Tunggu Dulu, Gara-Gara Baju Renang Shizuka Kena Sensor KPI!?

ending doraemon thumbs

Gara-gara pakai baju renang dalam salah satu episode anime “anak-anak” Doraemon, Shizuka kena sensor KPI! KPI sepertinya mulai lelah…

Tunggu Dulu, Kasus Kematian Mirna Meniru Kisah Detective Conan!?

Kalau kita amati lebih detil lagi, ternyata kematian Mirna yang disebabkan oleh kopi Sianida ini benar-benar mirip dengan kisah Detective Conan, lho!
Baca Juga

Jika “Everything Wrong With…” milik akun Youtube Cinemasins tidak mencari kesalahan dalam film, tetapi mencari kesalahan dalam pertelevisian Indonesia, mungkin video milik mereka bakalan memiliki durasi lebih panjang daripada film The Lord of The Rings Trilogy digabung menjadi satu. Yep, banyaknya acara-acara berkualitas rendah, sinetron-sinetron “gaul” seperti sinetron anak jalanan, dan sensor yang tidak pada tempatnya membuat kita ingin berteriak “Everything Wrong With Indonesian Television!”. Mungkin, hal yang paling kebangetan salahnya dalam pertelevisian Indonesia adalah bagian sensor. Bayangkan saja, Shizuka kena sensor!

Dalam sebuah episode Doraemon yang ditayangkan hari minggu pagi, diperlihatkan bahwa Shizuka mengenakan pakaian renang. Akan tetapi, entah apa yang ada dalam pikiran Komisi Penyiaran Indonesia saat itu, tiba-tiba saja mereka memutuskan bahwa Shizuka—seorang anak kecil yang mengenakan pakaian renang—adalah salah satu bentuk pornografi. Akhirnya, Shizuka kena sensor!

Shizuka kena sensor headline
Tampaknya Suneo menertawakan penyensoran yang dilakukan oleh KPI

Hal ini tentu membuat netizen tidak habis pikir. Apakah segitunya KPI “alergi” terhadap konten pornografi sampai-sampai mereka memutuskan untuk menyensor seorang anak kecil yang mengenakan pakaian renang? Ataukah, ada sesuatu dibagian bawah tubuh Shizuka yang tidak patut dilihat oleh anak-anak—seperti misalnya: rokok?

Shizuka kena sensor - rokokTapi tidak mungkin ‘kan kalau Shizuka membawa rokok. Kalau begitu, apa dong? Revisi Skripsi?

Shizuka kena sensor - skripsi

[Opini] Kenapa Banyak Sekali Drama di Internet dan Media Sosial?

Mulai dari Miku Ind*m*ret, adzan di-remix, hingga spam nggak jelas di forum Internasional. Kenapa begitu banyak sekali drama di Internet?
Baca Juga

Kacau! Benar-benar kacau! Shizuka: kartun, tokoh fiksi, anak kecil = kena sensor. Tapi kenapa rok-rok mini dalam sinetron-sinetron tidak disensor? Sebenarnya bukan hanya ini saja KPI melakukan sensor ekstrem terhadap film-film yang tayang di televisi di Indonesia. Masih ingat dengan The Raid yang dibabat habis-habisan sehingga durasinya hanya jadi 30 menit—atau mungkin kurang? Atau darah dan senjata-senjata seperti pistol dalam berbagai film yang juga disensor? Atau juga binatang yang disensor habis-habisan karena tidak mengenakan pakaian?

Shizuka kena sensor - Ghosty
Bukan tidak mungkin, kalau kata-kata kasar seperti anj*ng juga besok bakal kena sensor.

“Kalau dulu di TV Indonesia ada film dengan adegan “seorang pria menodongkan pistol-nya ke arah perempuan” dan kena sensor, berarti film itu film porno. Tapi kalau sekarang, film itu belum tentu film porno. EH, tunggu dulu, Indonesia pernah nayangin film porno!?”

Menurut mitos, KPI memiliki tujuan mulia: melindungi anak-anak dan penduduk Indonesia dari konten pornografi dan kekerasan yang berbahaya. Mungkin niat mereka memang benar-benar baik, benar-benar mulia. Tapi rasanya, tindakan mereka dalam hal sensor-mensensor ini rasanya terlalu berlebihan dan tidak tepat sasaran.

Bukannya melindungi anak-anak dan penduduk dari konten pornografi dan kekerasan, yang ada KPI malah seperti merendahkan penonton Indonesia. Rasanya, KPI seperti mengatakan bahwa penonton Indonesia ini masih bocah dan bodoh—banget—sampai-sampai tak bisa membedakan mana yang porno dan mana saja hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Asal main sensor disana-sini.

Shizuka kena sensor - Rong Rong

Tak Sesuai Regulasi, Telkom Blokir Netflix!

Karena tidak sesuai dengan regulasi di Indonesia dan banyak mengandung konten pornografi, hari ini secara resmi Telkom blokir Netflix.
Baca Juga

Jika KPI mau melakukan sensor, harusnya mereka mengkaji lebih dalam apa saja yang memang harus disensor atau tidak. Dalam Doraemon misalnya, perlukah Shizuka kena sensor gara-gara pakai baju renang? Saya rasa banyak yang setuju kalau tidak seharusnya Shizuka kena sensor. Lalu untuk film-film dewasa, alih-alih mensensor habis-habisan adegan kekerasan yang ada, kenapa tidak KPI beri saja jadwal tayang malam untuk film-film tersebut?

Mungkin akan ada pembelaan seperti “tapi kan ada anak-anak yang tidur malam!”. Kalau masalah ini, rasanya yang perlu disalahkan adalah orang tua anak tersebut, kenapa pula mereka memperbolehkan anaknya tidur malam—atau lebih tepatnya, menonton film dewasa?

Tidak adil juga jika kita selalu menyalahkan KPI. Orang tua juga bertanggung jawab penuh dalam memonitor hal-hal yang anak mereka tonton dari layar kaca. Sudah selayaknya bagi orang tua untuk menjelaskan mana yang salah, mana yang benar, mana yang boleh dan tidak boleh ditiru oleh anaknya.

“KPI bertanggung jawab terhadap tayangan yang mereka perbolehkan, orang tua bertanggung jawab terhadap tontonan anak mereka, dan penonton dewasa bertanggung jawab atas tontonan mereka masing-masing.”

Saya rasa, hal tersebut cukup adil.

Gambar: Ghosty, Kartun Ngampus, Rong Rong


SHARE
Previous articleTunggu Dulu, Kasus Kematian Mirna Meniru Kisah Detective Conan!?
Next articleBatman atau Superman, Siapa yang akan Menang dalam Dawn of Justice?
Veteran game survival-horror terutama game seri Resident Evil dan Dead Space. Menurutnya, game survival-horror adalah obat terbaik dalam menangani stress (karena ketakutan, jadi lupa sama stress-nya). Selain memainkan game, dia juga gemar mengikuti anime, manga, comic, film dan novel. Saat ini sibuk menulis banyak judul light novel di Wattpad, light novel-nya yang berjudul The Alternative sudah dicetak.