Mengenal Hikikomori, Petapa Modern dari Jepang

hikikomori
Jintan dari anime Anohana menjadi hikikomori setelah kematian Menma. Sumber: Stuff Point

Kalian pasti pernah dengar orang Jepang yang mengurung diri selama berbulan-bulan tanpa bersosialisasi. Yuk kenalan dengan fenomena yang disebut hikikomori ini.

“Aku mulai menyalahkan diriku sendiri, dan juga orang tuaku karena aku gagal lanjut sekolah. Aku mulai merasa semakin tertekan. Lalu secara perlahan-lahan, aku mulai takut keluar, takut ketemu orang-orang. Pada akhirnya, aku jadi enggak bisa keluar rumah,” ujar Hide, seorang anak muda Jepang saat diwawancarai BBC.

Hide memutuskan semua jalur komunikasi dengan teman-temannya, lalu orang tuanya sendiri. Bahkan, untuk menghindari pertemuan dengan orang tuanya, ia tidur seharian dan beraktivitas malam hari, nonton tv.

“Aku merasa dipenuhi energi negatif. Enggak punya keinginan untuk keluar rumah, marah sama semua orang dan orang tua, sedih sama kondisi kayak begini, juga takut gimana masa depanku nanti, dan cemburu pada orang yang hidup normal,” katanya.

Hide telah menjadi hikikomori.

Sumber: Wikipedia

Hikikomori secara harfiah berati “menarik diri” atau “membatasi diri”. Hikikomori adalah istilah Jepang untuk menyebutkan fenomena orang-orang yang menarik diri dari kehidupan sosial dan mengisolasi dirinya sendiri agar tidak berhubungan dengan orang lain.

Selain fenomena, istilah ini juga merujuk pada orang yang menderita.

Fenomena ini marak dibahas dua dekade terakhir, sejak seorang psikiater bernama Tamaki Saito kedatangan sejumlah orang tua pada tahun 90-an. Orang tua tersebut mengeluh pada Saito tentang anaknya yang mengurung diri di kamar berhari-hari, bahkan dalam beberapa kasus hingga berbulan-bulan.

Pada awalnya, Saito mendiagnosa mereka mengalami kelainan jiwa dan depresi. Baru pada tahun 1998, setelah meneliti banyak kasus, ia memberi nama “hikikomori” untuk menjelaskan fenomena ini.

Penelitian dan fenomena hikikomori ini sebenarnya sudah dimulai sebelum Saito. Tahun 1978, Kasahara dalam penelitiannya menyebut kasus ini “sakit saraf ringan yang membatasi diri” sementara di tahun 80-an, Lock menyebutnya “sindrom menolak sekolah”. Baru sejak penelitian Saito-lah, media lokal dan internasional menggunakan istilah “hikikomori”.

Ilustrasi oleh Yuta Onada untuk Wall Street Journal.

Jika merujuk pada kriteria kementerian kesehatan Jepang, hikikomori biasanya melakukan segala aktivitas di rumah; tidak ada keinginan untuk sekolah dan kerja, durasi mengurung diri minimal 6 bulan; dan mempunyai sedikit atau tidak sama sekali teman.

Mereka tersebut menurut Saito, biasanya beraktivitas pada malam hari—seperti Hide—dengan bermain game, nonton anime, baca komik, atau dalam kasus ekstrem, menculik gadis kecil untuk menemaninya di dalam kamar.

Fenomena yang telah membudaya di masyarakat Jepang ini dinilai oleh media dan banyak peneliti sebagai penyakit sosial. Namun fenomena ini tidak spesifik berkaitan dengan gangguan kejiwaan tertentu.

Psikolog Alan Robert Teo dalam jurnalnya mengatakan mayoritas dari hikikomori ini menderita banyak jenis gangguan kejiwaan seperti autisme dan anxiety disorder.

Sementara di tempat lain, jurnalis Michael Zielenziger yang melakukan wawancara terhadap hikikomori dalam bukunya Shutting Out the Sun: How Japan Created Its Own Lost Generation mengatakan hikikomori lebih dekat dengan posttraumatic stress disorder atau gangguan jiwa setelah mengalami trauma.

Sumber: Monty Sponge

Pada tahun 2010, pemerintah Jepang menghitung secara kasar jumlah hikikomori mencapai angka 700 ribu jiwa dengan rata-rata usia 31 tahun. Yang paling tua di antara mereka (disebut sebagai generasi pertama hikikomori) berusia 40-an tahun. Hikikomori generasi pertama ini diyakini memutuskan hubungan sosial mereka selama lebih dari 20 tahun.

Pemerintah Jepang, seperti dilansir dari The Japan Times mengestimasikan sekitar 1,55 juta jiwa sedang berada di ambang menjadi hikikomori. Sementara itu, Saito sendiri memperkirakan jumlah hikikomori di Jepang sudah mencapai angka 1 juta jiwa dengan 70-80 persennya adalah laki-laki.

Sulitnya mencatat angka yang tepat ini disebabkan oleh hikikomori yang pada umumnya menghilangkan diri dan keengganan orang tua untuk membicarakan masalah ini.

Mengapa hikikomori bisa merebak di Jepang? Simak di halaman selanjutnya.

1
2

SHARE
Previous articleReview Rage (2016): Melodrama Berkedok Kisah Misteri Pembunuhan
Next articleBlade Runner 2049 Mendapatkan Tanggapan Awal Yang Positif!
Merayakan film dan mengolok Liverpool.