Review Child’s Play (2019), Reboot Modern Minim Teror

Hmmm, terornya kurang

Duniaku.net – Pada tahun 80-an Tom Holland (bukan pemain Spider-Man MCU) menghadirkan Child’s Play ke layar lebar. Sebuah film horor kelas B yang lumayan gore tapi menghibur. Sejak saat itu sosok Chucky menjadi terkenal dan filmnya kerap dibuatkan sekuelnya hingga tahun 2017 (Cults of Chucky).

Entah mengapa orang-orang yang berada di belakang franchise ini menganggap kalau Chucky membutuhkan sedikit sentuhan modern. Walhasil di tahun 2019 ini, kamu akan mendapati film Child’s Play versi reboot di bioskop Indonesia.

Beda Asal-usul

Film ini menggunakan boneka Buddi yang diproduksi oleh Kaslan Corp. Boneka ini memiliki kemampuan untuk bersosialisasi, dan mengendalikan barang-barang elektronik lain yang diproduksi oleh Kaslan. Bisa dibilang Buddi adalah sebuah robot pertemanan yang memudahkan segala kebutuhan rumah tangga, termasuk mengasuh anak.

Karen (Aubrey Plaza) adalah penjaga toserba yang menjual mainan Buddi. Karena Andy (Gabriel Bateman) yang merupakan putra satu-satunya Karena akan berulang tahun, dia akhirnya memutuskan untuk mengambil satu buah boneka Buddi yang terkena retur.

Nahas, boneka Buddi tersebut sudah ‘rusak’ sejak awal. Tanpa protokol keamanan apapun, Buddi bisa mengambil langkah ekstrim dan mempelajari hal-hal yang seharusnya tidak boleh dipelajari sama sekali.

Dalam perkembangannya, Buddi semakin brutal dan melakukan hal-hal yang sangat sadis. Andy semakin takut terhadap Buddi, sehingga memutuskan untuk menghancurkan boneka tersebut. Yang jadi masalah di sini adalah, bisakah Andy menghancurkan Buddi tepat waktu sebelum semakin banyak memakan korban?

Remake Minim Teror

Film ini mengungkapkan hal-hal yang terkait erat dengan gaya hidup masa kini. Jika di film-film terdahulunya Chucky secara misterius bisa membunuh orang-orang yang ada di sekitarnya, film ini mengambil rute yang berbeda.

Kenapa Chucky menjadi pembunuh dijelaskan dengan cara yang masuk akal. Sebuah boneka berteknologi tinggi yang mengalami gangguan fungsi dan protokol. Dari sini semuanya terlihat relevan dan meyakinkan. Ada alasan jelas kenapa Chucky membunuh atau menghabisi orang-orang di sekitar Andy.

Sayangnya film ini miskin sekali elemen kejutan. Child’s Play tak ubahnya seperti permainan petak-umpet dan aksi saling kejar-kejaran antara manusia yang lari menghindar dari Chucky. Sisanya? Tidak ada alasan spesifik untuk takut terhadap Chucky.

Sisi akting juga tidak terasa istimewa. Dengan memakai nama karakter yang sama dengan versi terdahulu, praktis hanya karakter Andy yang diperankan oleh Gabriel Bateman mendapatkan banyak jatah untuk menunjukkan kemampuannya berakting. Selain Andy, kamu akan dengan cepat melupakan peran aktor lainnya yang memang kebanyakan hanya numpang lewat.

Masalah paling parah, datang dari peran Mark Hamill yang mengisikan suara Chucky. Karena Chucky memiliki dialog yang sangat terbatas, otomatis kamu tidak akan bisa menikmati kemampuan Mark dalam urusan mengisi suara. Padahal seharusnya Mark Hamill menjadi nilai jual tersendiri, mengingat dia adalah pengisi suara Joker dalam film animasi Batman yang cukup legendaris.

Kesimpulan

Dengan seluruh proses modernisasi ini, aura sang boneka pembunuh menjadi hilang sama sekali. Kamu tidak mendapatkan dosis horor yang cukup untuk melihat Chucky sebagai teror yang harus pantas. Rasanya film yang lama jauh lebih menakutkan dan gore.

Satu-satunya kelebihan dari Child’s Play terletak pada bagian lebih masuk akalnya teror Chucky kali ini. Sayangnya itu tidak cukup untuk membuat film ini masuk ke jajaran film horor yang wajib dibuatkan sekuelnya setiap tahun. Karena kelemahan ini, Child’s Play hanya mendapatkan nilai 2,5 dari 5 bintang yang bisa kami berikan.


Mau coba berbagai game dan VR buatan dalam negeri secara gratis? Raih banyak hadiah secara gratis, dan main sepuasnya? Yuk kunjungi BEKRAF Game Prime 2019, di Balai Kartini Jakarta, hari Sabtu dan Minggu, 13-14 Juli 2019. Acaranya gratis lho guys, jadi daftar sekarang ya di sini!

Share this article

TENTANG PENULIS