228

post meta:228result : api
SocialPresence

Mengukur Kinerja Smartfren Andromax U, Worthed Sebagai Sarana Mobile Gaming?

  • Urameshi Oleh :
  • 1 tahun yang lalu
  • Dibaca 13928 kali

Salah satu Android yang baru-baru ini membuat heboh pasar smartphone lokal adalah Smartfren Andromax U. Dirilis hanya berselang 2 bulan setelah Andromax I beredar di pasaran, membuat banyak pengguna Max I langsung bingung menjual smartphone lawas mereka, dan berpindah ke Max U. Apalagi apa yang ditawarkan Smartfren melalui Max U bisa dikatakan sangat worthed dengan harganya.

Worthed, dan lebih baik dari Max I? Bisa ya, dan bisa juga tidak. Penulis yang memang mencari Android dengan budget Rp. 1,5 jutaan langsung menjatuhkan pilihan pada Max U ketika membaca detail spesifikasi yang ditawarkan. Dengan harga resmi Rp. 1,599,000, dan walaupun rata-rata retailer menjualnya lebih mahal, hingga Rp. 1,7 jutaan, karena permintaan yang begitu derasnya, smartphone ini memang sangat cocok dan termasuk yang mampu memberikan value -for-money tinggi. Detail spesifikasinya sebagai berikut:

  • Dual On Evdo + GSM
  • CDMA 2000 1x EVDO Rev A 800/1900Mhz + GSM
  • Android 4.0 Ice Cream Sandwich, dan janji bisa di-upgrade ke Android 4.1 Jelly Bean
  • Chipset Qualcomm Snapdragon MSM8625, dengan prosesor dual-core Snapdragon S4 Play 1.2 GHz
  • GPU Adreno 203
  • Memory RAM 728 MB
  • Layar 4.5-inchi dengan material IPS, resolusi qHD 540×960-pixel, kerapatan per pixel 256 PPI
  • Ada slot micro SD yang mendukung hingga 32 GB (penulis menggunakan hingga 64 GB, dan dikenali dengan lancar)
  • Internal strorage 4GB, yang available ke kita 3.69 GB
  • Baterai li-ion 1800 mAh
  • Memiliki opsi menjadi WiFi Hotspot
  • Ada GPS yang mendukung A-GPS dan digital kompas
  • Ada dua kamera, di belakang 8-megapixel dengan auto focus dan LED flash, di depan 2-megapixel
  • Mampu merekam video dengan kualitas HD 720p
  • Bluetooth 3.0
  • Kartu CDMA mendukung format micro RUIM, kartu GSM mendukung format SIM ukuran standar
  • Port Micro USB 2.0
  • Audio Jack 3.5mm
  • Bonus Volume Data 12 GB selama 12 bulan
  • Pilihan warna casing hitam, putih dan biru (yang biru ini sepertinya belum pernah penulis temui)

Value-for-Money yang Tinggi

Dengan harga yang ditawarkan, siapapun akan menganggap smartphone ini tidak sesuai dengan harganya. Seharusnya memang lebih mahal, karena Innos I6 (gambar di atas), smartphone lain yang juga berbasis OEM Max U ini juga dijual di luar sana dengan harga di atas Rp 2 jutaan. Oh ya, bicara mengenai Innos I6, ada satu fakta menarik. Ketika penulis iseng surfing website mereka di sini: www.innos.com, dan masuk bagian Contact Us, lha da lah, ternyata ada cabang Indonesianya, tepatnya di Surabaya, WTC, 3rd Floor R.384,. Jl. Pemuda 27-31, Surabaya, Indonesia (sering lewat nih!), dan untuk Jakarta di ITC Roxy Mas, 3rd Floor Block B No.78.  Jl. KH. Hasyim Ashari, Jakarta Barat, Indonesia.

So, ketahuan lah, jika dulu Max I OEM-nya adalah Hisense, maka untuk Max U ini Smartfren bekerja sama dengan Innos. Dari sini kita mendapatkan jaminan purna jual, apalagi dengan kenyataan bahwa Innos I6 yang bak-pinang dibelah dengan Max U harganya di luar di atas Rp 2 jutaan. Rupanya Smartfren benar-benar mensubsidi Max U cukup banyak ya, hingga mereka berani menjualnya di harga Rp. 1,599,000 saja. Satu-satunya yang membuat sedikit kecewa dari Max U ini adalah material casingnya, terutama penutup baterainya yang terasa kesan plastiknya dan berbahan glossy yang licin dan mudah tergores. Masih lebih baik material casing belakang Max I yang berbahan doff untuk menambah daya genggam tangan.

