Mengenal Turtle Pop: Runner-Up Good Game Awards GGXP STGCC 2017

turtle pop

Selama di STGCC 2017, perwakilan Duniaku.net sempat mencoba sejumlah game menarik. Turtle Pop ini adalah salah satunya! Seperti apa?

Penulis, sebagai perwakilan Duniaku.net, bertanggung jawab menilai sejumlah game indie yang dipamerkan di GGXP. Turtle Pop adalah salah satu dari game tersebut. Versi yang tersedia di GGXP adalah untuk Nintendo Switch.

Stifled: Game Thriller Kreatif yang Jadi Jawara Good Game Awards GGXP STGCC 2017!

Bukan hanya toys dan komik, STGCC 2017 juga menyajikan game indie yang sangat menarik. Contohnya ya Stifled, game unik dari Gattai Games!
Baca Juga

Game yang dipamerkan di booth DigiPen Game Studios ini bergenre platform-puzzle action. Visual dan gameplay-nya mengingatkan penulis pada game Jepang seperti Mario dan Sonic. Tapi di versi yang dimainkan penulis ini ada beberapa mekanik unik yang membuat Turtle Pop memikat.


Di game ini, kamu mengendalikan seekor kura-kura. Kamu harus membantu si kura-kura ini dan teman-temannya untuk bisa sampai ke akhir level. Setiap kura-kura juga memiliki makanan favorit, misalnya semangka. Menyantap makanan favorit ini membuat si kura-kura bisa bergerak lebih cepat dan melompat lebih tinggi, sehingga kamu dapat menjangkau dataran yang mungkin terlalu tinggi atau jauh dari posisimu.

Dengan jumlah level yang luar biasa banyak, dan beberapa level memiliki bagian rahasia yang hanya dapat diakses dengan cara tertentu, game ini memang terasa sangat fun dan adiktif. Kalau tidak ada kewajiban menilai game lain, dan pertimbangan adanya orang lain yang ingin mencoba main, penulis mungkin bisa bertahan berjam-jam mencoba versi Switch Turtle Pop yang dipamerkan di GGXP.

Dengan gameplay yang fun, adiktif, dan didukung juga dengan mode alternatif seperti multiplayer dan co-op, Turtle Pop terasa sebagai game yang sangat matang dan menarik untuk dimainkan. Tak heran game ini pantas menjadi runner-up dari Good Game Awards-nya STGCC.

Penulis sendiri sempat diberi kesempatan untuk wawancara dengan tim di balik pembuatan Turtle Pop. Termasuk Andrew Carter dan Holger Liebnitz, founder dan co-founder dari Zengami.

Penulis (kanan) bersama Andrew Carter

Tim produksi menjawab beberapa rasa ingin tahu penulis terhadap game ini. Terutama: kenapa dari semua hewan yang bisa dipilih, Turtle Pop memilih kura-kura sebagai tokoh utama.

Liebnitz menyampaikan kalau timnya sudah memikirkan berbagai hewan untuk dijadikan sebagai tokoh utama, termasuk hewan seperti rakun. Namun beberapa hewan itu justru membuat pemainnya memikirkan tokoh dari game lain. Akhirnya, pilihan pun jatuh kepada kura-kura. Terutama, menurut Liebnitz, karena semua orang menyukai kura-kura.

Harus diakui, penggunaan kura-kura memang membuat game ini lebih unik.

Untuk game ini sendiri, tim produksi mengincar experience yang fun dan bisa dinikmati oleh semua keluarga. Karenanya ada fitur multiplayer dan co-op yang bisa dimainkan di Switch-mu.

Robin Choo, desainer utama game ini, menyampaikan kalau dia menyusun gamenya agar mudah untuk dipahami namun sulit untuk dikuasai. Kira-kira persis seperti game platformer klasik, yang dapat kamu pahami dalam hitungan detik tapi sulit untuk ditamatkan.

Kita lihat saja kapan para gamer di Indonesia dapat menyicipi platformer-puzzle action yang satu ini.


SHARE
Previous articleSedih, Ternyata Ano Hana Diambil dari Kisah Nyata Pembuat Ceritanya
Next articleReview IT (2017): Membawa Kembali Ketakutan Lama di Tahun 1990!
Novelis yang telah menulis cerpen Apollyon di Fantasy Fiesta 2010, Selamanya Bersamamu di Fantasy Fiesta 2011, serta novel Hailstorm dan Redfang untuk seri Vandaria Saga. Menyukai dunia video game, literatur, komik, dan tabletop game. Berharap suatu saat nanti bisa menguasai dunia lewat karya-karyanya.