Review Emoji Movie: Film Animasi Terburuk 2017?

Padahal film ini juga dibintangi oleh Sir Patrick Stewart loh. Kenapa ya kira-kira bisa jadi film animasi terburuk di tahun 2017?

Cerita dan Karakterisasi yang Tidak Masuk Akal

Kenapa Wreck-it-Ralph berhasil dan Emoji Movie tidak? Simpel. Karena Emoji.

Dalam Wreck-it-Ralph, kita bisa bersimpati dengan Ralph si karakter utama karena dia adalah karakter dari sebuah game. Hal ini bisa kita kaitkan dengan game-game yang ada di dunia nyata, dimana terkadang musuh yang dihadapi bukanlah karakter 1 dimensi yang jahat karena… mereka jahat.

Sementara itu, dalam Emoji Movie, kita memiliki kumpulan emoji yang entah bagaimana, para eksekutif dari Sony Animation pikir bisa memiliki emosi mereka sendiri. TAPI, setiap emoji hanya boleh memiliki 1 ekspresi saja loh ya.

Kadang, dalam sebuah game kita tidak hanya turut berkembang bersama jagoan yang kita mainkan, tapi juga melihat dari sudut pandang sang penjahat. Dan kadang, tujuan dari penjahat itu sama sekali tidak jahat, tapi justru situasi yang membuat mereka jahat. Dalam Wreck-it-Ralph, Ralph berusaha untuk menghancurkan stigma bahwa orang jahat sama sekali tidak bisa menjadi baik.

Dalam Emoji Movie, Gene berusaha untuk menjadi… emoji meh? Itu motivasi apa?

Siapa Target Pasarnya?

Dari trailer-trailer dan nuansa film yang ditampilkan, sekilas nampaknya Emoji Movie ditujukan untuk penonton generasi milenial. Tapi nyatanya, begitu penonton masuk ke dalam bioskop, yang disuguhkan malah berlawanan. Beberapa menit awal, dan mereka disajikan sebuah sindiran keras terhadap milenial yang memiliki attention span sangat pendek.

Apakah target pasarnya orang dewasa? Penulis agak tidak yakin dengan hal tersebut. Berapa banyak orang dewasa yang menggunakan emoji sebagai ganti teks? Kebanyakan pengguna emoji adalah generasi milenial, dan generasi tersebut juga yang diolok-olok serta disindir secara kasar oleh Emoji Movie.

Review Emoji Movie, Final Verdict-nya

Ada banyak hal yang ingin penulis katakan tentang Emoji Movie, kalau film ini bahkan bisa disebut sebagai sebuah film. Candaan dengan punch line yang amat tertebak, sindiran menyengat pada target pasarnya sendiri, karakterisasi yang penuh tanda tanya juga tidak lupa menjadi sorotan cukup besar.

Bukan hanya gagal sebagai sebuah film komedi, Emoji Movie tampak lebih seperti iklan yang dikemas untuk tayang di bioskop sebagai sebuah film. Hal terbaik di film ini adalah visualnya, dan itu juga… bukan sesuatu yang wah.. Gunakan uang kalian untuk menonton sesuatu yang lain. Atau untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat, malah.

Diedit oleh Fachrul Razi

Share this article

TENTANG PENULIS
radityadji

Penulis. Menghabiskan sebagian besar waktunya membaca dan menulis hanya karena hal tersebut asyik. Bisa dihubungi lewat twitter di twitter.com/radityadji. Sering juga foto-foto dan diunggah ke instagram di instagram.com/radityadji. Harusnya, bisa diajak ngobrol kok.