Review Kumpulan Cerpen Tenebrae: Buku Ringan Berisi Tiga Kisah Horor Unik

Tenebrae

Buku kumpulan cerpen Tenebrae dirilis di booth Linemancer waktu Comifuro 9 kemarin. Bagaimana kualitas dari kumcer horor yang satu ini?

Sinopsis

Kumpulan cerpen Tenebrae terdiri dari tiga cerita.

Cerita pertama adalah Royal Poinciana. Tokoh utama menemukan ada mayat dengan perut terburai di pohon flamboyan yang ia lewati. Tentu, polisi kemudian menangani jasad mengenaskan tersebut. Tapi tetap saja tokoh utama terus melihatnya dalam perjalanan pulang.

Cerita kedua adalah Inugami. Lagi-lagi pohon flamboyan berhubungan dengan masalah cerita. Tokoh utama, masih gadis yang sama dari Royal Poinciana, kali ini menemukan seekor anjing yang tubuhnya terkubur. Anjing itu bahkan mungkin hanya bayang-bayang astral, namun tokoh utama tetap menaruh rasa iba.

Apakah rasa iba tersebut akan mendatangkan konsekuensi negatif?

Cerita ketiga berjudul Memorial Shrine. Kali ini yang disorot adalah seorang satpam bernama Henry Santosa, yang berpatroli di sebuah SMA. Di sana, ia mendapati aktivitas mengerikan yang rasanya tak pernah ia bayangkan akan ia jumpai di gedung sekolah.

Beda dengan dua cerita pertama, yang latarnya terkesan sangat Jepang, Memorial Shrine mengambil latar di Indonesia. Cerita ini juga lebih panjang dari dua sebelumnya.

Kelebihan


Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini memiliki beberapa kelebihan yang sangat terasa bagi penulis.

Yang pertama adalah harga. Tennebrae dibanderol dengan harga Rp35.000 saja. Itu adalah jumlah yang jelas sangat terjangkau, bahkan di antara kumpulan buku orisinal dan fanworks yang disajikan di ajang Comifuro 9.

Yang kedua adalah gambar sampul dari bukunya. Gambar dari nina ini mampu membangkitkan kesan misterius, walau tak benar-benar menyajikan gore dan nuansa kelam.

Tenebrae juga disajikan dengan gaya narasi light novel. Yang dimaksud di sini adalah rangkaian narasi pendek yang tidak terlalu menonjolkan detail. Untuk Tenebrae, gaya narasi tersebut bisa menyajikan plot dengan cepat dan mudah dinikmati. Selain ringkas, narasi di kumpulan cerpen ini juga rapi dan terpoles dengan baik.

Bagaimana dengan Ceritanya?

Seperti mungkin bisa kamu lihat di sinopsis, tiga cerita Tenebrae semuanya memiliki ide yang unik. Bisa dikatakan ini adalah kekuatan lain dari kumcer ini.

Yang saya permasalahkan bahwa untuk dua cerita pertama, penulis kurang berhasil memanfaatkan ide unik itu untuk menjadi bacaan menggigit. Itu bukan berarti dua kisah pertamanya buruk tentu saja. Dijamin kamu pasti bisa menikmatinya.

Masalahnya, emosi tokoh utama yang terasa kurang dieksplorasi (meskipun dua kisah itu menggunakan sudut pandang orang pertama), dan konflik yang terasa berjalan dan berakhir begitu saja membuat tidak ada kesan berarti setelah menikmatinya.

Kamu mungkin akan berkomentar, “Bagus,” tapi begitu ditanya kenapa bagus kamu kurang bisa menjelaskannya selain dari segi kualitas narasi. Kamu juga tidak merasakan senang, sedih, takut, atau emosi lainnya, menyisakan sensasi hampa.

Cerita ketiga tersaji dengan lebih oke, dan bisa dibilang adalah menu utama dari kumpulan cerpen ini. Dari pembukaannya saja kamu bisa merasakan ada yang tidak beres dengan situasi yang dialami tokoh utama. Konflik dibangun dengan baik dan bisa membuatmu merinding.

Kelemahan dari cerita ketiga ini bisa dibilang hanya penulis cerpen terasa tidak sepenuhnya tega terjun ke genre horor. Bagian akhirnya terasa seperti datang dari genre yang berbeda. Penutupnya juga terasa, sekali lagi, terjadi begitu saja.


 

Mengesampingkan kelemahannya, kumpulan cerpen Tenebrae adalah buku yang menarik untuk dicicipi. Ketiga ceritanya bisa diolah dengan lebih bagus, namun ide dan pemaparan setiap cerpen lumayan bisa memikat. Dengan harga yang terjangkau, buku ini juga tidak akan melubangi dompetmu terlalu dalam.

Secara keseluruhan, saya menilai kalau Tenebrae bisa dinikmati oleh: fan cerpen horor, fan gaya narasi light novel, fan cerita anime, dan pembaca yang mencari buku ringan.

Kalau kamu berminat, kamu bisa mencoba menghubungi Linemancer Works.


SHARE
Previous articleSungguh Tragis, 3 Shinobi Ini Tega Membunuh Guru Mereka Sendiri!
Next articleIni 5 Alasan Kenapa Zuma Jadi Game Favorit Para Pegawai Negeri Sipil Alias PNS
Novelis yang telah menulis cerpen Apollyon di Fantasy Fiesta 2010, Selamanya Bersamamu di Fantasy Fiesta 2011, serta novel Hailstorm dan Redfang untuk seri Vandaria Saga. Menyukai dunia video game, literatur, komik, dan tabletop game. Berharap suatu saat nanti bisa menguasai dunia lewat karya-karyanya.