Nostalgia Review Eiffel I’m in Love: Perjalanan Melelahkan Adit dan Tita

Pada masa di mana Ada Apa dengan Cinta? berjaya, ada petualangan cinta Adit dan Tita yang ikut masuk dalam pembicaraan orang-orang. Inilah Eiffel I'm in Love (2003)!

Pada masa di mana Ada Apa dengan Cinta? berjaya, ada petualangan cinta Adit dan Tita dari film sejenis lain yang ikut masuk dalam pembicaraan orang-orang. Berikut review Eiffel I’m in Love.

Jika kamu ditanya, siapa pasangan romantis paling populer sepanjang sejarah perfilman Indonesia, barangkali jawabannya adalah Rangga dan Cinta dalam Ada Apa dengan Cinta? (2002). Generasi yang lebih lampau mungkin menjawab Galih dan Ratna dalam Gita Cinta dari SMA (1979), sementara yang sekarang: Dilan dan Milea.

AADC memang bukan film roman biasa, kepopulerannya mengembalikan marwah film dalam negeri setelah penonton Indonesia dicecoki banyak film-film horor murahan. Dalam kurun waktu sekitar tahun rilis AADC tersebut, banyak film-film roman yang diluncurkan. Namun, tidak ada yang lebih berkesan di mata penonton selain kisah cinta Adit dan Tita dalam Eiffel... I’m in Love (2003).

Sinopsis

Seorang gadis 15 tahun bernama Tita (Shandy Aulia) mesti berhadapan dengan perjodohan dengan seorang anak laki-laki berambut cepak dari Perancis bernama Adit (Samuel Rizal). Tita orangnya kekanak-kanakan dan polos, sudah punya pacar. Sementara itu, Adit berbicara ceplas-ceplos dan cuek mampus.

Sepintas, keduanya sama sekali tidak cocok, ribut setiap saat. Namun, mereka berdua semakin akrab seiring berjalannya waktu. Pada waktu saat mereka menyadari bahwa mereka mencintai satu sama lainnya, Adit harus berangkat pulang ke Perancis.

Kisah Cinta Jakarta-Paris

Nostalgia Review Eiffel I’m in Love: Perjalanan Melelahkan Adit dan Tita

Sebagai film drama romantis, premis yang dibawa oleh Eiffel I’m Love ini sebenarnya sama sekali tidak baru, cukup umum malah. Sepanjang film, kita dipertontonkan segala hal dari sudut pandang Tita; tentang bagaimana ia melihat keluarga dan teman-temannya, serta tentu saja Adit.

Awalnya Adit ini nyebelin, tipe-tipe manusia yang songong abis. Cukup salut juga melihat Tita begitu sabar ketika Adit mulai melemparkan kata-kata kasar—bukan cakap kotor. Tipikal cowok macam Adit ini mirip Rangga, yang pada waktu itu menjelma menjadi pop culture karena sikapnya yang dingin.

Apakah para cewek senang tipikal cowok seperti ini? Entah. Tapi melihat Adit dan Rangga begitu populer sebagai model cowok tahun 2000-an, sepertinya pertanyaan itu terjawab sudah.

Meskipun orangnya cuek dan kasar, Adit ternyata punya sisi baik dan romantis di baliknya. Lewat penuturan Intan (Titi Kamal)—mantan yang dipesan Adit supaya ia kelihatan punya pacar saat pesta kembang api bersama Tita—ternyata diketahui Adit itu orangnya loyal dan perhatian.

Walaupun membawa tema yang sangat umum, tapi Eiffel I’m in Love bisa membawa keseruan dan gemasnya hidup sebagai remaja SMA di awal dekade 2000-an. Pada waktu itu, handphone sudah beredar luas, tetapi tak semua orang punya uang untuk membelinya. Bagi para remaja, menggunakan telepon rumah untuk pacaran itu sudah sangat umum.

Sebelum remaja-remaja zaman sekarang sudah kenal podcast atau ngepepet lewat media sosial, remaja tahun 2000-an sudah mendengarkan acara titip salam lewat radio. Buat Tita dan kawan-kawannya, hiburan mereka sepulang sekolah adalah main-main di mal.

Nostalgia Review Eiffel I’m in Love: Perjalanan Melelahkan Adit dan Tita

Yang membuat separuh awal Eiffel I’m in Love sangat berkesan, selain telepon rumah dan radio, adalah hubungan cinta-benci antara Adit dan Tita. Pada suatu ketika, Tita kepergok mengintip Adit lewat lubang kunci kamar, dan itu lucu sekali.

