Kalian Pasti Gak Percaya! Game Sekeren Edge of Eternity Ini Dibuat Hanya Oleh 4 Orang!

Edge-of-Eternity-1

Nama Final Fantasy memang beken, apalagi bagi mereka yang mengenal video game, dan memainkan banyak RPG Jepang yang begitu mudah meninggalkan banyak kenangan. Tak terkecuali pada beberapa orang yang pada akhir tahun 2014 lalu mengaku ingin mewujudkan Final Fantasy mereka sendiri dalam bentuk Edge of Eternity, yang dikembangkan untuk PlayStation 4, Xbox One dan PC Windows menggunakan engine Unity 5. Saat itu dikonfirmasikan proyek game tersebut hanya ditangani tiga orang programer dan seorang musisi. Tampaknya terlalu ambisius untuk sebuah target memadukan unsur RPG Jepang, fiksi imiah dan juga latar abad pertengahan. Namun sepertinya proyek ini bukan main-main.

Edge-of-Eternity-2

Setelam memperoleh status Greenlit oleh komunitas Steam akhir 2014, dan kemudian kampanye Kickstarter yang mereka jalankan awal 2015 lalu juga sukses menarik 4045 backer dengan pencapaian sekitar Rp2.2 milyar dana yang masuk mendukung proyek ini. Nama studio yang mereka bentuk, yaitu Midgar Studio yang berlokasi di Prancis, langsung mengingatkan pada salah satu seri RPG papan atas Square Enix, Final Fantasy VII. Bahkan sang mastro yang sudah menjadi ikon RPG klasik Jepang, Yasunori Mitsuda (Chrono Trigger, Chrono Cross, Xenogears, Soul Sacrifice) juga ikut terlibat di sini menggubah musik tema utamanya. Informasi terbaru game ini yang diberikan melalui blog dalam laman resminya memperlihatkan beberapa screenshot baru yang cukup cantik untuk ukuran sebuah proyek kecil developer indie ini, selain juga konfirmasi musiknya yang dilantunkan oleh Bratislava Symphonic Orchestra, serta perilisan video trailer baru yang memperlihatkan adegan pertarungannya:

Edge Of Eternity – WIP Boss Battle Footage

Sudah melihat video di atas? Old school banget kan… gameplay-nya maksud kami. Grafisnya sih, lumayan untuk ukuran game indie. Beberapa hal yang bisa disimpulkan dari mekanisnya, pertarungan turn-based yang begitu klasik, karakter memang tidak bergerak bebas, mereka dibatasi grid segi enam isometris, bisa berpindah dari satu grid ke grid sebagai bagian penyusunan strategi (menghindari rencana serangan musuh misalnya), dan, ya, memang kesannya sedikit membosankan. Ini baru work in progress sih, semoga saja saja ada beberapa elemen di sana yang membuatnya lebih menarik. Sedangkan di bawah ini video yang memperlihatkan proses perekaman musik orchestra-nya:

Edge of Eternity mengambil latar di dunia Heryon, yang dikisahkan telah diserang dan kini dikuasai bangsa alien. Makhluk asing tersebut membasmi manusia, serta menyebarkan virus yang mampu mengubah manusia menjadi binatang dan monster metal. Kalian mengendalikan Daryon, yang mengembara dengan tugas menyelamatkan dunia dari ancaman para alien. Plotnya tidak sedangkal itu sih, karena menurut Midgar Studio, 200 tahun sebelum kejadian dalam game, timbul perang besar antar negara di Heryon yang memperebutkan kekuatan kristal. Ada juga unsur teknologi maju di sini, karena yang jelas setting-nya bukan di Bumi, walaupun nuansanya abad pertengahan. Semacam Star Ocean, sebuah dunia dengan penggambaran abad pertengahan, namun teknologi tinggi eksis bersama kekuatan sihir.

Edge-of-Eternity-3

Daryon, dan karakter cewek utama game ini, Salvia, juga digambarkan mengenakan kalung yang sama yang dianggap sebagai sisa teknologi masa lalu. Kaling yang terbuat dari kristal, yang 200 tahun lalu diperebutkan umat manusia, serta memicu peperangan besar. So, petualangan Daryon dan Salvia bukan sekadar ketemu alien dan membasmi mereka sampai habis, namun plot utamanya terletak pada kenapa mereka memiliki kalung yang sama, dan memahami asal-muasal dunia Heryon.

Edge-of-Eternity-4 Edge-of-Eternity-5 Edge-of-Eternity-6 Edge-of-Eternity-7

Sumber: EOEGame


SHARE
Previous articleMenguak Rahasia Developer Game Indie Bersama Rami Ismail dari Vlambeer di Jakarta
Next articleReview The Angry Birds Movie – Adaptasi yang Terasa Sedikit Hambar
Penggemar strategy RPG Jepang, serta semua serial Super Robot Wars, yang saat ini masih menjadi kontributor penulis artikel game guide salah satu media game Indonesia. Mulai memburu game-game mobile, dan juga emulator melalui gadget Android, hanya untuk memainkan kembali game-game RPG klasik, yang menurutnya tetap lebih baik dibandingkan game modern.