Program Steam Greenlight akan Dihapus, Digantikan Steam Direct. Bagaimana Masa Depannya?

Apakah Steam Direct bakal membuat Steam padat seperti Google Play Store? Apakah langkah dari Valve ini cukup tepat?

steam greenlight akan dihapus

Dreadout, salah satu game Indonesia tersukses di Steam

Steam Direct dikatakan sudah hampir siap menggantikan Steam Greenlight. Namun masih ada satu masalah yang belum diselesaikan Steam: berapa biaya yang akan mereka patok untuk pendaftaran setiap game-nya? Steam sendiri mengungkapkan bahwa mereka sudah berbicara dengan beberapa developer untuk mendapatkan angka pastinya. Developer pun memberikan angka yang beragam, mulai dari yang terendah US $100 (sekitar Rp1,3 juta) hingga yang tertinggi, US $5.000 (sekitar Rp65 juta).

Ingat, ini untuk pendaftaran setiap game lho, bukan untuk pendaftaran satu akun developer layaknya yang kamu bayarkan saat akan mendaftarkan game ke Google Play Store.

Bagaimana dengan game yang sudah terlanjur didaftarkan di Steam Greenlight, dan belum mendapatkan status Greenlit sampai sekarang? Valve mengungkapkan bahwa mereka siap mengembalikan biaya yang sudah mereka bayarkan untuk mendaftarkan game tersebut di Steam Greenlight secara penuh. Valve akhir-akhir ini pun tampak “tancap gas”, dengan lebih mudah memberikan status Greenlit kepada game-game yang didaftarkan.

Papers, Please, salah satu game sukses lainnya yang berawal dari Steam Greenlight

Sampai saat ini, Steam Greenlight masih hidup, mungkin setidaknya sampai satu atau dua bulan ke depan. Tentu masih terlalu dini untuk menjustifikasi apakah Steam Direct bakal lebih baik atau mungkin lebih “kacau” dibandingkan Steam Greenlight. Atau apakah sistem baru ini bakal lebih memudahkan dan menguntungkan bagi developer indie, atau justru membuat developer berpikir tujuh kali sebelum memutuskan merilis game di Steam jika biaya yang dipatok terlalu besar.

Namun satu hal yang mungkin sudah bisa diprediksi, dengan adanya Steam Direct sepertinya bakal membuat Steam ke depannya bakal lebih “penuh sesak” dengan game, layaknya Google Play Store. Tidak adanya kurasi dari gamer adalah salah satu penyebabnya, dan kita juga masih belum tahu akan seketat apa sistem kurasi dari Steam nantinya. Apakah hanya dengan menyelesaikan paperwork dan membayar biaya pendaftaran saja sudah bisa memublikasikan game, atau akan ada seleksi yang lebih ketat lagi dari mereka.

Jika terlalu “sesak” tentu kurang baik juga untuk developer. Apalagi jika Steam tidak menemukan cara yang efektif untuk membuat game mereka terekspos ke gamer, bisa membuat developer yang merilis game di Steam seperti melemparkannya ke lautan. Sulit untuk ditemukan oleh gamer.

Selain itu, perlu ditunggu juga berapa biaya yang akan disematkan untuk pendaftaran setiap game-nya. Penetapan besar biaya ini juga bisa sedikit tricky. Jika murah, tentu akan meringankan developer perorangan yang ingin memublikasikan game di Steam. Katakanlah jika Valve akhirnya mematok angka US $100 atau Rp1,3 juta untuk setiap game-nya.

Papers Please, salah satu game sukses lainnya yang berawal dari Steam Greenlight

Namun sisi negatifnya, bakal banyak game “asal jadi” dan berkualitas rendah yang muncul apabila kurasi dari Steam kurang ketat. Apalagi sempat beredar kabar bahwa sistem kurasi Steam hanya memastikan file game-nya bekerja dengan baik. Belum ada kabar lebih lanjut mengenai apakah sistem kurasinya akan melibatkan banyak pihak dan melihat dari kualitas game-nya juga.

Jika terlalu mahal? Tentu memberatkan developer indie atau perorangan yang akan memublikasikan game di Steam. Apalagi jika biayanya mencapai US $5.000 atau lebih dari Rp60 juta (untuk setiap game!) seperti feedback beberapa developer yang sudah diterima oleh Steam. Namun sisi positifnya, pasar Steam tidak akan terlalu padat, dan secara otomatis akan tersaring game-game berkualitas tinggi.

Steam Greenlight akan dihapus

Bukankah seorang developer akan mempertimbangkan keuntungan dari game tersebut saat dijual apabila rela merogoh kocek hingga puluhan juta untuk mendaftarkan satu game? Jika yakin game-nya berkualitas dan bakal sukses besar, maka developer mungkin akan cukup happy dengan US $5000 yang sudah dibayarkannya. Jika tidak?

Positif atau tidaknya evolusi ini tentu kita harus menunggu seperti apa implementasinya. Semoga sistem baru ini nantinya bisa membuat Steam menjadi semakin nyaman, bukan hanya untuk gamer tetapi juga untuk developer indie.

Bagaimana menurutmu dengan kabar Steam Greenlight akan dihapus ini? Apakah evolusi ke Steam Direct sudah cukup tepat? Silakan share di kolom komentar ya!

Sumber: Steam

TENTANG PENULIS
Febrizio

Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.