Olimpiade Dolanan Anak, Siap Lestarikan Mainan Tradisional Anak yang Hampir Punah

Odolan Olimpiade Dolanan Anak

Anak kecil di masa sekarang ini mungkin berbeda dengan anak-anak di era 80 atau 90an. Jika anak kecil zaman dahulu lebih banyak bermain gobak sodor, petak umpet dan mainan-mainan tradisional lainnya, anak zaman sekarang lebih banyak bermain dengan gadget. Nah, untuk kembali melestarikan mainan-mainan tradisional ini, komunitas anak muda di Jepara yang menamakan diri mereka Rumah Belajar Ilalang (RBI) dibantu dengan beberapa komunitas lain akan menghidupkan lagi permainan tradisional ini melalui sebuah event bertajuk Olimpiade Dolanan Anak atau yang disingkat dengan Odolan.

Odolan akan digelar pada tanggal 14 dan 15 Oktober besok di Jepara. Banyak orang percaya kodrat anak-anak adalah bermain. Terlepas tuntutan zaman yang menghadirkan persaingan ketat, di sekolah kini maupun di lingkungan kerja nanti, itu tak menghapuskan kodrat alamiah anak-anak yang senang bermain. Dengan bermain anak-anak dapat mengkespresikan diri serta meningkatkan ketrampilan dan kemampuan.

“Bermain juga mempunyai manfaat yang cukup besar, terutama bagi perkembangan jiwa anak, seperti perkembangan emosi, fisik atau motorik, kognitif, serta perkembangan sosial. Semua manfaat yang tersebut dapat kita jumpai dalam segala macam permainan tradisional,” itulah keyakinan Hasan, penggagas RBI seperti dikutip dari pernyataan resminya.

Odolan Olimpiade Dolanan Anak

Itulah yang menjadi dasar diadakannya event Odolan ini. Hal lainnya adalah kemajuan zaman yang kian menggerus posisi permainan tradisional. Anak-anak lebih mudah mengakses permainan digital daripada tradisional. Ini yang menggugah para pemuda di Jepara ini guna pro aktif untuk melestarikan permainan tradisional seperti gobak sodor, petak umpet dan sejenisnya.

“Selain sebagai upaya pelestraian permainan tradisional, kegiatan ini juga menjadi wadah menggali potensi kreativitas anak melalui ajang temu antar komunitas pegiat anak. Karena kami percaya semakin banyak kegiatan yang mendorong kreativitas anak-anak, akan semakin besar pula kemampuan mereka mengembangkan imajinasi yang mencerdaskan,” lanjut Hasan.

Lahir pada 2012, semula RBI aktif menghadirkan taman baca bagi anak-anak Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan. Kebanyakan dari mereka anak buruh mebel dan petani. Taman baca itu disambut baik. Namun untuk menghindari kejenuhan membaca, diadakanlah kegiatan bermain bersama tiap Jumat. Gobak sodor dan bentengan jadi dua jenis permainan yang diajarkan. Betul, diajarkan. Karena banyak dari anak-anak itu yang tak lagi mengenal kedua permainan tersebut. Acara bermain itu lalu dirutinkan dan diberi nama Jumat Akrab.

Setahun kemudian, RBI memberanikan diri membuat acara Odolan. Kala itu pesertanya hanya anak-anak sekolah di sekitar. Antuasismenya pun cukup tinggi. Terbukti seusai gelaran perdana itu RBI diminta untuk datang ke beberapa sekolah dan kampung. Tujuannya sekedar mengajak anak-anak bermain permainan tradisional ini.

Odolan Olimpiade Dolanan Anak

“Tahun 2014 kami tidak hanya membuat event olimpiade dolanan, tapi sudah mulai mendata dolanan-dolanan tradisional yang ada disekitar Desa Kecapi. Kami mendapatkan temuan salah satunya “embek-embekan” atau jika dilihat dari cara bermainnya bisa juga disebut gulat. Permainan ini sering dimainkan oleh cah angon (penggembala kambing). Sambil menunggui ternak, mereka bermain di sawah, ladang, dan ditempat kambing merumput. Di Odolan kedua kami mampu mengumpulkan setidaknya 50 dolanan baik yang dimainkan secara bersamaan atau satu lawan satu,” ujar Hasan yang juga aktif mendongeng.

Ditahun ke empat ini, Odolan hadir dalam berbagai bentuk yaitu pertunjukkan dolanan, diskusi publik berkaitan dengan tingkah anak-anak, film, fotografi dll. Akan ada pula pertunjukan kolosal melibatkan 300 anak SD dan PAUD dari  lima sekolah di tiga kecamatan. Mereka akan memainkan Rangku Alu dari Maluku.

Odolan tahun ini akan mempunyai empat agenda utama:

  1. Swakarya: dalam agenda ini, anak-anak diajak berkarya sesuai dengan kreativitasnya dengan media barang bekas dan media dari alam, bambu, daun dan tanah liat. Hasil karya akan dipamerkan untuk diapresiasi orang dewasa. Selanjutnya karya bisa dilelang atau dibawa pulang.
  2. Kandang dolanan: wahana tempat anak-anak diajak bermain permainan tradisional dakon, patilele, egrang, kelereng, lompat karet, damdaman, bekelan, rangka alu, dll.
  3. Gojek Bocah: ruang apresiasi seni yang akan diisi oleh anak-anak, tari, musik, gamelan, puisi dll.
  4. Diskusi publik: sejumlah orang tua, guru, permerhati anak, dan akademisi diundang untuk membincangkan persoalan kejiwaan anak dan turunannya.

“Dari kegiatan olimpiade dolanan anak kami berharap akan tercipta suatu kolaborasi dan ide-ide baru menyangkut pendampingan terhadap anak,” pungkas Hasan. Semoga dengan acara ini bisa semakin mengenalkan permainan-permainan tradisional ini ke generasi muda zaman sekarang ya!


SHARE
Previous articleReview Masquerada: Songs and Shadows – RPG dengan Misteri Memikat
Next article6 Game yang Bisa Bikin Kamu Cepet Kawin ala Rey Utami
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.