Namun keseluruhan, walaupun materialnya full plastik, desain Max U masih terlihat berkelas, lis krom di sekeliling tubuhnya menambah kesan tersebut, apalagi ada lampu notifikasi yang disebut pulse di bawah layar yang fungsional. Lampu dengan 7 warna pencahayaan tersebut berfungsi memberi kita notifikasi jika ada event yang terlewat, seperti missed call, SMS  (warna hijau), atau notifikasi lainnya sampai daya baterai yang menipis (menyala merah).

Layar Lebih Besar, Lebih Kinclong

Ok, soal harga memang worthed. Slogan lebih besar, lebih cepat dan lebih canggih itu pun masuk. Max I memang juga menggunakan layar IPS, namun penulis akui, layar yang digunakan pada Max U ini sangat kinclong. Kamu akan susah menemukan perbedaannya ketika dibandingkan dengan pengguna layar IPS lain, seperti misalnya, layar iPhone 4. Bidang layarnya itu pun termasuk lega, 4.5-inchi mungkin terlalu besar untuk mereka bertangan kecil. Namun penulis merasa sangat nyaman. Apalagi resolusi qHD 540×960-pixel dan kerapatan per pixel 256 PPI mendukung gambar yang ditampilkan pada layar terlihat jernih dengan kontras yang sangat pas — tipikal layar IPS, menyajikan warna lebih realistis daripada layar AMOLED seperti yang biasa digunakan Samsung.

Kemudian yang juga disebutkan menjadi salah satu fitur unggulan Max U, layarnya menerapkan konsep One Glass Solution (OGS), yang menggabungkan layar, sensor sentuhan alias digitizer dan juga kaca dalam satu layer yang sama. Penerapan teknologi tersebut yang menjadikan keseluruhan layar Max U ini menjadi tipis, sekaligus juga membuat ketebalan tubuhnya tereduksi menjadi hanya 8.8 mm saja. Keseluruhan dengan panjang dan lebar 131 x 66.5 mm serta berat 144 gram, Max U termasuk Android yang pas ukurannya. Kemudian berkat penerapan OGS itu juga yang membuat kualitas layar IPS-nya menjadi lebih baik dan lebih responsif. Jadi kualitas layar Max U yang penulis nilai natural ini bukan karena resolusinya yang membesar.

Sering salah sentuh dan mengenai ketiga tombol softkey di bawah layar? Penulis mengakalinya dengan memberi space antara bagian terbawah layar dengan keyboard, seperti di atas, terlihat space bottom padding ketika menggunakan aplikasi Smart Keyboard.

Hanya saja ada satu kendala dengan penerapan OGS ini. Mungkin karena berada pada satu layer, sensor untuk tiga tombol softkey di bawah layar itu pun juga terlampau responsif. Sering penulis mengalami salah pencet, maunya menyentuh obyek yang posisinya di sisi terbawah layar, paling mengganggu adalah ketika mengetik dengan keyboard virtualnya, justru yang tersentuh adalah salah satu dari tiga tombol softkey di bawah layar. Solusinya, menggunakan aplikasi keyboard pihak ketiga, penulis memberi ruang kosong antara sisi terbawah layar dengan keyboard, sehingga masalah tidak sengaja salah sentuh ke tombol softkey tidak terulang lagi.

Teorinya Lebih Cepat, Nyatanya Beda!

Kemudian untuk lebih cepat, benar dengan chipsetnya Qualcomm MSM8625 yang memang dua inti dari prosesor Snapdragon S4 Play bisa di push hingga kecepatan 1.2 GHz, secara tertulis meningkat dibandingkan Max I yang hanya 1 GHz. Akan tetapi sebenarnya keduanya berbasis chipset yang sama, hanya clock speed-nya saja yang meningkat, dan sejatinya Max I itu pun masih wajar jika dengan cara khusus di-overclock ke 1.2 GHz. Lalu GPU-nya pun sama, Adreno 203, didukung RAM 768 MB. Logikanya, pasti manteb tuh spec-nya. Tidak juga, karena kita jarang melihat yang di bawah kertas. Keluarga prosesor Snapdragon S4 Play (ada Snapdragon S4 di sana, siapa yang tidak penasaran!?) masih dikembangkan dari arsitektur lama 45 nm dan juga berbasis prosesor ARM jadul, ARM Cortex-A5.

