Mengintip Aktivitas Developer Indonesia Peserta Indie Prize Casual Connect Asia 2016!

Developer Indonesia Indie Prize
Developer Indonesia yang mengikuti Indie Prize Showcase di Casual Connect Asia 2016
Meskipun hanya empat studio yang memamerkan karya dalam Indie Prize Showcase, namun “kontingen” developer Indonesia yang menghadiri Casual Connect Asia 2016 ternyata cukup banyak!

Casual Connect Asia 2016, Konferensi Game Kasual yang Semakin Mendunia!

Casual Connect Asia 2016 kembali digelar di Singapura. Apa yang membedakan antara gelaran tahun ini dengan tahun lalu? Semeriah apa acaranya?
Baca Juga

Gelaran Casual Connect Asia 2016 sudah berakhir pada tanggal 19 Mei 2016 kemarin. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara yang digelar di Singapura ini menjadi ajang bagi developer game Indonesia untuk saling memamerkan karya dan menjaring partner bisnis baru. Tidak terkecuali tahun ini, dimana beberapa developer Indonesia berbondong-bondong untuk menghadiri acara yang digelar empat kali dalam setahun di empat negara berbeda ini, baik yang mengikuti Indie Prize maupun yang sekedar berkunjung dan menimba ilmu saja.

Dari segi peserta Indie Prize, memang ada penurunan dari segi jumlah. Jika di tahun sebelumnya ada lebih dari 10 studio dari Indonesia yang memamerkan karya dan mengikuti kompetisi ini, maka tahun ini hanya ada empat studio saja: Agate Studio, GameChanger Team, Joyseed Gametribe, dan Anoman Studio. Sebenarnya ada juga beberapa nama dari Indonesia yang mengikuti showcase, namun mereka terdaftar di studio negara lain, kebanyakan dari Singapura. Seperti contohnya HappyLabs yang meloloskan tiga game di kompetisi ini.

Developer Indonesia Indie Prize

Lantas, apa saja sih yang dilakukan empat studio Indonesia ini selama di Casual Connect Asia 2016, dan bagaimana kesan-kesan mereka selama tiga hari memamerkan karya di event ini?


1

Agate Studio


Developer Indonesia Indie Prize

Agate Studio membawa demo Valthirian Arc: Red Covenant yang kabarnya hanya diselesaikan dalam satu bulan saja! Dengan demo ini, mereka mengumpulkan feedback dari pengunjung, sekaligus mengadakan giveaway Steam Key dari game ini saat dirilis nanti. “Overall 4/5 utk acaranya, Casual Connect-nya sendiri lumayan big improvement dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Wimindra Lee, Creative Director dari Agate Studio. “Cuma lecture-nya masih terlalu dominan sama bisnis, dan middleware-nya masih di dominasi oleh mobile padahal kalau dilihat dari showcase udah banyak yang showcase game PC/konsol,” lanjutnya.

Wimindra pun membagikan pengalamannya selama mengikuti Casual Connect Asia 2016 kemarin. “Buat Valthirian Arc yang paling utama sih feedback, sama bisa ajak tim ke event global yang lumayan deket buat nambah network dan wawasan. Buat Agate sendiri sih impact-nya cukup besar yah, bisa networking ke cukup banyak pihak dan kedepannya kita harap banyak kerjasama yang dihasilkan dari networking di Casual Connect kali ini. Kita juga berharap makin banyak kerjasama di bidang event-nya itu sendiri dari pihak Indonesia, hopefully someday Casual Connect Asia bisa diadakan di Indonesia,” jelasnya. Wimindra juga mengungkapkan, bahwa kehadiran mereka di acara ini juga dalam rangka mencari publisher, yang semoga bisa membawa Valthirian Arc ini di-porting ke konsol.


2

GameChanger Team


Developer Indonesia Indie Prize

GameChanger team membawa demo terbaru dari Ascender: The Enigmatic Journey yang tampak lebih dipoles dibandingkan demo-demo sebelumnya. Selain itu, mereka juga membawa media kit yang dibagikan kepada media-media dan blogger yang hadir selama Casual Connect Asia 2016 kemarin. “Sangat bersyukur bisa lolos Indie Prize, kualitasnya yang sekarang benar-benar sangat angkat jempol,” ungkap Dodick Sudirman, co-founder dari GameChanger Team. “Disana juga ketemu opportunities buat Ascender, semoga ada tindak lanjutnya ke depan,” lanjutnya.

