Nostalgia Review The Gods Must Be Crazy: Sebuah Komedi Manusia dan Alam

Mengapa film ini mampu mendapatkan rating yang nyaris sempurna? Simak pembahasannya!

Formula Komedi yang Harmonis

Mungkin kalian bertanya-tanya, apa sih yang membuat film ini begitu lucu hingga sukses membuat gelak tawa meledak? Gaya bicara para tokoh, tingkah lakunya atau sederet kejadian aneh yang menimpa mereka? Penulis rasa semua jawaban itu benar adanya.

Salah satu karya Jamie Uys ini mampu memadukan antara komedi observasi, karakter dan komedi cringe dengan sempurna. Kita bisa lihat bagaimana Xi dengan polosnya menyikapi kehidupan modern di sekitarnya, cara Andrew saat bertatap muka dengan Kate dan memanggil mobilnya dengan sebutan Anti-Kristus karena sering membawa sial.


CONTINUE READING BELOW

% 5 Film yang Kamu Harus Tonton di Bulan Desember

Selain Lebaran, bulan Desember adalah bulannya orang Indonesia nonton di bioskop. Ini 5 rekomendasi film asing bulan Desember yang tak boleh kamu lewatkan!


Momen-momen kocak yang dipersiapkan dengan memperhitungkan timing yang pas itulah yang menjadi resep khusus andalan Jamie Uys dalam memancing tawa para penontonnya. Hal yang tentu saja sulit ditemukan pada film-film lain dengan genre yang sama.

Melawak Boleh, Tapi Tetap Ada Pesan Moralnya

Meskipun bergenre komedi, The Gods Must Be Crazy juga memiliki sebuah pesan moral yang terkandung di dalamnya. Dari filmnya, kita bisa belajar bahwa sesungguhnya ukuran sebuah kebahagiaan bukanlah tentang material belaka.

Hal itu telah dibuktikan oleh Xi dan Kate Thompson. Xi sadar, botol kaca yang dianggapnya merupakan pemberian dewa hanya akan membawa perpecahan bagi sukunya. Kate sendiri yang merupakan mantan jurnalis juga sadar kehidupannya sebagai guru ternyata lebih membahagiakan daripada hidup di perkotaan yang serba ketat.

Kesimpulan: It’s Over 9000 of Laugh

The Gods Must Be Crazy merupakan salah satu mahakarya di genre komedi yang tak terlupakan. Pembawaan para karakternya yang terkesan ada yang alami dan ada yang sengaja dibuat gimmick membuat penonton tak bisa mengakhiri tawanya dari awal sampai akhir. Jangan lupa juga akting si baboon yang turut memeriahkan kisah Xi dan teman-temannya.

Selain itu penggambaran suasana khas Afrika seolah juga turut mengajak para penggemarnya untuk bertualangan sejenak melupakan hingar-bingar khas perkotaan. Film ini juga mengajarkan bahwa tak selamanya materi akan membahagiakan, hanya cinta dan keluargalah yang pasti bisa membuat diri kita terasa sempurna.

Tak heran kritikus film Roger Ebert pernah berkomentar sebagai berikut: “Mungkin mudah untuk membuat lelucon tentang kejadian sinting di padang pasir, tapi itu jauh lebih sulit untuk menciptakan interaksi yang lucu antara alam dan sifat manusia. Film ini adalah harta kecil yang bagus.”


Jadi, masihkah kalian tertarik untuk menonton The Gods Must Be Crazy? Jika ada tambahan, silahkan utarakan di kolom komentar, yah!

Diedit oleh Snow

TENTANG PENULIS
Guntomo

Guess what?