Perbandingan besar resolusi antara Max U dan Max I. Meskipun lebih besar dan resolusinya lebih tinggi, prosesor dan GPU Max U bebannya lebih berat.

Kinerjanya sebenarnya lumayan, namun jika melihat lebih jauh, sebenarnya prosesor tipe ini kurang “agresif” untuk diajak bermain di proses yang agak berat. Setidaknya Cortex-A8 atau Cortex-A9 untuk kinerja yang lebih advance. Sebenarnya tidak masalah, khususnya ketika digunakan di Max I, yang resolusi layarnya hanya WVGA 480×800 pixel, dan luas layarnya pun hanya 4-inchi, namun ketika kombinasi Qualcomm MSM8625 + Adreno 203 digunakan untuk merender resolusi qHD dan layar yang lebih besar, akan terasa agak memaksa dan bisa ditebak, ketika memainkan game yang grafisnya cukup intensif 3D-nya, gejala lag pun akan sering terasa. Jatah RAM yang masih sangat lega pun tidak membantu, karena memang prosesor dan GPU seakan dipaksa bekerja di luar standarnya.

Penulis mencoba dengan beberapa game, salah satunya Subway Surfer, game arcade ala Temple Run yang memang grafisnya lumayan berat, game tersebut dimainkan sangat lancar tanpa lag di Android dengan chipset Mediatek yang prosesornya berbasis Cortex-A9 dengan GPU PowerVR. Kemudian mencobanya di Max I, memang gejala lag masih terasa, namun masih bisa ditolelir dibandingkan gejala lag di Max U. Kemudian kami juga mencoba memainkan Temple Run 2, salah satu game 3D yang dianggap cukup berat grafisnya. Di Max I penulis memainkannya dengan lancar, bahkan dengan setting grafis tertinggi. Efek suara dari koin yang dipungut di sepanjang jalan terdengar jelas tanpa jeda. Namun ketika mencobanya di Max U, gejala lag terasa, dan paling mudah ditandai ketika memungut setiap koinnya, efek suara koin ketika kamu ambil akan terasa ada jeda karena frame rate yang jeblok.

Benchmark memang sekadar angka saja. Performa real-life lebih penting. Namun hasil benchmark ternyata segaris dengan kenyataan. Di atas terlihat, memang performa prosesor Max U cukup bagus, bahkan hasilnya lebih baik daripada Galaxy S II dalam kondisi standar. Namun coba lihat performa 2D dan 3D-nya? Justru lebih baik Max I, karena resolusi dan ukuran layar yang lebih kecil, dan performa memainkan game pun terasa bedanya, lebih lancar di Max I. *klik gambar untuk memperbesar

Dari mencoba beberapa game tersebut, yang sejatinya bukan game mobile dengan grafis 3D yang lebih intensif seperti game-gamenya Gameloft, atau bahkan mungkin Epic Citadel, kamu perlu berpikir dua kali jika akan membeli Max U dengan harapan mampu melahap semua game mobile di Play Store. Jika sebatas Angry Birds, atau yang grafisnya 2D/3D ringan, bolehlah mencobanya. Namun jika sudah game yang terlalu berat, mungkin bisa dieksekusi oleh Max U, akan tetapi jangan heran jika ada frame yang hilang ketika memainkannya.

Lebih Canggih, Dengan Jelly Bean 8-Megapixel

Ketika bicara lebih canggih, dari segi layar dan chipset Max U sudah membuktikan superiornya dibandingkan Max I. Lalu janji vendor, dalam hal ini memberikan update dari Android 4.0 Ice Cream Sandwich ke Android 4.1 Jelly Bean, juga bisa menjadi indikator canggih tersebut, karena sejauh ini untuk Max I yang masih menjalankan Android 4.0, tidak ada rencana upgrade-nya. Secara spesifikasi dan jatah RAM yang dimiliki Max U, upgrade Jelly Bean tersebut masuk akal — Galaxy S Advance dengan jatah RAM yang sama pun mendapatkan update Jelly Bean. Semoga saja bisa lebih optimal nanti software-nya.

Data hasil benchmar Antutu untuk Max U, dan keterangan informasi sistem.

Poin lebih canggih lainnya kita dapat melalui kapasitas baterainya, yang kini diperbesar menjadi 1800 mAh, dari 1630 mAh pada Max I. Dengan kapasitas yang meningkat, apalagi jenis prosesor dan GPU yang memang tidak rakus daya, dalam kondisi idle Max U bisa menjadi sangat irit baterai. Keadaan berubah ketika digunakan secara intensif, bermain game, atau berinteraksi dengan layarnya, akan menguras baterainya lebih cepat. Rata-rata baterainya mampu bertahan kurang lebih 12 jam dalam pengoperasian normal. Kemudian poin lain yang lebih canggih dibandingkan Max I adalah kameranya. Yang utama 8-megapixel dengan flash LED. Meningkat dari Max I yang hanya 5-megapixel dan tanpa flash LED. Penulis suka dengan lampu LED-nya yang bisa difungsikan sebagai senter, dan cahayanya sangat terang. Sedangkan untuk hasil fotonya, dibandingkan hasil kamera Max I, Max U mampu memberikan hasil foto yang lebih terang.

Layarnya merespon maksimal 5 titik sentuhan. Kemudian dari hasil deteksi sensor, ternyata tidak ada gyroscope di sini. Sensor tersebut bekerja secara tandem dengan kompas dan accelerometer ketika digunakan bersama aplikasi atau game yang membutuhkan aktivitas kita menggerakkan smartphone berdasarkan sumbu/posisi tertentu. Gambar paling kanan menunjukkan tanda akses ROOT pada salah satu ikonnya, dengan adanya simbol Super User. Banyak yang membutuhkan akses ROOT untuk mengembalikan data-data game lama untuk dilanjutkan memainkannya kembali di smartphone Android yang baru.

Batasan Vendor, Pangkas Kemampuan Real

Ada ikon notifikasi untuk koneksi 3G GSM….tapi kok yang bisa digunakan sebatas EDGE saja ya?

Di atas penulis sebutkan, bahwa seperti Max I, untuk Max U ini kamu bisa menggunakannya untuk berkomunikasi di jaringan CDMA dan GSM, karena memang mendukung dua chip aktif bersamaan. Itu bisa terjadi karena memang chipset Qualcomm MSM8625 mendukungnya. Namun Smartfren mengunci GSM-nya, yang hanya bekerja di koneksi EDGE saja. Walaupun merujuk pada buku manualnya, seharusnya bisa kok digunakan internetan di jaringan GSM pada kanal 3G. Coba saja kamu buka buku manualnya, di sana disebutkan ikon 3G untuk jaringan GSM-nya. Namun kenyataannya koneksi Max U hanya sebatas EDGE saja. Lantas kemana koneksi 3G GSM-nya… ? Hehe!! Secara chipset Qualcomm MSM8625, seharusnya modul GSM-nya bisa menggunakan koneksi GSM 3G. Sepertinya memang sengaja di-lock nih, agar kita hanya memanfaatkan koneksi data CDMA-nya saja.

Di atas terlihat opsi developer di Max I, yang lebih lengkap daripada Max U. Di Max U, kita tidak bisa mengatur untuk mematikan animasi, atau memaksa render animasi ke GPU. Fitur yang banyak dimanfaatkan para developer. Bahkan di Max U pun kamu juga akan kesulitan meng-install driver ADB. Sepertinya Smartfren berusaha menutupi celah Max I, yang dulu sempat bisa ditembus dan banyak yang merubah nomor default CDMA-nya ke operator lain. Semoga saja proteksinya kali ini lebih kuat.

Batasan lain yang penulis temukan ada pada internal storage-nya. Entah kenapa untuk Max U ini, internal storage yang 3.69 GB itu sengaja di-lock, dan tidak bisa bebas kamu akses melalui PC, atau software file manager yang disertakan di dalam Max U. Otomatis jatah 3.69 GB itu pun hanya di-reserve untuk meng-install aplikasi dan datanya saja, tidak mungkin dimanfaatkan untuk penyimpanan file lainnya. Dan itu artinya, untuk menyimpan file multimedia atau file lainnya, jelas kamu perlu menyediakan micro SD.

