Square Enix tentang Pembajakan dan Perlunya Kerja Sama dengan Developer Lokal

duniaku-squareenix-1

Pada perhelatan Casual Connect 2016 yang diadakan di Singapura mulai Selasa (17/5), Duniaku berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan Shizuya Nakamoto, General Manager Overseas Business Development Square Enix. Secara umum, ia mengatakan bahwa perlunya kerja sama antara penerbit besar dengan para developer dan penerbit lokal dari Indonesia. Hal ini karena perusahaan besar seperti Square Enix membutuhkan wawasan yang dimiliki oleh para pelaku industri lokal untuk memasarkan produk mereka di pasar yang bersangkutan.

Pernyataan ini diungkapkan Shizuya ketika ditanyakan tentang bagaimana potensi pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Ia mengatakan bahwa pasar Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, terutama dari segi game mobile. Menurutnya, “mobile is the future“. Sebabnya, game mobile lebih mudah diakses oleh siapapun dengan perangkat yang juga dimiliki oleh lebih banyak orang jika dibandingkan dengan konsol atau PC. Shizuya juga mengungkapkan bahwa untuk pasar konsol sendiri, Asia Tenggara khususnya Indonesia memiliki proporsi yang kecil dibandingkan dengan pasar global lainnya, sehingga game mobile-lah yang diharapkan bisa lebih diandalkan.

Hal ini tentunya sejalan dengan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan game besar lainnya seperti Konami dan Nintendo yang juga menggeser fokus atau setidaknya mulai terjun ke ranah game mobile. Konami, khususnya, sudah tidak asing lagi dengan kontroversi yang mereka timbulkan ketika dikabarkan akan hanya melanjutkan franchise Metal Gear Solid dan Pro Evolution Soccer saja untuk platform konsol dan PC agar bisa berkonsentrasi lebih ke game mobile dan bisnis lainnya.

Siapkan Android dan iOS Kalian, Final Fantasy: Brave Exvius Rilis di Luar Jepang!

Siapkan Android dan iOS Kalian, Final Fantasy: Brave Exvius Rilis di Luar Jepang! Download Final Fantasy: Brave Exvius APK Mod, Brave Exvius MOD
Baca Juga

Nintendo, walau tetap fokus pada konsol dengan perangkat Nintendo NX mereka yang akan diumumkan tak lama lagi, mulai mencoba peruntungannya melalui kerja sama dengan DeNA. Mereka berencana untuk mengembangkan berbagai game mobile dalam beberapa tahun ke depan, salah satunya adalah Miitomo yang sudah dirilis di Jepang.

Square Enix sendiri pada tahun lalu melaporkan bahwa mereka mendapatkan keuntungan finansial yang lebih besar dari bisnis game mobile mereka. Dari segi pendapatan memang tidak terlalu drastis peningkatannya, namun dari segi pengeluaran mereka mampu menghemat lebih banyak akibat rendahnya biaya pengembangan game mobile.

Pernyataan dari Shizuya ini tentunya bisa menjadi angin segar bagi para developer dan penerbit Indonesia. Dengan potensi pasar yang menurutnya sangat besar, menggandeng pihak yang tepat untuk merangkul pasar lokal menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi mereka, dan kesempatan emas untuk pelaku industri lokal.

Pembajakan di Mata Square Enix

video game piracy
Sumber: gamerant.com

Berbicara tentang bagaimana pangsa pasar game di negara berkembang, tentu pembajakan menjadi salah satu topik yang sulit untuk dihindari, begitu juga oleh Shizuya. Seperti yang ia sampaikan tentang pasar konsol yang masih kecil di Indonesia, ia memahaminya karena daya beli masyarakat Indonesia pada umumnya masih belum setinggi negara-negara maju lainnya, sehingga tak banyak yang bisa membeli konsol generasi terkini ataupun membeli game asli mereka. Tak ayal, pembajakan pun menjadi salah satu jalan keluarnya.

Akan tetapi, walaupun ia mengatakan bahwa pembajakan tidak dapat dibenarkan, ia mengakui di beberapa negara pembajakan justru merupakan bibit yang akan menguntungkan mereka dalam jangka waktu panjang. Dalam waktu 5 hingga 10 tahun lagi, bisa saja mereka yang dulu membajak berubah menjadi pembeli game mereka ketika sudah memiliki daya beli yang cukup. Ya, contohnya saya sendiri, yang ketika kecil cuma bisa membeli game (dan mengunduh) PS dan PC bajakan, kini mulai membeli game orisinal, seperti teman-teman sejawat saya lainnya.

Shizuya mengatakan memberantas pembajakan di negara-negara berkembang memiliki dilema tersendiri. Di satu sisi jika benar-benar diberantas maka minat akan game bakal menurun karena tidak dapat diakses oleh sebagian besar masyarakat, di sisi lain tak perlu diragukan lagi pembajakan adalah kegiatan yang merugikan developer dan penerbit.

Pembajakan memang merupakan topik yang sangat hangat jika diperdebatkan. Kamu sendiri masuk golongan yang mana? Orang yang 5-10 tahun lagi akan menjadi pembeli game orisinal (baca: saat ini masih main bajakan), ataukah sudah hijrah menjadi gamer orisinal?