Performa Shandy Aulia sebagai Tita adalah kunci utamanya. Ia mampu berlakon natural dengan pesonanya sebagai gadis SMA innocent, pun juga luwes dengan berbagai ekspresi. Sementara itu Samuel Rizal, walaupun terlihat canggung dan kurang matang pada beberapa bagian, ia bisa mengimbangi Shandy. Yang paling membahagiakan ialah, mantan pebasket ini ternyata seperti terlahir untuk berperan sebagai cowok galak.


Eiffel I'm in Love ternyata dirilis dalam dua versi, teatrikal dan extended. Simak seperti apa perbedaannya di halaman sebelah!

Perbedaan Versi Teatrikal dan Extended

Nostalgia Review Eiffel I’m in Love: Perjalanan Melelahkan Adit dan Tita

Namun, segala yang seru-seru di awal film berubah menjadi bencana ketika film memasuki paruh akhir. Sejak kejadian di pesta kembang api itu—saat Adit memukuli Ergi (Yogi Finanda), pacar Tita—hubungan kedua orang ini berbalik saling benci menjadi saling memperhatikan satu sama lain.

Sejak membaiknya hubungan mereka, Tita menerima kabar mengejutkan bahwa Adit harus segera pulang ke Perancis. Lalu singkat cerita, Tita ikut keluarganya pergi ke Perancis untuk urusan bisnis. Senanglah ia karena sudah kepalang rindu. Di Perancis, cinta mereka bersemi kembali.

Eiffel I’m in Love berusaha membuat momen terakhir di kaki menara Eiffel itu menjadi berkesan dengan bekal perubahan hubungan Adit dan Tita. Namun, tidak terasa ada kulminasi seperti yang diharapkan, sebab ada yang hilang dari puzzle Adit-Tita.

Setelah kejadian di pesta kembang api, hubungan baik Adit dan Tita disebutkan dalam tiga sekuens: Adit-Tita berpelukan di bawah kembang api, curhat Tita di kamar Adit, dan momen saat Adit hendak pergi ke bandara. Sayang, tidak ada momen puncak cinta mereka berdua.

Ternyata, momen itu justru terdapat dalam versi Extended yang rilis tahun 2004. Dalam versi 3 jam 11 menit ini, ada sekuens Adit dan Tita mengutarakan isi hati mereka yang sebenarnya. Itulah kepingan yang hilang dalam versi teatrikal 2 jam 15 menit.

Dalam versi Extended, ada banyak sekali cerita baru; beberapa cerita justru penting (seperti adegan bandara di atas), namun tambahan 1 jam itu justru lebih banyak filler. Misal, ternyata Tita punya pengagum rahasia di sekolah, lalu peran lebih Rianti Cartwright, dan lain-lain yang memang tak begitu perlu dan seharusnya bisa dipotong sejak masih berupa skenario.

Satu lagi kelemahan Eiffel I’m in Love adalah film ini terlalu banyak bicara. Ada adagium yang berkata, “some things are better left unsaid,” alias ada beberapa hal yang lebih baik tidak diomongkan. Terlalu banyak bicara justru berisik.

Tita kebanyakan diisi oleh voice-over, alias suara hati yang dikatakan lewat suara belakang layar. Sinetron banyak menggunakan teknik ini. Adit kebanyakan berbicara hal-hal tidak penting, yang justru melemahkannya sendiri, seperti kalimat “Dasar cewek ceroboh!” ketika membuka pintu kamar Intan.

Nostalgia Review Eiffel I’m in Love: Perjalanan Melelahkan Adit dan Tita

Eiffel I’m Love sebaiknya lebih percaya diri menggunakan kekuatan visual. Film tidak selamanya harus bersuara; film ada karena kemampuannya menggunakan gambar. Gambar berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Banyak sekali momen Adit-Tita yang akan jadi lebih spesial jika mereka lebih banyak diam.

Menonton Eiffel I’m in Love ini melelahkan, terutama setelah kejadian pesta kembang api. Jauh lebih melelahkan lagi menonton 3 jam 15 menit versi Extended. Barangkali, versi Extended ini akan lebih dinikmati oleh penggemar setia Adit dan Tita, atau pembaca novelnya.

Selain penampilan Shandy Aulia, satu-satunya hal lain yang mampu menyelamatkan saya dari kebosanan adalah lagu-lagu yang ear-catchy dari Melly Goeslaw. Saya pikir, tidak ada yang tidak sepakat tentang hal ini; musik dalam Eiffel I’m in Love ini racun, sulit untuk tak ketagihan mendengarkannya.

https://open.spotify.com/album/6CCxenhlLJMeBfyO5Gowq0?si=N-a_yiA7QqCOcru3zwxm_g

Begitu kurasa berbeda, setelah cinta ini kau sentuh

Dunia yang dulu sepi, kini t’lah berubah

Bersamamu sangat berarti, tak ingin kubuang rasa ini

Kuturuti semua kehendak hatiku~

Diedit oleh Fachrul Razi

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU