Review No Game No Life Zero: Lebih Cocok Disebut No Fanservice, No Life

Bagi yang ingin menonton filmnya, review No Game No Life Zero akan membuat kamu berpikir ulang untuk menonton filmnya karena dibumbui banyak fanservice.

No Game, No Life merupakan serial anime yang populer di kalangan pecinta animanga dan menjadi serial yang sangat hype di tahun 2014. Salah satu penyebab kepopuleran tersebut tentunya adalah tema, karakter dan cerita tersebut yang mampu menangkap perhatian para pecinta animanga dan berharap bisa menjadi sekeren karakter utamanya, Sora dan Shiro, yang bisa menaklukkan dunia dengan bermain game meski pada kenyatannya mereka adalah makhluk hikikomori yang tidak pernah bergaul dengan dunia luar sama sekali dan terjebak dalam dunia fantasi yang sebenarnya ada-ada saja.

Ditambah lagi serial ini mempunyai banyak fanservice yang sebenarnya tidak penting dan malah menganggu cerita, tetapi para pecinta animanga suka dengan ke-loli-an dari Shiro jadi itu bukan menjadi masalah besar harusnya.

RESMI: Movie No Game No Life Zero Bakal Tayang di Indonesia!

Kabar baik bagi penggemar No Game No Life, nih! Yep, movie No Game No Life Zero bakalan tayang di Indonesia, lho! Lihat trailernya di dalam artikel!
Baca Juga

Pengaruh dari serial ini begitu besar di kalangan pecinta animanga. Tiba-tiba banyak yang memakai kaos yang dipakai Sora dan berharap mereka bisa menjadi raja game. Ketika serial animenya berakhir semua pecinta animanga langsung beramai-ramai menunggu kapan musim kedua dari serial anime yang terlalu banyak menggunakan warna pastel yang membuat mata cukup nyeri melihatnya.

Untuk menjawab kehausan dari para pecinta No Game, No Life pihak Kadokawa selaku pemegang hak cipta dari serial ini memberikan sebuah film pemuas dahaga para penggemar serial ini berjudul No Game, No Life Zero yang sudah dirilis di Jepang pada 9 September 2017 dan baru dirilis pada tanggal 25 Oktober 2017. Mari kita menyimak review No Game No Life Zero:

Sinopsis

Review No Game No Life Zero: Lebih Cocok Disebut No Fanservice, No Life

No Game, No Life Zero sebenarnya mempunyai potensi yang bagus di awal. Namun, mereka menghancurkan semua hal tersebut layaknya bom nuklir akibat terlalu banyak fanservice murahan

Abaikan

No Game, No Life Zero bercerita tentang sebuah dunia yang semuanya ditentukan oleh game bernama Disboard dan cerita dimulai sebelum kejadian yang ada di serial No Game No Life. Cerita berpusat pada sebuah karakter bernama Riku yang melarikan diri dari sebuah peperangan besar yang terjadi untuk merebut gelar “One True God” dan menguasai dunia. Meskipun manusia menghadapi kepunahan akibat perang tersebut hatinya masih percaya pada hari esok.

Suatu hari, ketika ia melewati sebuah kota Elf yang ditinggalkan, ia menemui seorang mesin perempuan bernama Shuvi. Shuvi dikatakan telah rusak dan dibuang dari kelompoknya. Sepanjang cerita, Riku dan Shuvi berusaha untuk mengetahui apa arti sebenarnya hati dan perasaan manusia.

Cerita yang bagus di awal…..

Di menit-menit awal, No Game, No Life Zero mempunyai premis cerita yang menarik dan seru untuk dilihat lebih lanjut. Cerita dimulai dari Riku yang sudah kehilangan banyak temannya akibat perang hebat antar berbagai macam ras dan mampu membangkitkan emosi penonton dengan tampilan dan musik dramatis yang disuguhkan.

Tema survivalism terus diumbar di menit-menit awal anime seolah menunjukkan bahwa kali ini No Game, No Life Zero adalah sebuah anime yang serius dan tidak main-main dalam menunjukkan rasa tragis akibat peperangan besar. Semuanya berjalan sangat normal dan tidak ada kesan bahwa anime ini akan berantakan.

Sampai ia bertemu seorang robot loli bernama Shuvi.

….tetapi semakin berantakan di akhir

Pertemuan Riku dengan Shuvi menjadi titik balik dari anime ini dan menghancurkan semua keepikan yang sudah diceritakan di awal. Ketika Riku bertemu robot loli semua citra epik seolah buyar dalam sekejap dan digantikan dengan fanservice yang tidak penting dan sangat menganggu.

Begitu cerita semakin berjalan bumbu fanservice tersebut semakin menjadi-jadi. Semua keklisean dari novel ringan yang ditujukan untuk otaku yang menganggap bahwa isekai dan fanservice wajib muncul untuk membuat cerita semakin hebat ditunjukkan berkali-kali dan berulang-ulang.


Ada apa dengan cerita dan fanservice dari film ini sehingga merusak kualitas dari filmnya? Simak lanjutan review No Game No Life Zero pada halaman berikutnya!

1
2
REVIEW OVERVIEW
No Game, No Life Zero
20 %

SHARE
Previous articleEA Minta Fans Hentikan Distribusi Battlefield Lawas
Next articlePembahasan Vandaria Saga Red Deimos Episode 13: Kemampuan Nero
Penyiar dan Tukang Kritik Anime, Musik, Film di blog pribadinya RE:PSYCHO. Senang akan hal berbau senang-senang. Sekarang belajar caranya menaklukkan industri pop kultur di Asia Tenggara