Canon merilis EOS 20Da pada 14 Februari 2005 di Jepang (dan 1 Juni di wilayah lain), dan merupakan varian 20D, namun imbuhan ‘a’ di belakangnya menjelaskan fungsi utama yang ditujukan untuk astrophotography. Karena fungsi utamanya tersebut, Canon memasangkan ”hot mirror” filter infra-red yang menutupi sensor CMOS-nya, serta keberadaan mode live view. Dan berkat filter tersebut, menggunakan 20Da yang memiliki lensa semi-professional (digital single-lens reflex) DSLR 8.2 megapixel ini untuk memotret angkasa di malam hari menghasilkan detail yang lebih kuat — dibandingkan siang hari. Cocok untuk aktivitas astrophotography mobile. Harganya saat itu lumayan wah, mencapai US $1500. Dan kini tujuh tahun kemudian, Canon merilis penerus terbaru dari DSLR yang dikhususkan bagi mereka pemburu keindahan langit malam dalam wujud EOS 60Da, yang mulai dijual April 2012 ini seharga US $1,499.

Yup, jika sebagian pengguna DSLR memilih cewek-cewek cantik, bunga yang indah, atau alam dan binatang yang eksis di daratan, masih ada yang mau menghabiskan jatah klik kamera mereka untuk fotografi astronomi. Menurut Canon, untuk versi baru ini kamu bakal mendapatkan filter infra-red terbaru dan sensor low-noise dengan hydrogen-alpha sensitivity yang ditingkatkan levelnya — well, sepertinya beberapa pembaruan tersebut hanya bisa dimengerti oleh mereka yang memang doyan kelayapan malam hari mencari sasaran foto angkasa, atau para astronom.

Namun sekadar info saja, jika pada DSLR konvensional filter infra-red ditujukan untuk melemahkan panjang gelombang cahaya tertentu, sehingga hasil fotonya masih tetap seperti apa yang ditangkap mata manusia, maka dalam 60Da ini filter infra-red justru memungkinkan lebih banyak hydrogen-alpha light untuk masuk ke dalam, dan membuat obyek angkasa seperti kabut angkasa (nebula) yang memancarkan cahaya dalam spectrum tersebut bisa lebih mudah ditangkap dan diwujudkan dalam bentuk foto.

Untuk komunikasi kalangan awam, kamu mungkin lebih paham jika disebutkan bakal mendapatkan sensor CMOS sebesar 18 megapixel (APS-C), LCD Clear View sebesar 3 inchi model flip-out, sistem autofocus sembilan point dan dukungan  TV-out jika mau melihat hasil ‘klik’ shutternya melalui layar lebar pada mode Live View menggunakan kabel AVC-DC400ST stereo.

Bukan tidak mungkin mendapatkan tampilan detail Orion Nebula dengan kamera ini...

Membaca press release-nya, penulis juga mendapati fitur Silent Shooting (meningkatkan ISO native dari 6,400 hingga 12,800) yang sebelumnya eksis dalam EOS 5D Mark III – kabarnya juga bakal segera dijual di Indonesia dengan harga yang pasti aduhai mahalnya (lha wong aslinya saja sudah sekitar US $3500). Namun Silent Shooting di sini lebih ditujukan untuk memberi dukungan anti vibrasi biasa dari shutternya, agar tidak mengganggu kamera selama proses capture — wajar, dengan proses memfoto di malam hari dan obyek kecil, sedikit getaran / gerakan saja bisa membuat hasil gambar menjadi nge-blur.

Canon pun memasukkan RA-E3 remote controller adapter untuk gadget malam ini — aksesoris vital bagi mereka yang memerlukan waktu shoot dengan exposure lebih lama dari 30 detik, selain juga mendukung AC adapter kit jika ingin mendapatkan tambahan daya ketika memburu “penampakan” cantik langit semalaman.

Sumber: Canon USA

34 keseluruhan 1 dilihat hari ini