Kemendikbud Bikin Buku Panduan Memilih Game Mengacu ESRB, Apakah Langkah yang Tepat?

Kemendikbud rating ESRB

Kemendikbud menyatakan siap membuat sebuah buku panduan untuk orang tua dalam memilih game yang tepat untuk anak mereka. Buku ini nantinya akan mengacu kepada sistem rating ESRB yang berasal dari Amerika Serikat.

Game Online Dianggap Berbahaya, Bisakah Sistem Rating Game Indonesia Jadi Solusi?

Bisakah sistem rating game indonesia ini jadi sarana edukasi yang baik untuk menyelesaikan masalah kesalah pahaman ini?
Baca Juga

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia memiliki kebijakan yang menarik untuk meluruskan salah kaprah banyak pihak terhadap game. Di saat banyak pihak menyorot bahaya game untuk anak, Kemendikbud memiliki inisiatif untuk membuat sebuah buku panduan bagi orang tua. Tujuannya adalah membantu orang tua untuk memilih game untuk anak-anak mereka, karena dewasa ini arus masuknya game dari luar negeri ke Indonesia semakin deras.

Hal ini disampaikan secara langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Indonesia, Anies Baswedan. “Yang mau kami buatkan itu semacam buku pegangan. Untuk anak usia sekian, mana game yang boleh, mana yang tidak,” ungkap Anies di Istana Kepresidenan seperti dikutip dari Kompas. Buku Panduan ini nantinya akan mengacu kepada rating dari game tersebut. Dan rating yang menjadi acuan Kemendikbud dalam membuat buku panduan ini adalah sistem rating ESRB (Entertainment Software Rating Board) yang berasal dari Amerika Serikat.

sistem rating esrb
Sistem rating ESRB yang banyak digunakan di dunia

Sistem Rating Game Indonesia Bakal Permudah Misi Mendikbud dalam Pendidikan Game

Dengan sistem rating game yang lebih mudah dipahami, semoga game tidak lagi jadi "kambing hitam" aksi kekerasan.
Baca Juga

Seperti yang kita tahu, ESRB adalah sistem rating yang umum diterapkan di banyak negara. Sistem rating ini membagi game menjadi enam kategori usia sesuai dengan konten yang disajikan, antara lain Early Childhood (untuk anak usia dini), Everyone (untuk semua umur), Everyone 10+ (untuk usia 10 tahun ke atas), Teen (untuk usia 13 tahun ke atas), Mature (untuk usia 17 tahun ke atas) dan Adults Only (untuk dewasa). Plus satu lagi adalah Rating Pending (RP) alias belum mendapatkan rating. Untuk menentukan kategori mana yang tepat untuk sebuah game, ada beberapa pertimbangan kontennya mulai dari kekerasan hingga konten seksual. Tanda rating ini biasanya terdapat di cover sebuah game, dan memang ditujukan sebagai pedoman sebelum orang tua membeli game yang cocok dengan usia anak.

Hal ini menegaskan pernyataan Anies dan Kemendikbud sebelumnya yang tidak anti dengan game. Beberapa hari sebelumnya, Anies sempat memberikan pernyataan bahwa game bisa memberikan dampak yang positif untuk anak jika penggunaanya tepat sesuai usia mereka. Bahkan bila dipadukan dengan program pendidikan yang baik, maka anak-anak bisa diarahkan dari sekedar konsumen game, menjadi seorang kreator karya digital.

kemendikbud rating game esrb
Anies Baswedan. Sumber gambar: Tempo

[Kuliah Om Jas] Apa itu Rating Game?

Apa itu rating game? Apa saja isinya? Kenapa perlu mempelajari tentang rating game? Kuliah Om Jas kali ini membahas tentang Rating Game yaitu Entertainment Software Rating Board (ESRB)
Baca Juga

Kebijakan yang cukup menarik, dan menunjukkan bahwa Kemendikbud sudah melek dengan adanya sistem rating dan juga bagaimana cara penggunaannya yang benar. Bukan malah ngotot untuk memblokir game karena dianggap berbahaya untuk anak seperti yang selama ini didengungkan banyak pihak yang anti dengan game. Namun yang jadi pertanyaan adalah, apakah tepat buku pedoman ini nantinya mengacu kepada ESRB, yang notabene adalah sistem rating dari negara barat?

