Andrew Tobias: “Pemain eSport di Indonesia Hanya Bisa Hidup Berkecukupan”

andrew tobias
Andrew Tobias (kedua dari kiri)

Ranah eSport tanah air belakangan ramai berkembang. Kemunculan berbagai kompetisi eSport turut menjadi faktor pendorong perkembangan ini. Namun, apakah perkembangan ini berdampak langsung ke kehidupan atlet eSport? Diskusi yang dimulai Andrew Tobias ini memberikan beberapa insight untuk kita.

Ini yang Paling Membanggakan dari IeSF eSport World Championship 2016!

Indonesia terpilih sebagai tuan rumah piala dunia eSport saja sudah bikin bangga! Hal lain apa lagi yang buat IeSF eSports WC membanggakan? Simak di sini!
Baca Juga

Pada Minggu malam, 19 Februari 2017. Andrew Tobias, salah satu tokoh komunitas eSport di Indonesia membuka diskusi mengenai kondisi pemain eSport di Indonesia:

“Actually esports player in Indonesia can’t make a good living.. Just can make an enough living. Beda cerita sama Eropa. Mereka bayar pajak hidup tua uda ditanggung negara. Bisa fokus n jadinya jago.

Hidup esports di Indonesia cuma dari sisi entertainer doang yang bisa mumpuni. Ketika gambling icon icon ini disukai orang, bisa dapet sponsor gampang karena cuma individu doang yang disponsor. Sukur2 lagi kl ditonton orang tajir bisa disawer atau donate. I’m very open for discussion.” – Andrew Tobias

Dalam perkembangannya, muncul diskusi menarik di halaman komentarnya. Berikut adalah rangkuman dari diskusi yang terjadi dalam post tersebut.

1

Pemain eSport di Indonesia Tidak Didukung Negara

andrew tobias

Dari apa yang kami tangkap, Andrew mengungkapkan bahwa pemain eSport di Eropa bisa berkembang dan profesional karena mereka bisa fokus bermain tanpa perlu banyak mengkhawatirkan masa tua mereka, karena di masa tua, banyak sisi kehidupan mereka yang ditanggung negara.

Namun tidak demikian di Indonesia. Nasib pemain eSport kurang diperhatikan. Salah satu pembaca juga berkomentar bahwa kondisi eSport tidak jauh berbeda dengan kondisi olahraga lain seperti bulu tangkis, di mana hanya sedikit pemain yang mendapatkan bayaran secara profesional. Sisanya hanya mendapat bayaran bila memenangkan pertandingan.

Pembaca lain juga berkomentar bahwa IESPA, salah satu organisasi di bawah lembaga pemerintah, FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia), tidak memberikan dampak apa pun terhadap perkembangan esport tanah air. Selain itu ia juga mengkritik hasil kerja IESPA, khususnya pada kegagalan penyelenggaran IeSF 8th Esports World Championship pada Oktober 2016.

2

Hidup dari Entertainment

Pendapat yang juga diutarakan adalah mengenai kondisi pemain eSport yang baru dapat hidup dari dunia entertainment saja. Individu-individu yang bermain baik menjadi idola, kemudian mendapatkan sponsor.

Sponsor-sponsor ini sayangnya juga tidak memberikan banyak dan cenderung hanya memberikannya kepada individu alih-alih ke tim. Karenanya hanya satu-dua orang saja yang dapat hidup layak dari sana.

Beberapa juga berpendapat bahkan secara entertainment pun masih sulit mendapatkan pendapatan dari eSport. Keinginan untuk spending dari para fans eSport dirasa kurang, baik untuk membeli produk atau sekadar tiket, sehingga sulit mendapatkan dukungan dan sponsor, yang berujung pada berhentinya beberapa event dan startup eSport di tanah air.

Ketua IESPA Eddy Lim juga ikut berkomentar mengenai kondisi eSport di Indonesia, apa komentarnya? Cek di halaman selanjutnya!

1
2

SHARE
Previous articleInilah Alasan Mengapa Cowok Juga Perlu Nonton Drama Korea
Next article3 Trik Aneh untuk Tingkatkan MMR Kamu!
Tertarik dengan dunia game sejak kecil. Baginya, game tidak hanya sekedar hiburan, tetapi juga sarana untuk belajar dan refleksi diri. Game yang ia senangi antara lain Grand Theft Auto V, seri Europa Universalis, seri Crusader King, dan seri Romance of the Three Kingdoms.