Review Hujan Bulan Juni: Perkawinan Film dan Puisi

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Ceileeeeh~

Gagalnya Perkawinan Film dan Puisi

Puisi-puisi Sapardi memang indah dengan olah kata mengagumkan, tetapi pembaca (dan penonton) butuh waktu untuk diberi kesempatan berimajinasi dan menginterpretasikan makna puisi tersebut sendiri.

Sementara film ini menarasikan ceritanya secara tersurat, yang berarti banyak penjelasan gamblang tentang apa yang sedang terjadi.

Misalnya, saat Katsuo melangkah menjauhi Pingkan, muncul voiceover suara Velove yang mengatakan apa yang sedang terjadi antara dia dan Katsuo. Ini membuat penonton merasa tak perlu membuat interpretasi sendiri, sebab sudah dikatakan langsung oleh film.

Sementara itu puisi Sapardi:

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

Penuh dengan kiasan dan multitafsir.

Celakanya, karena perselisihan antara cara bercerita film dan puisi ini digabungkan menjadi satu, maka keduanya berebut atensi penonton. Keindahan puisi Sapardi datang dengan kesulitan penonton mencerna maknanya dalam sekilas. Apalagi film Hujan Bulan Juni tak memberi waktu banyak agar penonton dapat membaca teks puisi yang ternukil di layar perak.

Maka menonton cenderung lebih memilih yang mudah-mudah saja, yaitu sekadar menikmati keindahan puisi Sapardi, seakbar apa pun makna di baliknya.

Lalu, bagaimana caranya agar film dan puisi dapat kawin? Dengan visualisasi puisi. Visualisasi puisi memungkinkan Hujan Bulan Juni tak perlu berbicara banyak, lupakan voiceover apa yang sedang terjadi, dan bermainlah dengan gambar.

Seperti halnya kata, gambar juga bisa puitis. Dan itulah yang tak tergambar dalam Hujan Bulan Juni. Banyak dari puisi Sapardi hanya sekadar menjadi teks yang tertempel di layar, dengan latar belakang yang di-blur.

Hestu Saputra dan penata gambar Faozan Rizal bisa bereksperimen dengan visual yang menggambarkan makna puisi yang sedang dirapal.

Ada beberapa kali film ini bereksperimen dengan gambar-gambar yang puitis, seperti ketika mereka di Manado, Pingkan bermimpi berada di puncak gunung bersalju bersama seorang geisha yang menari-nari. Tapi ini tak dilakukan ketika film mulai memasuki jadwal membaca puisi—yang semakin ke belakang semakin terlihat repetitif.

Pilihan ini sebenarnya wajar jika mengingat film ini adalah film komersil dan keputusan untuk condong ke arah film yang puitis justru akan menyingkirkan mayoritas penonton film Indonesia.

Padahal, tata gambar oleh Rizal menciptakan banyak lansekap indah, terutama saat film memasuki cerita di Manado. Ada banyak situs-situs yang indah ditangkap mata lensa, seperti Patung Yesus Memberkati, Danau Linow, hingga Pantai Likupang.

Semuanya diolah tanpa membuatnya terlihat dieksploitasi habis-habisan (yes i’m talking to you, Trinity, the Nekad Traveler). Tapi yang paling indah adalah pencahayaan film ini. Berbagai warna cahaya dari lampu pendar dimanfaatkan, seperti merah dan biru di Kota Manado dan oranye dan hijau ketika mereka mampir di masjid. Elok sekali.

Usaha untuk mengawinkan film dan puisi ini sangat terbantu oleh penampilan para aktornya. Adipati Dolken, yang baru-baru ini terlihat creepy jika kamu telah menonton Posesif, berhasil memberi aura kaku, jadul, namun berpendirian teguh ke dalam tokoh Sarwono. Sementara itu pasangannya, Velove Vexia mengimbanginya dengan energi dan keceriaan ke dalam diri Pingkan.


CONTINUE READING BELOW

Review Posesif: Potret Personal Hubungan Beracun

Mengangkat topik toxic relationship secara intens dan personal, Posesif membuat film remaja lain terasa cemen. Simak mengapa dalam review Posesif berikut.


Penampilan paling memuaskan tak disangka-sangka datang dari Baim Wong, yang memerankan tokoh Ben. Ia yang selama ini dikenal lewat berbagai perannya di sinetron dengan sangat baik menyuntikkan kehidupan ke dalam karakter Ben. Logat Minahasanya terdengar sangat natural dan bahasa tubuhnya yang energetik berhasil membuat penonton tertawa.


CONTINUE READING BELOW

Review Beyond Skyline: Aksi Iko Uwais Melawan Alien dengan Silat!

Jika melawan alien dengan senjata canggih pun tak cukup, lawan dengan silat. Film ini membuktikannya. Simak alasannya dalam review Beyond Skyline berikut!


Sebagai kesimpulan dari review Hujan Bulan Juni ini adalah, bahwa film ini berupaya untuk mengawinkan medium film dan literatur (puisi). Sayangnya kedua unsur tersebut terlalu keras kepala, dan medium film tak mampu sinkron dengan puisi sehingga meninggalkan sedikit sekali kesan buat penonton, apalagi endingnya diakhiri dengan terburu-buru.

Diedit oleh Doni Jaelani

Share this article

TENTANG PENULIS
Lazuardi Pratama

Merayakan film dan mengolok Liverpool.