Entah kenapa, internal storage-nya di lock… kamu hanya bisa menemukan eksternal storage ketika mengakses file manager Max U.

Selain itu, kami juga mendapati beberapa opsi developer di menu setting-nya juga dihilangkan di Max U. Seperti opsi untuk mengatur animasi, yang sebenarnya sangat berguna ketika mungkin kita merasa Max U responnya menjadi lebih lambat karena beban animasi Ice Cream Sandwich. Selain itu, mematikan animasi dan transisi window efeknya sangat terasa pada jatah RAM, yang bisa lebih lega dibandingkan ketika animasi dan transisi window terus dinyalakan.

Worthed, Dibandingkan Max I?

Jatah storage yang bisa kita gunakan, meskipun tidak bisa bebas diakses, karena juga dikunci. Jatah RAM yang free ke kita dari total 768 MB, ada sekitar 550 MB, dan daya tahan baterai dengan penggunaan normal, semua jejaring sosial aktif, kurang lebih 12 jam.

Tergantung darimana kita melihatnya. Kalau dari sisi prosesor yang diklaim lebih cepat, penulis rasa sama saja, tidak ada peningkatan signifikan. Karena bersama layar yang diperbesar dengan resolusi yang juga meningkat kurang lebih 30%, membuat peninggkatan kecepatan prosesor terasa sama saja. Namun Max U dibekali RAM yang lebih lega. Setidaknya 768 MB dengan pengoperasian sosial media aktif, asal tidak banyak proses di background yang berjalan, gejala lambat karena kekurangan RAM lebih minim terjadi. Hanya saja kembali pada kenyataan resolusi yang lebih besar, prosesor dan GPU-nya seakan dipaksa bekerja lebih berat. Dan untuk memainkan game 3D berat, smartphone ini kurang penulis rekomendasikan. Lebih baik memilih opsi lain yang sudah menggunakan Cortex-A9.

Penulis sendiri lebih menyarankan Max U ini untuk mereka yang ingin mendapatkan layanan data internet murah. Dengan bonus volume data 12 GB yang diberikan setiap bulan 1 GB, lumayan untuk bisa terkoneksi internet sebulan. Walaupun bonus tersebut ada syaratnya. Kamu harus isi ulang minimal Rp. 50.000 untuk mendapatkan bonus 1 GB yang berlaku selama 15 hari tersebut. Sedangkan top up Rp. 50 ribu tadi bisa kamu tukarkan lagi dengan paket data Smartfren sebanyak 2 GB. Jadi total kamu mendapatkan jatah data selama sebulan 3GB.

Andromax I juga bisa menjadi pilihan terbaik, jika kamu mencari Android yang sekaligus ingin dijadikan sebagai portable hotspot. Harga termurahnya kini sekitar Rp. 1 jutaan!

Jika sudah terlanjur Max U dengan harapan bisa memainkan game berat, dan ternyata malah kecewa, jangan keburu dijual. Ada fungsi penting di dalamnya yang bisa dimanfaatkan, yaitu portable WiFi hotspot. Seperti yang penulis terapkan, menyandingkan Max U ini dengan Nexus 7 WiFi, tablet Google yang kini bisa didapatkan rentang harga 2 jutaan, dan memang mumpuni melahap semua game-game HD. Karena memang sejatinya tidak memiliki slot GSM, Nexus 7 memerlukan hotspot WiFi untuk terkoneksi internet, dan Max U memberi akses yang ideal, tanpa mengorbankan fungsinya sebagai sebuah Android.

Jika Nexus 7 WiFi terlalu masih di luar budget, bisa melirik kembarannya, Ainol Novo 7 Venus, yang harganya hanya Rp. 1,5 jutaan. Quad-core juga, namun GPU-nya tidak sebaik Nexus 7, dengan perkiraan kemampuan grafisnya separuh Nexus 7, namun kinerja CPU keseluruhan sebanding.

Memang ribet membawa dua gadget. Namun kombinasi Max U dengan tipikal tablet dual-core dan quad-core bermerk lokal pun, harganya masih lebih murah dibandingkan smartphone atau tablet quad-core dari brand ternama, namun kamu mendapatkan kinerja yang setara. So, think wise… tidak harus keluar budget yang tinggi untuk menikmati mobile gaming berkualitas HD!

Smartfren ANDROMAX U


Tags: , , , , ,
Kategori: TEKNO