Review Neo Yokio: Serial Pseudo-Anime Yang Gagal Terlihat Keren dan Memeable!

Neo Yokio adalah sebuah serial yang gagal terlihat keren dan memeable akibat cerita yang berantakan, animasi yang tidak niat, dan ego dari Jaden Smith yang seolah menghancurkan semuanya

Animasi yang Tidak Rapi

Bukan hanya dari segi cerita, Neo Yokio juga berantakan dari segi animasi. Production I.G. yang sebelumnya dikenal di kalangan pecinta anime berkat kebagusan dan kemolekan dari animasi dan visual yang mereka sajikan, di Neo Yokio mereka seolah makan gaji buta dan membuat animasi yang bisa dibilang tidak niat dan tidak rapi.

Animasi yang ada di Neo Yokio banyak yang tidak mulus dan terkesan biasa saja. Adegan action dimana Kaz bertarung melawan setan disajikan dengan begitu datar dan tidak hidup, animasi action yang harusnya menjadi faktor yang membuat orang takjub dengan visualnya malah dihadirkan biasa saja dan berantakan sehingga alih-alih membuat orang takjub yang ada malah menganggu cerita.

Pemilihan Pengisi Suara yang Terdengar Tidak Niat

Dari segi pengisi suara, pemilihan pengisi suara yang ada di dalam serial ini terkesan aneh dan ironis jika melihat dari latar belakang pemainnya.

Ambil contoh, karakter Helena St. Tessero yang selalu memikirkan bahwa fashion dan budaya adalah penistaan terhadap kehidupan yang sebenarnya, karakter ini dimainkan oleh Tavi Gevinson yang merupakan pemilik media online fashion terbesar untuk kalangan remaja cewek dan dijuluki oleh media di Amerika sebagai “Queen of Millenial”. Ironis bukan?

Nama-nama besar seperti Jude Law pun tidak membantu serial ini menjadi lebih baik. Pengisi suara yang ada di dalam Neo Yokio seolah tidak niat dan tidak mempunyai emosi di dalamnya. Jaden Smith yang didapuk menjadi pameran utama malah terdengar paling tidak niat dan sangat datar. Ia terlihat sangat gugup dalam mengucapkan dialog yang ada dan terdengar tidak lugas dalam menyuarakan isi ceritanya.

Semua komponen dari Neo Yokio sendiri sama seperti cuitan Jaden yang gak nyambung, gak jelas, dan tidak ada konteksnya.

Neo Yokio seperti seorang remaja sosialita narsis nan kaya tanggung yang ingin pamer segala kemewahannya tetapi dengan cara yang tidak biasa yaitu menjadi seseorang yang ironis dalam sebuah percakapan tetapi hasilnya gagal total dan dianggap aneh dan gak jelas oleh orang-orang.

Neo Yokio juga ingin sekali ikut dalam kultur internet dan meme kekinian tetapi hasilnya malah terlihat aneh dan maksa.

Ezra Koening pernah berkata bahwa cerita dari Neo Yokio akan menjadi inspirasinya dalam membuat album keempatnya yang sudah terkena delay lima tahun (duh!). Saya tidak tahu apakah hal ini serius atau sebagai gimmick agar orang-orang menonton dan memahami isi dari Neo Yokio yang tidak berisi.

Apakah album keempat Vampire Weekend akan berisikan lirik random dari seorang remaja sosialita? Mudah-mudahan tidak.

Tetapi dibalik semua keburukan itu kita harus merayakan keironisan dan kecanggungan dari Neo Yokio untuk bisa menjadi anime dewasa dan satir dengan big toblerone.

Diedit oleh Fachrul Razi

Share this article

TENTANG PENULIS
Luthfi Suryanda

Penyiar dan Tukang Kritik Anime, Musik, Film di blog pribadinya RE:PSYCHO. Senang akan hal berbau senang-senang. Sekarang belajar caranya menaklukkan industri pop kultur di Asia Tenggara