Review Posesif: Potret Personal Hubungan Beracun

Bisa dibilang, Posesif adalah film Indonesia terbaik tahun 2017 sejauh ini

Dalam separuh awal film, kita tak diberi tahu latar belakang Yudhis. Apa yang menyebabkan ia seposesif dan seagresif itu? Penonton di depan saya membubuhkan frasa “film psikopat” ketika merekam film ini di Instagram (jangan ditiru!). Edwin (Babi Buta yang Ingin Terbang, 2008), dan penulis naskah Gina S. Noer (Habibie & Ainun, 2012) sukses membutakan mata penonton untuk membenci Yudhis.

Posesif ini adalah film komersil pertama Edwin setelah sebelumnya membuat film-film pendek. Babi Buta yang Ingin Terbang (Blind Pig Who Wants To Fly) memenangkan International Federation of Film Critics (FIPRESCI) Awards 2009 lalu dan Kebun Binatang (Postcards from the Zoo) meraih nominasi Golden Bear Berlinale di tahun 2012.

 

Kembali lagi pada karakterisasi sebelumnya, itulah yang membedakan Posesif dengan film remaja lain, katakan saja One Fine Day, film remaja terkini sebelum Posesif. Baik karakter Lala maupun Yudhis diberi kesempatan untuk menunjukkan sisinya yang lain. Mereka tidak satu dimensi saja, seperti jika seseorang digambarkan jahat, ia memang dan akan selamanya jahat. Sinetron Indonesia banyak terjebak dalam lubang ini.


CONTINUE READING BELOW

Review One Fine Day: Cinta Bersemi di Barcelona

Drama remaja ini yang cheesy ini sejatinya umpan manja untuk para fans Jefri Nichol. Simak alasannya dalam review One Fine Day berikut.


Semakin film beranjak akhir, penonton bisa melihat kenyataan bahwa Lala tidak sebaik yang kita kira, atau Yudhis tidak sejahat itu. Mereka berdua sejatinya adalah korban dari sistem relasi yang lebih besar. Semua punya dosanya masing-masing.

Karakter yang multi-dimensi seperti Lala dan Yudhis ini membuat penonton bersimpati, oleh selanjutnya menjadi relatable dalam kehidupan sehari-hari remaja. Banyak muda-mudi masa kini yang akrab dengan istilah toxic relationship.

Film Posesif adalah film yang penting untuk menyebarkan awareness terhadap kekerasan dalam hubungan. Ia tidak bermaksud menggurui penonton tentang bagaimana kita harus berhubungan secara sehat, tetapi memberi kita sebuah contoh pahit daripadanya.

Dalam hubungan percintaan, pertengkaran itu hal yang biasa. Tetapi seharusnya tidak ada tempat untuk kekerasan. Pria seperti Yudhis seringkali menggunakan tangannya sebagai manifestasi dari dominasinya terhadap pasangan. Seberapa pun usahanya untuk meminta maaf setelahnya, itu tetap akan kelihatan menjijikkan.

Begitu juga dengan wanita yang punya stereotip mood labil atau suka ngambekan. Kadang-kadang bikin pasangan gerah dan menjadi sumber hubungan beracun.

Tidak hanya memaparkan masalah dan menyebarkan awareness, Posesif juga bijak dalam menunjukkan kepada penonton bahwa selalu ada api di balik tebalnya asap. Penting bagi pasangan untuk saling mengerti satu sama lain tanpa melakukan penilaian terburu-buru.

Hubungan percintaan yang sebaiknya berada dalam konsep saling menyayangi berubah menjadi saling menyakiti satu sama lain. Namun walaupun saling menyakiti, banyak pasangan masih tetap ingin mempertahankan hubungannya.

Edwin dan juga Gina mengangkat hal yang cukup tabu tersebut ke dalam layar lebar.

Tabu dalam format miring karena penggunaan tema ini tidak ada yang melarang atau menentang, namun banyak film remaja Indonesia yang ogah mengangkatnya. Film remaja kita banyak terjebak dalam pusaran tema yang itu-itu saja, tanpa, misalnya mengangkat topik kekerasan dan kesehatan mental remaja dalam hubungan asmara.

Jika pada film remaja lain akan sering ditemukan adegan romantis, Posesif justru mempertontonkan kekerasan fisik secara brutal sehingga terasa perihnya.

Posesif tidak seperti tipikal film remaja lain yang dipenuhi—atau sengaja dipenuhi—adegan-adegan cheesy. Ia lebih mirip horor-thriller daripada drama remaja: menegangkan sembari menciptakan kengerian bagi penonton. Posesif dengan berani menunjukkan hubungan pesakitan Lala dan Yudhis secara intens sekaligus creepy.

Selain penyutradaraan Edwin dan naskah Gina di atas, performa Putri Marino dan Adipati Dolken patut diacungi empat jempol. Ini adalah debut pertama bagi Putri, namun kualitas aktingnya membuat banyak aktris lain terasa seperti sedang main-main saja. Putri menambahkan ketulusan lewat ekspresi wajah serta gerak tubuhnya. Singkatnya, ia terlihat total memerankan Lala.

Penampilan Adipati juga luar biasa. Kita bisa melihat karakter Yudhis yang rumit dengan sisi-sisi lainnya yang tak tampak di layar. Naskah Gina memang tidak menjelaskan secara gamblang bahwa Yudhis adalah remaja dengan problem kejiwaan, akting Adipatilah yang menunjukkan hal tersebut secara subtil di sepanjang film.

Keduanya membuat film ini terasa personal dan sangat pantas diganjar Piala Citra untuk pemeran utama pria dan wanita terbaik.

Selain itu, pemilihan lagu-lagunya juga patut mendapat apresiasi. Posesif memasukkan lagu-lagu seperti Sampai Jadi Debu oleh Banda Neira hingga Dan… oleh Sheila on 7. Lagu Dan… yang bercerita tentang permintaan maaf jadi berubah maknanya ketika dinyanyikan oleh Yudhis dan Lala. Tapi it’s in a good way. Ternyata bisa cocok juga dengan film ini.

Pada akhirnya, tanpa bermaksud melupakan film-film yang akan tayang hingga akhir tahun nanti, Posesif adalah film Indonesia terbaik tahun 2017 sejauh ini. Walaupun didera oleh kontroversi, jumlah 10 nominasi yang ia dapat dalam pergelaran Festival Film Indonesia 2017 memang layak adanya. Semoga film remaja Indonesia selanjutnya dapat belajar dari film ini.

Diedit oleh Fachrul Razi


Mau coba berbagai game dan VR buatan dalam negeri secara gratis? Raih banyak hadiah secara gratis, dan main sepuasnya? Yuk kunjungi BEKRAF Game Prime 2019, di Balai Kartini Jakarta, hari Sabtu dan Minggu, 13-14 Juli 2019. Acaranya gratis lho guys, jadi daftar sekarang ya di sini!

Share this article

TENTANG PENULIS
Lazuardi Pratama

Merayakan film dan mengolok Liverpool.