Bagi kamu yang ingin mengikuti kisah perjalanan GameChanger Team di Casual Connect Asia 2016, kamu juga bisa membacanya melalui development blog resminya. Dodick juga mengaku, dirinya mendapatkan banyak masukan untuk Ascender selama tiga hari di Casual Connect Asia 2016. “Kita dapat banyak masukan juga dari sesama developer baik itu sudut pandang produk ataupun sudut pandang bisnis,” pungkasnya.


3

Anoman Studio


Developer Indonesia Indie Prize

Di Casual Connect Asia 2016 ini, Anoman Studio membawa demo game ORBIZ untuk dimainkan pengunjung. “Sebenarnya ini adalah kali pertama kita (Anoman) mendapat kesempatan berkunjung dan berpartisipasi di event internasional seperti Casual Connect Asia,” ungkap Hendrik Kusuma, lead programmer dari Anoman Studio. “Sangat keren sekali karena disekitar booth kita (kiri, kanan, atau belakang) terdapat banyak peserta dari Eropa seperti Polandia, Italia, Australia, Rusia, bahkan Prancis yang game-nya sangat well polish dan kebanyakan juga akan dirilis sebentar lagi di Steam, bahkan ada yang sudah dirilis juga,” lanjutnya.

Mengenai manfaat yang didapatkan dari event ini, Hendrik menuturkan pendapatnya. “Disana saya banyak bertanya pada mereka tentang berapa sudah berapa lama membuat game-nya dan mengenai how to survive mereka juga selama pengerjaan game. Setelah mengikuti Casual Connect Asia, yang saya dapat adalah jaringan yang lebih luas antar game developer diluar indonesia dan juga lebih bisa berbicara bahasa inggris dibanding sebelumnya hehe,” pungkasnya.


4

Joyseed Gametribe


Developer Indonesia Indie Prize

Studio yang masih tergolong baru ini memikat pengunjung lewat demo DayDream: The Beginning yang memiliki grafis cantik. DayDream juga sekaligus merupakan satu-satunya studio dari Indonesia yang menampilkan game mobile. “Buat kami, Casual Connect Asia 2016 kemarin merupakan acara yang luar biasa, ini merupakan pertama kalinya kami mengikuti Casual Connect dan kami belajar sangat banyak dari acara ini,” ungkap Bernardus Boy Dozan, CEO dari Joyseed Gametribe. “Acara ini mempertemukan banyak pihak di game industri, mulai dari developer, publisher, media, hingga advertisment dimana kita saling berkenalan dan berkoneksi satu sama lain,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Bernardus Boy juga mengungkapkan manfaat dari mengikuti Indie Prize. “Indie Prize Showcase-nya sendiri sangat mengajarkan kita banyak hal, banyak feedback yang kami dapatkan tentang game kami dari orang-orang yang mecoba game kami, sehingga kami belajar banyak tentang kekurangan game kami. Banyak suggest untuk memperbaiki DayDream lebih baik lagi,” lanjutnya. “Selain itu kita juga banyak mendapat teman baru dari developer-developer seluruh dunia, sangat menyenangkan berkenalan dengan mereka,” pungkas Boy.

Developer Indonesia Indie Prize

Selain yang mengikuti Indie Prize Showcase, Duniaku juga menemukan beberapa developer Indonesia yang sekadar menjadi pengunjung dengan tujuan mulai dari menimba ilmu hingga mencari koneksi. Beberapa perwakilan studio yang sempat ditemui Duniaku antara lain ada Mojiken Studio (Surabaya), Firebeast Studio (Medan), Alkemis Studio (Surabaya), Firal Interactive (Jakarta), Game5Mobile (Surabaya), Maningo Studio (Makassar), Wisageni (Yogyakarta) Niji Games (Yogyakarta) dan Touchten Games (Jakarta). Beberapa publisher dari Indonesia juga tampak menghadiri acara ini, seperti Lyto dan Qeon Interactive.

Sukses terus untuk developer Indonesia. Sampai jumpa di event selanjutnya!


SHARE
Previous articleVector 2, Lebih Menegangkan dan Penuh Aksi Dibanding Prekuelnya!
Next articleFilm Tetris Segera Dibuat! Akan Seperti Apa Jalan Ceritanya?
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.