja ada yang cari gara-gara. Selalu saja ada orang yang melihat cela dari kebaikan yang kita lakukan—tak peduli sebaik dan semulia apapun tujuan kalian.

“Ingat, bahkan sosok seperti nabi Muhammad dan Yesus saja ada yang mencela.”

Cara terbaik dalam menanggulangi drama ini adalah dengan memalingkan wajah kita, mengacuhkan mereka. Kamu ingin membela seseorang yang di-bully di media sosial? Biarkan saja! Orang yang sayang dan kenal dengan si korban tidak membutuhkan pembelaan tersebut, begitu pula dengan kalian yang membela. Kenapa? Karena kalian tahu kebenarannya. Pun begitu dengan para bully, dia hanya akan menyanggah pembelaanmu, tidak percaya, dan semakin menjadi.

Hal yang sama juga bisa kamu terapkan pada perusuh di Yaraon. Tidak perlulah kalian share keburukan mereka, menyindir beramai-ramai, dan menghimbau orang lain untuk tidak seperti itu. Karena di dunia maya, hal itu tidak efektif. Mereka malah akan semakin menjadi. Ketahuilah cara kerja otak para imbisil tersebut: semakin dihina dan diperhatian mereka akan semakin senang. Tidak percaya? Coba saja lihat Farhat Abbas!

drama no need to be upset farhat abbasToh, kalian membela atau tidak, mereka yang mau berpikir–mereka yang tahu–pasti tidak akan serta merta meng-judge kalau semua orang Indonesia dan juga muslim buruk perangainya.

“Kenapa banyak sekali drama di Internet dan Media Sosial? Karena orang pintar dan bijak lebih memilih untuk diam.”

Gambar 4&5: Ghosty’s Comic


SHARE
Previous articleQuantum Break, Produk Eksklusif Xbox One yang Mengaburkan Batas Antara Game dan Film!
Next articleKali Ini Giliran Boss Azeroth dan Outland Harus Menerima Pukulan Saitama
Veteran game survival-horror terutama game seri Resident Evil dan Dead Space. Menurutnya, game survival-horror adalah obat terbaik dalam menangani stress (karena ketakutan, jadi lupa sama stress-nya). Selain memainkan game, dia juga gemar mengikuti anime, manga, comic, film dan novel. Saat ini sibuk menulis banyak judul light novel di Wattpad, light novel-nya yang berjudul The Alternative sudah dicetak.