Review Instant Family: Komedi Keluarga yang Mudah Dinikmati

Instant Family adalah film keluarga yang sangat menyenangkan untuk diikuti. Momen heartwarming dan komedinya sangat pas sehingga melahirkan film yang mudah dinikmati tapi tetap memiliki pesan yang kuat!

Mark Wahlberg tidak pernah benar-benar bermain di film komedi yang baik. Terakhir kami harus tersiksa melihat perannya di Ted 2 dan Daddy’s Home 2. Nama Mark semakin tenggelam saat dia kembali ke genre action dan dipasangkan dengan Iko Uwais di Mile 22. Film itu membuat kami mengernyit berkali-kali karena dialognya yang buruk dan arah cerita yang tidak jelas.

Untunglah di awal tahun 2019 ini Mark kembali memperoleh kesempatan dalam sebuah film komedi keluarga yang mengangkat kisah tentang adaptasi anak yang memiliki kebudayaan sangat berbeda dengan orang tua asuh mereka. Penasaran seperti apa reviewnya? Baca terus sampai habis.

Diambil Dari Kisah Nyata

Instant Family diambil dari kisah nyata yang dialami oleh sang sutradara dan penulis naskah Sean Anders. Pete Wagner (Mark Wahlberg) dan Elie Wagner (Rose Byrne) adalah dua orang pengusaha jasa renovasi rumah yang menginginkan anak angkat untuk mereka asuh.

Akhirnya demi mewujudkan impian mereka, Pete dan Elie mengikuti sekolah khusus yang diperuntukan bagi para orang tua angkat. Pada sekolah tersebut mereka belajar banyak hal dan kewajiban orang tua angkat melalui agen dinas sosial Karen (Octavia Spencer) dan Sharon (Tig Notaro).

Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba juga, Pete dan Elie mendapatkan kesempatan memilih anak yang hendak mereka adopsi. Dalam proses tersebut keduanya bertemu dengan Lizzie (Isabela Moner) yang masuk ke dalam kategori anak yang sulit diadopsi karena kehabisan waktu atau sudah terlalu tua.

Karena memiliki impresi yang kuat, Pete dan Elie justru tertarik pada Lizzie yang ternyata memiliki dua orang adik bernama Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz). Karena status tersebut, Pete dan Elie yang semula tidak memiliki anak, mendapatkan tiga orang anak sekaligus dalam satu malam.

Lebih lucunya lagi, ketiga anak tersebut ternyata hadir dengan masalahnya masing-masing. Lizzie adalah anak cantik yang cepat dewasa karena selalu disuruh menjaga adik-adiknya. Juan adalah anak laki-laki yang lemah dan kerap bikin salah, sehingga selalu meminta maaf. Terakhir adalah Lita yang digambarkan selalu senang berteriak dan hanya ingin makan keripik kentang saja.

Pete dan Elie harus beradaptasi dengan ketiganya sekaligus, dan berjuang sebaik mungkin agar keluarga instan ini bisa bertahan. Masalahnya, apakah mereka sanggup?

Komedi Keluarga Terbaik di Awal 2019

Yes, kamu tidak salah baca, Instant Family adalah film komedi keluarga terbaik di awal tahun ini. Penilaian ini muncul karena film ini berhasil memadukan konflik dan komedi dengan seimbang. Kamu akan menemukan berbagai momen heartwarming yang mengingatkan kita akan keluarga, plus berbagai kekonyolan yang diciptakan oleh Pete dan Elie yang berusaha memahami ketiga anak angkat mereka.

Menyaksikan Instant Family itu seperti melihat sebuah album foto yang berisikan berbagai perubahan penting dalam hidup karakter utamanya. Saat mereka belum memiliki anak, hidup mereka terlihat datar dan stabil. Setelah mereka mengadopsi anak, kehidupan mereka berubah menjadi sangat acak tapi penuh warna.

Mark bermain dengan sangat apik dalam membangkitkan kharismanya sebagai seorang ayah yang kurang paham dengan sifat anaknya dan pada akhirnya memilih memakai pendekatan maskulin. Sementara itu Rose menggunakan pendekatan yang lebih feminin karena memiliki dua orang putri dengan status yang berbeda. Yang satu sedang puber dan hobi mencari masalah, sementara yang lain masih menjadi anak manja yang merindukan kehadiran seorang ibu.

Untuk posisi anak-anak mereka, kami mengacungkan dua jempol untuk akting Isabela Moner. Sang pemeran Dora The Explorer di film yang akan datang ini mengeluarkan semua kemampuan aktingnya yang sebelumnya tidak kelihatan saat Sicario: Day of the Soldado atau Transformers: The Last Knight.

Melalui sosok Lizzie yang diperankannya kami mendapati bagaimana jadinya kalau anak-anak dipaksa untuk menggantikan peran orang tua mereka, sementara dia harus berhadapan dengan masalah-masalah yang timbul di masa puber. Hasilnya Lizzie hadir menjadi sosok yang jauh lebih dewasa ketimbang umurnya yang pada akhirnya sanggup menghubungkan emosinya dengan Pete dan Elie.

Kesimpulan Akhir

Instant Family jelas bukanlah film yang akan selalu dikenang, tapi banyaknya momen keluarga yang heartwarming dan komedinya yang pas, menjadikan film ini sangat layak tonton. Terutama ketika kamu berhadapan dengan akhir minggu yang cukup panjang. Menurut penilaian kami film ini bisa kami ganjar dengan nilai 4 dari 5 bintang.

Instant Family karya Sean Anders ini akan berdurasi 117 menit dan bakal tayang di Indonesia pada tanggal 25 Januari 2019.

Share this article

TENTANG PENULIS