Review Mata Batin: Parade Menakut-nakuti Jessica Mila

Film horor Indonesia terbaru, Mata Batin terlihat lebih rapi daripada horor Indonesia biasanya, tapi masih terjebak pada kegemaran untuk selalu mengagetkan penonton.

Parade Jumpscare

Sumber: HITMAKER STUDIOS

Dengan production value yang baik, Mata Batin terlihat sangat menjanjikan pada awalnya. Apalagi, film The Doll 2 itu memang terbilang cukup seram. Namun, Mata Batin terjebak pada kebiasaan film horor Indonesia pada umumnya: terlalu asik mengagetkan penonton dengan parade jumpscare.

Jumpscare ini salah satu teknik paling tua sekaligus juga teknik paling populer dalam film horor dari mana pun ia berasal. Ibaratkan saja jumpscare ini seperti kopi. Bagaimanapun kamu tidak suka pahitnya kopi, namun jika kamu konsumsi terus menerus, kamu barangkali akan terbiasa walaupun rasanya masih tetap pahit.

Pada awal film Mata Batin, jumpscarejumpscare itu memang efektif membuat tangan mencengkram kursi bioskop. Namun, Mata Batin ini sepertinya ketagihan melakukan hal yang sama terus menerus. Hingga pada satu titik, saya merasa sudah terbiasa dan tak takut lagi.

Belum lagi, para hantu tersebut kemudian bisa berbicara layaknya manusia. Ada adegan saat keluarga hantu seperti merekonstruksi aktivitas makan malam keluarga. Sayangnya, suara-suara hantu tersebut sama sekali tidak memancing rasa takut. Bagaimana bisa penonton ditakuti dengan suara hantu yang lebih mirip kucing yang ekornya baru terjepit pintu?

Sumber: HITMAKER STUDIOS

Jika adegan keluarga Mata Batin ingin seperti adegan keluarga Insidous, boleh dicoba agar tak memasukkan dialog di dalamnya. Akan lebih misterius jika para hantu tersebut tak bersuara.

Meskipun begitu, Mata Batin punya momen paling menyeramkan, dan hal itu datang bukan dari jumpscare, tetapi dari atmosfernya. Diketahui bahwa para hantu mirip zombie itu adalah arwah yang gentayangan karena masih punya urusan yang belum selesai. Mereka punya dunia arwah sendiri, berbeda dengan dunia manusia.

Jadi, untuk berkomunikasi dengan hantu penunggu rumah, mereka pergi ke alam bawah sadar lewat portal yang dibuka sang paranormal. Di sana, mereka menemukan keluarga yang disatroni maling dan Abel pun terjebak di dalamnya. Ingat Insidious?

Pengaruh Insidious yang paling terasa ada di dunia para arwah tadi dan dibuat sangat menyeramkan oleh kru Mata Batin. Jika dunia arwah Insidous benar-benar mereplika rumah yang mereka tinggali, dunia arwah Mata Batin ini seperti lorong-lorong.

Dengan dibantu cahaya merah darah yang merepresentasikan bahaya, lorong-lorong sempit tersebut membuat efek klaustrofobik. Mata Batin dalam hal ini berhasil membuat dunia arwahnya sendiri.

Sumber: HITMAKER STUDIOS

Dari departemen akting, performa kedua protagonis Jessica Mila dan Bianca Hello sama-sama tak menonjol, begitu juga dengan Denny Sumargo dan Citra Prima. Namun apresiasi untuk Jessica dan Bianca karena berhasil membawakan dua tokoh kakak-kakak beradik dengan baik.

Sementara itu Denny Sumargo tak bisa berbuat banyak karena memang perannya tak banyak. Citra Prima sebagai Bu Windu sebenarnya cukup meyakinkan karena latar belakangnya memang mirip, tapi naskah oleh Riheam Junianti dan Fajar Umbara justru membuatnya seperti kamus klenik berjalan. Ia ada hanya untuk menjelaskan segala tetek-bengek dunia perhantuan.


CONTINUE READING BELOW

Review Mau Jadi Apa?: Kisah Persahabatan Mahasiswa Era 90-an

Soleh Solihun, salah satu komika terkenal di Indonesia akhirnya melakukan debut-nya sebagai sutradara di layar lebar. Simak review Mau Jadi Apa? berikut.


Sebagai kesimpulan, Mata Batin ini terlihat menjanjikan dengan setup dan make-up hantu pada awalnya, namun lama-kelamaan capek juga karena ditakuti pakai jumpscare nonstop.

TENTANG PENULIS
Lazuardi Pratama

Merayakan film dan mengolok Liverpool.