Review The Florida Project: Mereka yang Miskin di Sebelah Disney World

Dari sutradara yang pernah membikin film dengan modal kamera iPhone, inilah The Florida Project, film tentang orang fakir di tanah yang dimimpikan, Disney World.

Film yang Humanis

The Florida Project menggambarkan para tokoh dalam filmnya layaknya manusia seutuh dan senyatanya. Bahwa cerita kemiskinan dalam film ini benar adanya. Keunggulan terkuat dari film produksi studio A24 ini adalah keberaniannya akan kejujuran.

Ia memotret kisah orang-orang marjinal di tempat yang seharusnya sejahtera dan bahagia. Di balik gambarnya yang indah dengan warna pastel, ia menyimpan kebenaran pahit tentang sisi terbawah dari ekonomi negara maju seperti Amerika.

Japan: A Story of Love and Hate (2008), sebuah film dokumenter dari Jepang juga berbicara hal yang sama. Dalam dokumenter tersebut, diceritakan Naoki, seorang mantan pengusaha yang pernah sukses, kini hampir menjadi gelandangan karena bencana ekonomi Jepang.

Tidak seperti di Indonesia, orang-orang miskin kota di Jepang dan Amerika tampak terselubung. Mereka masih punya pakaian yang layak, punya sepeda motor (Naoki) dan iPad (Halley). Namun jika dilihat lebih dalam lewat kehidupan sehari-hari, mereka hidup mengenaskan. Mereka tidak punya kontrol atas apa yang terjadi pada hidup mereka sendiri.

Naoki menghabiskan waktunya bekerja, bekerja, dan bekerja, tetapi masih tetap miskin, begitu juga dengan Halley yang masih bisa makan fast food dan menyewa motel. Namun, sekali hidup mereka digoyahkan oleh satu krisis ekonomi, mereka akan jadi fakir seutuhnya.

Filmmaker dan studio film lain barangkali tidak akan terpikir untuk membuat film dengan tema seperti The Florida Project ini. Industri film Amerika lebih suka memfilmkan hal-hal menarik dan baru. Mereka yang tinggal di rumah besar dan punya mobil mewah itu bahkan barangkali tidak menyadari bahwa orang-orang seperti Halley ini eksis di dunia nyata.

Sean Baker sendiri sudah terkenal karena membikin film dengan tema-tema komunitas terpinggirkan seperti The Florida Project ini. Ia mulai dikenal secara internasional atas filmnya Tangerine (2015)—yang diambil gambarnya lewat kamera iPhone—tentang transgender PSK di Los Angeles, tidak jauh dari Hollywood. Jika dibandingkan, Baker membawa formula yang mirip: Hollywood dalam Tangerine itu adalah Disney World dalam The Florida Project.

Tema yang mirip juga telah dilakukan Baker jauh sebelum Tangerine. Lewat film Take Out (2004), ia berbicara tentang imigran ilegal dari Cina di Kota New York dan film The Prince of Broadway (2008) tentang pedang kaki lima dari Ghana di kota yang sama.

Namun, sutradara 46 tahun ini ogah disebut selalu fokus pada isu-isu marjinal. “Terasa ofensif, ya,” ujarnya pada The Guardian. “Seakan-akan aku selalu merencanakan, ‘Oke, komunitas marjinal mana lagi yang akan kita angkat.’,”

Masih mengikuti gayanya dalam Tangerine, The Florida Project ini juga punya satu momen di mana Baker menggunakan kamera iPhone. Spoiler ahead. Momen itu adalah momen ending saat Moonee berlarian bersama Jancey di Disney World.

Untuk mengambil gambar adegan berkesan tersebut, Baker membatasi kru film yang ada di lokasi dengan hanya ia, satu pelatih akting, sinematografer, dua aktris cilik, dan penjaganya. Oleh karena itu, ia kembali menggunakan kamera iPhone agar tidak ketahuan.

“Aku ingin memberi tahu kepada semua orang yang membaca ini bahwa kamu bisa membikin film panjang lewat kamera di kantungmu.”

Diedit oleh Fachrul Razi

TENTANG PENULIS
Lazuardi Pratama

Merayakan film dan mengolok Liverpool.