Review The Curse of The Weeping Woman, Teror Kuntilanak Versi Meksiko

Hii serem amat ini!

Kuntilanak merupakan makhluk tak kasat mata yang memiliki banyak interpretasi di banyak negara. Termasuk salah satunya adalah Meksiko. Di negara tersebut kuntilanak disebut sebagai La Liorna atau weeping woman, dan lucunya keduanya memiliki ciri yang serupa. Saat tangisan weeping woman terdengar dekat, itu artinya jarak mereka jauh, begitupun sebaliknya.

Mengingat teror yang dihasilkan oleh sang weeping woman cukup melegenda, James Wan langsung memasukkan makhluk yang satu ini ke dalam Conjuring Universe miliknya. Melalui tangan Michael Chaves (sutradara yang bakal menggarap Conjuring 3), sang weeping woman diceritakan asal-usul dan berbagai teror yang bisa dia lakukan.

Berawal Dari Sebuah Dendam

The Curse of The Weeping Woman berlatar di tahun 1973. Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini) yang berprofesi sebagai pekerja sosial, kerap menghadapi kasus kekerasan pada anak yang dilakukan oleh para orang tua. Kali ini, Anna berhadapan dengan Patricia Alvarez (Patricia Velasquez), wanita yang dengan sengaja menyembunyikan dua anaknya, Carlos dan Tomas, dalam sebuah lemari.

Demi menghindari kekerasan yang lebih membahayakan kondisi sang anak, Anna pun menyelamatkan dua anak tersebut dan meminta Patricia diproses secara hukum. Namun nahas, apa yang dilakukan Anna malah membuatnya menjadi target dari teror sosok hantu wanita La Llorona (Marisol Ramirez) atau weeping woman.

La Llorona sendiri adalah sosok hantu yang hidup di abad ke-17. Akibat rasa dendam dan sakit hati yang ia miliki, La Llorona memilih untuk mengakhiri hidup dua anaknya dan dirinya sendiri. Rasa penyesalan dan cara kematian yang tak wajar, membuat dirinya ditolak di akhirat dan membuat dirinya terkatung di dua dunia. Akhirnya sosok hantu bergaun putih ini selalu mengincar anak-anak untuk menggantikan anaknya.

Anna tak bisa tinggal diam, mengingat dirinya memiliki dua anak, Chris (Roman Christou) dan Samantha (Jaynee-Lynne Kinchen), yang kini tengah diincar oleh La Llorona. Dengan berbagai cara Anna berusaha menyelamatkan buah hatinya dari teror La Llorona yang selalu mengikuti mereka.

Melalui bantuan Pastor Perez (Tony Amendola), Anna pun menyadari jika hal yang bisa menolongnya adalah seorang shaman yang bernama, Rafael Olvera (Raymond Cruz). Shaman ini merupakan mantan pendeta yang menggunakan berbagai metode unik untuk menyelesaikan kasus-kasus supranatural yang dialami orang lain.

Formula Tidak Sempurna Michael Chaves

Walaupun di belakang nama Michael Chaves ada nama James Wan, tetapi sejatinya film ini jauh dari kata sempurna. Bagi kamu yang menyukai dan mengikuti Conjuring Universe milik James Wan, pasti kamu sudah hafal betul dengan segala formula jump scare yang menjadi andalan James Wan. Nah, hal tersebut dipakai berkali-kali di sini, hingga akhirnya kamu akan mudah sekali membaca jalan cerita maupun posisi jump scare.

Intinya ini bukanlah film horor menakutkan yang akan membuat bulu kudukmu berdiri selama berjam-jam, karena kurva jump scare yang terlalu mudah terbaca. Sepertinya Michael Chaves menggunakan formula tradisional yang selalu meletakkan unsettling moment sebelum hadirnya jump scare.

Formula yang terlalu klasik ini, belum lagi harus digabung dengan keputusan-keputusan bodoh yang dilakukan para karakter film horor. Hasilnya, kamu akan gemas sendiri melihat berbagai hal bodoh dan tidak masuk akal, yang dilakukan oleh para karakter utama.

Kesimpulan

Sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru di The Curse of The Weeping Woman. Satu-satunya yang menghibur dari film ini adalah, melihat kontinuitas Conjuring Universe dengan The Curse of The Weeping Woman. Di luar hal tersebut, The Curse of The Weeping Woman adalah film horor biasa yang tidak istimewa.

Pada akhirnya kami hanya bisa memberikan nilai 3 dari 5 bintang yang kami miliki. Tidak terlalu seram dan biasa saja untuk ukuran film horor.


Mau coba berbagai game dan VR buatan dalam negeri secara gratis? Raih banyak hadiah secara gratis, dan main sepuasnya? Yuk kunjungi BEKRAF Game Prime 2019, di Balai Kartini Jakarta, hari Sabtu dan Minggu, 13-14 Juli 2019. Acaranya gratis lho guys, jadi daftar sekarang ya di sini!
TENTANG PENULIS