Review Filosofi Kopi 2: Ketika Mimpi Bertemu Realita

Review Filosofi Kopi 2

Filosofi Kopi 2 baru dirilis pada tanggal 13 Juli lalu. Gimana ya filmnya? Kali ini, kita akan kupas tanpa spoiler!

Baca Juga

Film Filosofi Kopi 2: Ben dan Jody Rilis Teaser Perdana. Ada Luna Maya!

Film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody rilis teaser perdana. Bagaimana keseruan dari sekuel film garapan Visinema Pictures ini?
Baca Juga

Oke, sebelum kita mulai, saya mau jujur sedikit. Saya tidak pernah melihat trailer untuk film ini. Saya tahu bahwa akan ada sekuel untuk Filosofi Kopi ketika saya memutuskan untuk nonton sebuah film Hollywood di salah satu bioskop di Tangerang. Saat itu, saya lihat ada poster Filosofi Kopi 2 di bagian “Coming soon.”

Yang ada di pikiran saya? “What. Sekuel buat apaan…”

Untuk kalian yang tidak tahu tentang Filosofi Kopi, film ini merupakan sebuah film adaptasi cerita pendek oleh ibu suri, Dewi Lestari. Sebuah drama yang berpusat pada kopi, dan bagi saya pribadi adalah adaptasi cerita Dewi Lestari yang terbaik—sama seperti Perahu Kertas.

“Tapi untuk sekuel… rasanya tidak dibutuhkan,” adalah apa yang saya pikirkan. Bahkan sampai sebelum masuk ke bioskop pukul 12.15 siang itu.

Saya 50:50 benar.

Sinopsis

Masih dengan dua karakter yang sama dari film sebelumnya yang diangkat dari cerita pendek Filosofi Kopi karya Dewi ‘Dee’ Lestari, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody menceritakan tentang apa yang terjadi setelah mimpi mereka berdua di film pertama terwujud: berkeliling Indonesia untuk membagi “kopi terbaik” lewat kombi Filosofi Kopi.

Tapi layaknya jalanan yang mereka lalui, mimpi tak selamanya lurus dan mulus. Suatu hari di Bali, anggota pendiri Filosofi Kopi masing-masing memilih untuk mengundurkan diri karena alasan mereka sendiri-sendiri. Yang tersisa hanya Ben & Jody untuk menelusuri apakah mimpi mereka harus tetap begini, atau berubah mengikuti situasi.

Dengan hanya sisa mereka berdua, Ben & Jody memutuskan untuk membuat sebuah mimpi baru—lebih tepatnya, mencoba mewujudkan mimpi lama mereka dengan cara yang berbeda: kembali ke Jakarta dan membuat Filosofi Kopi kembali menjadi kopi nomor satu di kota tempat mimpi mereka pertama tercipta.

Kembali ke Akar

Sumber gambar: Pixabay

Kalau Filosofi Kopi yang pertama menceritakan tentang perjuangan mereka membuat kopi nomor satu di Indonesia, maka Filosofi Kopi 2: Ben & Jody mengambil pendekatan yang jauh berbeda. Ben & Jody yang selama ini mabuk dalam mimpi mereka membagikan “kopi terbaik,” terbentur realita bahwa semuanya tidak bisa berjalan semulus itu.

Apa yang ditawarkan Filosofi Kopi 2 tidak lagi sekedar drama kopi, dan bagaimana cara meracik sebuah kopi yang baik. Film kedua ini menawarkan sebuah perkembangan karakter yang memang tidak bisa ditelusuri sedalam ini pada film pertama.

Bukan berarti film Filosofi Kopi pertama jelek, tapi pada film itu eksplorasi karakter dilakukan berkaitan dengan mimpi awal mereka. Ben dengan harga dirinya yang jatuh saat ada peminum kopi yang bilang ia pernah menemukan kopi yang lebih enak, dan Jody yang harus memutar otak untuk menghadapi Ben yang serba spontan.

Filosofi Kopi tetap membawa hal itu, and turning it up to 11. Ben memang awalnya terlihat lebih santai, tapi begitu masalah muncul terlihatlah ia tetap Ben yang sama: meledak-ledak, dan berusaha menghindari masalah yang sesungguhnya.

Karakter Jody di film kedua juga tidak lupa dieksplor—bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Kalau fokus film pertama lebih berat ke sisi Ben, maka Filosofi Kopi 2 memberikan Jody waktunya sendiri untuk bersinar. Jody yang kerepotan dengan seluruh pilihan-pilihan Ben, Jody yang merasa selalu ada di bayang-bayang barista legendaris itu, dan Jody sebagai salah satu “ibu” dari Filosofi Kopi.


Filosofi Kopi 2: Ben & Jody memiliki kumpulan lagu yang tidak kalah indah untuk menemani beberapa adegan penting di filmnya. Di halaman berikutnya, akan kita bahas tentang musik dan final verdict untuk film ini!

1
2
REVIEW OVERVIEW
Skor Akhir
80 %

SHARE
Previous articleIklan Walmart Amerika Ini Membuat Anak-Anak Menjadi Batman dan Power Rangers!
Next articleLayanan Telegram Diblokir di Indonesia! Alasannya Karena Digunakan Jaringan Teroris?
Penulis. Menghabiskan sebagian besar waktunya membaca dan menulis hanya karena hal tersebut asyik. Bisa dihubungi lewat twitter di twitter.com/radityadji. Sering juga foto-foto dan diunggah ke instagram di instagram.com/radityadji. Harusnya, bisa diajak ngobrol kok.