Nostalgia Review Nausicaä of the Valley of the Wind — Studio Ghibli pada Mulanya

Untuk merayakan penayangan kembali film ini sebagai bagian dari acara World of Ghibli Jakarta, Duniaku.net me-review Nausicaä of the Valley of the Wind. Film ini  disebut sebagai karya pertama Studio Ghibli sekaligus menjadi penegak ciri khasnya selama lebih dari 30 tahun perjalanan mereka.

Sebelum memulai review Nausicaä berikut, coba dengarkan soundtrack hasil gubahan Joe Hisaishi yang bisa kamu buka via Spotify ini.

Pada 15 Juni 1985, sekumpulan bapak-bapak paruh baya membentuk sebuah studio animasi. Mereka kemudian dikenal dengan nama Hayao Miyazaki, Isao Takahata, dan Toshio Suzuki, serta Yasuyoshi Tokuma dari publisher Tokuma Shoten yang menjadi induk perusahaan.

Hari itu kemudian menjadi dikenang karena studio yang diprakarsai bapak-bapak ini berhasil mengguncang dunia lewat karya-karyanya. Sebut saja My Neighbor Totoro (1988), Grave of the Fireflies (1988), Princess Mononoke (1997), hingga Spirited Away (2001). Film yang disebut terakhir berhasil menyabet Best Animation di pergelaran Oscar.

Sejak kelahirannya tersebut, Ghibli dengan cepat menjadi satu-satunya studio animasi Jepang yang karyanya begitu dikagumi secara domestik (Jepang) maupun internasional, juga dari mulai maniak anime, pencinta film, hingga penonton awam.

review Nausicaä
Sumber: Movie Mezzanine

Film Animasi My Neighbor Totoro Bakal Hadir di Dunia Nyata Lewat Taman Hiburan Ghibli Park

Ghibli Park tersebut bakal menggunakan konsep dan desain yang mirip dengan film anime karya Hayao Miyazaki, yakni My Neighbor Tototo.
Baca Juga

Namun dari segala kesuksesan Ghibli tersebut, tidak bijak jika kita melupakan dari mana semua itu berasal. Nausicaä of the Valley of the Wind (1984) atau disingkat saja Nausicaä adalah film pertama Ghibli. Walaupun rilis setahun sebelum lahirnya Studio Ghibli, tetapi film ini dinilai sebagai film pertama karena ia menjadi alasan mengapa bapak-bapak pemrakarsa tadi bisa berkumpul.

Nausicaä juga menjadi tonggak awal di mana ciri khas film animasi keluaran Ghibli/Miyazaki ditegakkan, dari mulai penggunaan tokoh utama perempuan yang kuat dan mandiri hingga tema relasi manusia dengan alam.

Sinopsis

Sumber: Movie Mezzanine

Sebelum masuk review Nausicaä, film ini punya cerita epik tentang konflik manusia dengan alam. Diadaptasi dari serial manga yang ditulis dan digambar oleh Miyazaki, Nausicaä bercerita tentang dunia distopia di masa depan. Jadi ceritanya, hampir seluruh dunia sudah dipenuhi oleh Hutan Beracun sebagai akibat dari perang habis-habisan antara manusia.

Disebut “The Seven Days of Fire”, perang ini memusnahkan sebagian besar umat manusia dan meninggalkan polusi mematikan yang dapat membunuh. Polusi ini berasal dari spora yang juga bisa membuat serangga menjadi mutan raksasa.

Salah satu serangga yang terkenal adalah Ohmu, serangga raksasa mirip siput dengan cangkang yang tak dapat dihancurkan. Sisa-sisa peradaban manusia terakhir terbagi-bagi ke dalam beberapa desa, yang dari salah satunya menjadi rumah bagi Nausicaä.

Sumber: Movie Mezzanine

Nama Nausicaä sebenarnya berarti “putri” dalam bahasa Yunani, namun ia lebih suka berpetualang menembus Hutan Beracun dengan glider atau pesawat ringan untuk mempelajari berbagai spesies serangga.

Walakin sebagai manusia pencinta alam, Nausicaä kemudian harus dihadapkan pada keputusan dilematis ketika Kerajaan Tolmekia mencoba menggunakan kekuatan purba untuk membasmi Hutan Beracun. Pihak mana yang akan ia pilih? Manusia atau alam?


Bagaimana Nausicaä menjadi penegak ciri khas Studio Ghibli? Simak alasannya dalam review Nausicaä di halaman berikut!

1
2
REVIEW OVERVIEW
Skor Film
90 %

SHARE
Previous articleRekomendasi 5 Film Indonesia Bulan November yang Harus Kamu Tonton
Next articleShadow of the Colossus Remake Bakal Rilis Pada 6 Februari 2018!
Merayakan film dan mengolok Liverpool.