Review Uchiage Hanabi (2017): Drama Cinta yang Tidak Fokus

Uchiage Hanabi mempunyai konsep film yang menonjolkan eskapisme dan penolakan sayangnya tidak diiringi oleh eksekusi yang kuat dan solid

Konsep film yang menonjolkan eskapisme sayangnya tidak diiringi oleh eksekusi yang kuat dan solid. Simak selengkapnya dalam review Uchiage Hanabi.

Setelah pada tahun lalu dunia film Jepang dikejutkan oleh film buatan Makoto Shinkai Kimi no Na wa dan menjadi fenomena pop kultur dalam waktu instan, tiba-tiba para pembuat film animasi Jepang ramai-ramai membuat film yang mirip dengan Kimi no Na wa entah dari segi art, cerita, tema fantasinya dan lain sebagainya dengan harapan bisa menggaet penonton dan menimbulkan fenomena baru.

Salah satu film animasi yang terkesan ingin memposisikan dirinya seperti Kimi no Na wa pada tahun ini adalah Uchiage Hanabi, Shitakara Mieruka? Yokokara Mieruka? atau disingkat Uchiage Hanabi atau dalam bahasa Inggrisnya Fireworks.


CONTINUE READING BELOW

RESMI: Anime Uchiage Hanabi Akan Diputar di Indonesia!

Salah satu film yang paling populer di musim panas berjudul Uchiage Hanabi akan menyambangi bioskop Indonesia pada bulan November nanti


Film animasi yang diadaptasi dari sebuah FTV karya Shunji Iwai berjudul sama yang ditayangkan pada 26 Agustus 1993 berhasil membuat Shunji Iwai dianugerahi penghargaan Sutradara Baru Terbaik oleh Serikat Sutradara Jepang. Uchiage Hanabi diadaptasi menjadi film animasi oleh studio Shaft (Bakemonogatari, Puella Magi Madoka Magica, Sayonara Zetsubou Sensei, Nisekoi) dengan naskah yang ditulis oleh Hitoshi Ohne (Bakuman Live-Action).

Film yang telah dirilis di Jepang pada 18 Agustus 2017 ini dibintangi oleh dua artis Jepang kenamaan yaitu Suzu Hirose dan Masaki Suda.

Film ini terdorong berkat lagu temanya berjudul “Uchiage Hanabi” yang dinyanyikan oleh Daoko dan Kenshi Yonez. Lagu ini berhasil menjadi juara selama 2 minggu di Billboard Japan Hot 100 dan 11 minggu berturut-turut di Billboard Japan Hot Animation.

Lagu ini juga telah mendapatkan 64 juta view di YouTube hanya dalam waktu dua bulan setelah video klipnya dirilis dan membuat lagu ini menjadi lagu Jepang keempat yang mendapatkan jumlah view lebih dari 35 juta dalam waktu sebulan setelah Radwimps dengan Zenzenzense, Gen Hoshino dengan Koi, dan Pikotaro dengan PPAP.

“Uchiage Hanabi” juga berhasil mengalahkan lagu Ed Sheeran “Shape of You” selama sepuluh hari dalam chart Japan Daily Top Tracks di Spotify.

Semua orang memang terpana dan tersentuh mendengar lagu “Uchiage Hanabi” apalagi video klipnya terasa seperti trailer berkedok video klip. Apakah filmnya mampu menyentuh dan membuat terpana penontonnya. Mari kita simak review Uchiage Hanabi versi tahun 2017 ini.

Sinopsis

[youtube_embed id=”KG770hOuT2k”]

Film ini menceritakan kejadian di musim panas di mana sekelompok pemuda ingin melihat kembang api dari mercusuar kota sambil bertanya apakah kembang api berbentuk lingkaran atau datar jika dilihat dari sisi yang berbeda. Seorang cewek bernama Nazuna mengajak Norimichi yang menyukai Nazuna untuk kabur bersamanya. Nasib apa yang menanti kedua orang ini dalam hari-hari yang terus mengulang terus menurus dan mereka terjebak di dalamnya?.

Konsep yang Luar Biasa

Jika ditilik lebih lanjut sebenarnya adaptasi film animasi Uchiage Hanabi mempunyai dimensi yang jauh berbeda daripada karya aslinya. Adaptasi Uchiage Hanabi yang baru membawa tema eskapisme dan penolakan yang selalu dipancarkan dalam diri Norimichi.

Secara karakter tema ini tepat dibawakan oleh seorang karakter Norimichi yang merupakan seorang anak polos yang ingin terus selalu bersama Nazuna sehingga tema tersebut relevan dengan sikap anak remaja yang masih labil. Tema tersebut juga didukung dengan kejadian pengulangan waktu atau time looping cerita ini yang menguatkan tema eskapisme.


Apa yang salah dari film anime Uchiage Hanabi? Simak lanjutan review Uchiage Hanabi di halaman berikutnya

Share this article

TENTANG PENULIS
Luthfi Suryanda

Penyiar dan Tukang Kritik Anime, Musik, Film di blog pribadinya RE:PSYCHO. Senang akan hal berbau senang-senang. Sekarang belajar caranya menaklukkan industri pop kultur di Asia Tenggara