Istilah “Kecanduan Game” Itu Ambigu! Ini 3 Buktinya!

Kecanduan game? Masih percaya dengan mitos orang kecanduan game?

Pada bulan Januari awal tahun 2018 lalu, WHO (World Health Organization) meresmikan bahwa kecanduan game sebagai salah satu gangguan jiwa.

Hal ini disebabkan adanya perilaku para gamer yang memang terlihat seperti “kecanduan” dalam bermain game. Biasanya gamer ini bisa betah di depan layar monitor untuk bermain game tanpa istirahat.

Berita yang sering bermunculan akibat kecanduan game ini adalah orang yang terkena penyakit jantung setelah bermain game selama berhari-hari tanpa ada istirahat sedikitpun.

Menariknya, Peter Gray, seorang Expert dan penulis dalam Psychology Today justru tidak setuju akan hal ini. Pendapatnya beliau tulis dalam sebuah artikel yang berjudul “Sense and Nonsense About Video Game Addiction“.

Tulisan ini menunjukkan adanya hal yang tidak masuk akal mengenai pendapat bahwa kecanduan game ini tidak seperti yang biasa orang awam pikirkan. Sehingga seakan-akan “kecanduan game” ini seperti penyakit yang mengerikan.

1

Munculnya Dopamine Karena Game itu 'Fun'

3 Bukti yang Menunjukkan Keambiguan Istilah "Kecanduan Game"

Sumber: Kotaku

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Kardaris menunjukkan bahwa ketika orang-orang bermain game, ada efek pada otak di mana dopamine menjadi aktif ketika bermain game.

Dari situ, Kardaris selaku peneliti menyimpulkan bahwa game bisa menyebabkan kecanduan karena memunculkan dopamine seperti orang menggunakan narkotika dan obat-obat terlarang.

Gray justru berpendapat lain. Pada dasarnya dopamine menjadi aktif adalah hal yang wajar ketika seseorang sedang mendapatkan sebuah kesenangan. Kesenangannya bisa bermacam-macam salah satunya adalah bermain game.

Ketika dopamine aktif dalam bermain game, sebenarnya itu sangatlah simpel karena kita bisa mengartikan bahwa game tersebut menyenangkan untuk dimainkan atau bisa kita sebut “fun“.

Kadar dopamine yang dikeluarkan otak ketika bermain game pun tidak terlalu besar. Penelitian yang dilakukan Patrick Markey dan Christopher Ferguson menunjukkan bahwa dopamine yang dikeluarkan pada saat bermain game, sama dengan orang memakan sepotong pizza ataupun sedang memakan eskrim.

Seharusnya dengan begitu, bermain game tidak begitu berbahaya karena dopamine yang dikeluarkan oleh otak tidak begitu besar seperti orang-orang menggunakan narkoba yang mengeluarkan dopamine dua kali lipatnya.

2

Gamer Bukan Orang Sakit

3 Bukti yang Menunjukkan Keambiguan Istilah "Kecanduan Game"

Sumber: Around the World in 80 Jobs

Sepertinya keputusan WHO yang menjadikan “kecanduan game” adalah salah satu penyakit cenderung kurang tepat. Mengapa demikian?

Sebenarnya untuk penyimpulan bahwa orang tersebut kecanduan game atau tidak menimbulkan perdebatan di antara para psikolog.

Menariknya menurut penelitian yang dilakukan oleh American Psychiatric Association justru menunjukkan bahwa gamer tidak lebih sakit secara psikologi, sosial, bahkan fisik dibanding non-gamer. Lebih menariknya lagi, gamer ini secara rata-rata lebih sehat dibandingkan non-gamer.

3

Kecanduan yang Menyebabkan Depresi atau Depresi yang Menyebabkan Kecanduan?

3 Bukti yang Menunjukkan Keambiguan Istilah "Kecanduan Game"

Sumber: wccftech

Penelitian yang baru-baru dilakukan Laura Stockdale dan Sarah Coyne (2018), menunjukkan pada pemain yang memang mengalami “kecanduan” dalam bermain game memang menunjukkan adanya rasa depresi dan kekhawatiran.

Hanya saja dalam penelitian ini tidak menunjukkan apakah kecanduan tersebut menjadikan orang depresi dan merasa khawatir, atau justru karena dirinya depresi dan merasa khawatir sehingga dirinya kecanduan game?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Daniel Loton, dkk. (2016), menunjukkan bahwa kecanduan game justru dipicu oleh adanya rasa depresi dan hal lainnya yang membuat orang stres. Ya bisa kita katakan bahwa orang kecanduan game justru karena dirinya merasa depresi.

4

Kesimpulan

3 Bukti yang Menunjukkan Keambiguan Istilah "Kecanduan Game"

Sumber: Medical Xpress

Istilah “Kecanduan Game” justru memang memberikan keambiguan tertentu. Seakan-akan orang rusak karena kecanduan game. Padahal kecanduan game itu bukanlah penyebab, melainkan akibat dari faktor eksternal.

Gamer bukanlah orang yang sakit, serta orang menjadi senang dengan game bukan berarti game layaknya narkoba seperti yang digembar-gemborkan oleh para media.

Jika memang ada seseorang “kecanduan” game hingga lupa akan sekitarnya, ada baiknya kita dekati. Siapa tahu dirinya memang memiliki masalah sehingga dirinya lari dari masalah tersebut dengan bermain game.

Sumber: Psychology Today.


Jadi yang pertama cobain game-game seru buatan developer Indonesia, dan menangkan banyak hadiah menarik! Kunjungi BEKRAF Game Prime 2018, 13-15 Juli 2018 di Balai Kartini, Jakarta, GRATIS! Klik bit.ly/GamePrime18DN untuk menjadi bagian dari event industri game terbesar se-Indonesia.


Suka bermain Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, dan Chess Rush? Baca GGWP.ID untuk meningkatkan skill kamu agar lebih jago!

Share this article

TENTANG PENULIS
rizziz

Penulis yang ramah, baik hati, suka menolong dan rajin menabung