Mungkin ada alasan yang membuat Kemendikbud akhirnya menjatuhkan pilihan dengan mengacu kepada ESRB. Salah satunya, ESRB adalah sistem rating yang paling umum ditemukan di Indonesia. Coba kamu berjalan-jalan ke toko game dan lihat box-box game yang ada. Sistem rating apa yang digunakan? Sebagian besar, box-box tersebut menggunakan sistem rating ESRB. Dengan membuat buku panduan yang mengacu kepada ESRB, tentunya Kemendikbud berharap buku pedoman ini mudah dimengerti dan diimplementasikan sesuai dengan realita yang ada di pasar.

kemendikbud rating game esrb
Selain memperhatikan rating, pendampingan orang tua saat anak main game juga penting.

4 Alasan Kenapa Indonesia Butuh Game Rating Sendiri

Dengan game rating industri game Indonesia sudah siap mengejar negara lain lho
Baca Juga

Namun ada satu yang harus menjadi catatan Kemendikbud saat menggunakan ESRB sebagai acuan. Karena ESRB datang dari negara barat, tentu ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan kultur dan kebudayaan Indonesia. Sebagai contoh, di barat ciuman bukan hal yang tabu, sehingga game dengan rating T (untuk 13 tahun ke atas) mungkin sudah mengandung konten tersebut. Nah, di Indonesia sendiri, ciuman masih dianggap hal yang tabu, sehingga game dengan konten ciuman di dalamnya semestinya hanya boleh dikonsumsi oleh remaja usia 17 tahun ke atas. Adanya perbedaan kultur ini harus menjadi salah satu perhatian Kemendikbud dalam membuat buku panduan tersebut.

Nah, untuk solusi sebenarnya Indonesia di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan juga para pelaku industri game sudah menyiapkan sebuah sistem rating yang lebih sesuai dengan kultur dan kebudayaan Indonesia. Namanya adalah Indonesia Game Rating System atau IGRS. Namun sayangnya sampai saat ini, IGRS masih sebatas rancangan dan belum disahkan secara resmi karena masih ada beberapa pihak yang menolak rancangan tersebut, salah satunya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Jika Kemendikbud akan membuat buku pedoman tersebut, alangkah lebih baik jika mereka berkomunikasi dengan Kemenkominfo untuk membuat buku pedoman yang lebih sesuai dengan identitas Indonesia, dengan mempertimbangkan poin-poin dari IGRS tersebut.

kemendikbud rating game esrb

Mungkin belum bisa sepenuhnya buku pedoman untuk orang tua ini mengacu kepada IGRS, karena memang masih belum sesuai dengan realita pasar yang ada (karena sebagian besar game yang beredar di Indonesia masih mengacu kepada ESRB). Apalagi, IGRS juga belum disahkan dan diimplementasikan di Indonesia. Sembari perlahan-lahan menyempurnakan dan mengimplementasikan IGRS, Kemendikbud dan Kemenkominfo mungkin sebaiknya bisa berkomunikasi secara intens untuk membuat buku pedoman yang lebih cocok untuk kultur dan kebudayaan Indonesia. Entah itu masih menggunakan ESRB yang lebih “disesuaikan” untuk Indonesia, atau menggunakan kombinasi ESRB dengan IGRS. Bisa juga melibatkan praktisi di industri game untuk menyempurnakan buku pedoman tersebut.

Bagaimana menurut kalian dengan kebijakan Kemendikbud ini? Silahkan tulis pendapatmu di kolom komentar ya!


SHARE
Previous article5 Alasan Kenapa Captain America: Civil War Lebih Baik daripada Batman V Superman
Next articleMengharukan! Xbox Pertemukan Gamer Ini dengan Almarhum Ayahnya
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.