Kisah Dua Tahun Pengembangan Game Ascender Bagian 1 – Berawal dari Sebuah Mimpi

kisah pengembangan ascender

Semua (memang) berawal dari mimpi. Berikut adalah kisah kami selama dua tahun mengembangkan Ascender.

Perjalanan membuat game ini dimulai pada awal tahun 2015. Saat itu saya baru saja melepas pekerjaan full time saya sebagai pustakawan untuk memulai perjalanan mustahil bernama Ascender. Sebelumnya, perkenalkan, saya Riris Marpaung alias Ruby, Produser dari game Ascender.

Baca Juga

Ascender adalah game 2D puzzle platformer. Latarnya sendiri adalah di dunia bawah tanah bernama Goa. Pemain adalah robot kecil bernama Sky yang harus memecahkan berbagai teka-teki untuk menemukan tiga metal legendaris demi menyelamatkan sahabatnya bernama Ocean. Ascender memiliki visual art yang unik dengan pendekatan hand-drawn.

Apakah kami penggemar berat Ori & The Blind Forest, Limbo atau Braid? Apakah kami sangat menyukai Thomas Mahler, Jeppe Carlsen, atau Jonathan Blow? Jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah TIDAK. Lalu, kenapa kami memilih game puzzle platformer?

Jadi, awal tahun 2015 setelah menghadiri salah satu event game, saya dan Dodick (Co-Founder GameChanger) berdiskusi hebat tentang game apa yang selanjutnya akan kami buat. Masing-masing melakukan riset mendalam tentang tren dan strategi game di Steam. Sampailah kami pada kesimpulan game bergenre adventure memiliki target market yang besar. Kami melanjutkan riset pada game bergenre adventure. Kami memainkan berbagai game tersebut dan akhirnya suatu malam kami sepakat membuat Ascender.

kisah pengembangan ascender
Dunia Ascender

Art Director GameChanger yang bernama Rizal adalah orang yang pertama kali menciptakan dunia Ascender. Rizal-lah yang membuat garis besar cerita tentang dunianya. Awalnya hanya ada satu peradaban sempurna bernama Atlas yang dihuni oleh para dewa. Demi melestarikan kesempurnaan tersebut para dewa menutup akses Atlas oleh mahluk lainnya dengan mengangkat permukaan laut sebagai penghalang. Peradaban ini disebut Ut. Di bawah Ut terdapat 3 peradaban lain yaitu Mahael, Ataran dan Goa. Nah, Ascender mengambil setting peradaban Goa yang berada di bawah tanah.

Kisah pengembangan ascender
Sketsa Peradaban Goa

Marcel Bonar yang bertanggung jawab dalam penulisan cerita, mulai merangkai cerita utama dan quest yang harus diselesaikan pemain. Cukup lama waktu yang dihabiskannya untuk membuat cerita yang menarik dan memiliki keunikan pada premise-nya. Tidak heran Ascender menyabet Best Narrative di ajang IN.Game Awards tahun 2016 lalu. Bonar bisa sangat poetic dalam menjelaskan hal simpel sekalipun. Hingga akhirnya jalinan cerita dalam bentuk percakapan dan quest terjahit indah dalam puzzle game. Tulisan Bonar terkait proses pembuatan ceritanya ada di tautan ini.

Seiring proses pembuatan cerita mulai terangkai dan kelihatan arah dunia dan karakter yang akan muncul di Ascender, tim visual artist juga sudah mulai membuat sketch kota, bangunan, karakter dan NPC.

kisah pengembangan ascender kisah pengembangan ascender kisah pengembangan ascender

Proses pewarnaan distrik Rajumla

Terdapat 7 distrik di peradaban Goa yaitu Dolopo, Mustang, Hymla, Rajumla, Helion, Everest dan Ranesh. Setiap kota memiliki cirinya masing-masing sesuai dengan kondisi dan sumber daya alamnya. Deskripsi lengkap tiap kota terdapat di tautan ini.

Rizal sang Art Director masih memiliki pekerjaan full time sebagai Dosen. Sepulang dari kampus dia menghabiskan malamnya dengan menggambar setiap wilayah di tiap distrik. Ratusan jumlah gambar yang dibuat di ukuran kertas A4. Terkadang dia bahkan tidak sadar matahari sudah bersinar dan dia masih terus menggambar. Setelah gambar selesai ada 4 artist yang melanjutkan proses pewarnaan secara digital yaitu Dayinta, Daru, Emily, dan Rhea. Jika kamu tertarik mengetahui proses/perjalanan “menyakitkan” yang dilalui kelimanya kamu dapat meluangkan waktu untuk membaca tautan ini dan ini.

Di bagian artist masih ada 3 intern lagi yang membantu dalam pembuatan dynamic environment dan NPC. Mereka adalah Faiz, Dio dan Icha. Jadi jumlah total artist yang terlibat dalam pembuatan Ascender adalah 8 orang.

Ascender, Game dari Tangerang Sabet Peringkat Ketiga di Kompetisi Game Indie Dunia!

Ascender akhirnya berhasil menduduki peringkat ketiga sebagai game paling terfavorit pilihan gamer di GDWC 2016! Selamat!
Baca Juga

Bagaimana dengan proses pengembangan dari sisi programming-nya? Lanjut ke halaman kedua.