Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Hampir lima tahun pengembangan, God of War adalah salah satu game yang nyaris sempurna. Kami tidak henti-henti mengaguminya!

God of War digadang-gadang bakal menjadi salah satu game terbaik yang dimiliki oleh PS4. Beberapa kritikus pun sudah memuji kerja keras dari Santa Monica Studios selama hampir lima tahun ini. Kami di Duniaku.net pun demikian, dibuat tidak henti-hentinya mengagumi game ini.

Penasaran bagaimana impresi kami? Simak review God of War berikut ini.

Sinopsis

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Review God of War dimulai dari sedikit sinopsis ceritanya. God of War sendiri bertindak sebagai sekuel langsung yang berlatar belakang beberapa tahun setelah Kratos menuntut balas kepada dewa dewi Yunani.

Pasca kejadian tersebut, Kratos pun berkelana ke Skandinavia dan tinggal bersama putranya, Atreus. Kratos, yang kali ini lebih dewasa mendapatkan tugas bukan hanya untuk bertahan hidup, melainkan juga mengajarkan kemampuan survival tersebut kepada Atreus.

Berbeda dengan seri-seri God of War sebelumnya yang ber-setting di mitologi Yunani, kali ini setting berpindah ke mitologi Norse. Karena melihat rekam jejaknya yang mengacau di Olympus, maka kali ini dewa dewi Norse pun mulai melakukan tindakan pencegahan akan kehadiran Kratos.

Bagaimana perjalanan Kratos selanjutnya? Bisakah dia bertahan hidup dan menjadi orang tua yang baik untuk Atreus?

Selamat tinggal layar loading dan transisi

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Setelah membaca sedikit kisahnya, review God of War berlanjut ke bagian gameplay. Satu hal yang penulis sangat suka dari game ini adalah game ini tidak memiliki layar transisi sama sekali! Sejak awal kamu menekan tombol New Game hingga ending, kamu tidak akan menemukan layar transisi dari cutscene ke gameplay, battle, ataupun sebaliknya.

Kamu hanya akan menemui loading saat save data, load data, atau saat Kratos tewas dan kamu harus mengulang dari checkpoint terakhir. Atau layar transisi hanya akan muncul saat kamu masuk ke menu. Sebuah pengalaman "tanpa gangguan" yang mungkin membuatmu serasa menonton sebuah film dibandingkan memainkan game.

Challenging but rewarding 

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Review God of War selanjutnya adalah di sistem pertarungannya. Di game ini, Kratos tidak lagi menggunakan chain blade andalannya, melainkan menggunakan sebuah kapan Leviathan Axe yang tidak kalah powerful.

Di awal-awal permainan, kamu hanya dikenalkan dengan dua tombol serangan (R1 dan R2) dan satu tombol blok serangan (L1). Namun lama kelamaan, Kratos bisa mempelajari berbagai skill baru yang bisa kamu lancarkan dengan menggunakan kombinasi tombol-tombol tersebut.

Banyaknya variasi skill inilah yang membuat setiap pertarungan di God of War tidak membosankan. Apalagi kamu akan bertemu dengan berbagai macam musuh dengan pola serangan bervariasi. Kamu juga bisa membuat musuh stun setelah melancarkan serangkaian kombo dan dengan menekan R3, kamu bisa langsung menghabisi musuh yang terkena stun tersebut.

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Leviathan Axe bukan cuma bisa kamu gunakan untuk bertarung jarak dekat. Kamu bisa melemparkannya kepada musuh yang dari jauh dan bahkan bisa membuatnya freeze beberapa saat. Untuk mengambil kapakmu kembali, kamu tidak perlu mendekatinya. Mirip dengan Mjolnir-nya Thor, kamu bisa memanggilnya kembali dengan menekan tombol segitiga.

Salah satu aktivitas favorit: melemparkan kapak dan memanggilnya sebelum kapak tersebut mengenai sasaran. Seperti bermain bumerang!

Oiya, bisa dibilang tingkat kesulitan God of War ini cukup tinggi, bahkan untuk mode normalnya sekalipun (Give Me A Balanced Experience), dijamin kamu akan sering mengulang pertarungan dari checkpoint.

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Bagi yang suka game-game "menyiksa" seperti Dark Souls, mungkin kamu akan tergerak untuk mencicipi tingkat kesulitan tertingginya. Akan tetapi bagi yang ingin menikmati story-nya, penulis sarankan sih pilih tingkat kesulitan paling rendah saja.

Challenging but rewarding. Yap, dengan tantangan sebesar ini, mengalahkan setiap musuh memberikan nilai kepuasan tersendiri. Apalagi jika kamu bisa menemukan titik kelemahan satu musuh, atau tahu cara terbaik untuk mengalahkannya. Benar-benar membuat puas!

Bagaimana dengan peran Atreus? Apakah dia membantu selama pertarungan? Simak review God of War halaman selanjutnya.

Atreus bukan cuma jadi pajangan

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Selama permainan, kamu akan ditemani Atreus yang -untungnya bukan cuma menjadi pajangan dan sangat membantu dalam pertempuran. Di awal-awal permainan, Atreus memang hanya bisa menggunakan panahnya saja untuk menarik perhatian lawan, sehingga saat lawan lengah, kamu bisa melancarkan serangan bertubi-tubi.

Namun seiring dengan petualangan, Atreus bisa mempelajari berbagai macam skill baru untuk membantu dalam pertarungan. Bahkan bisa memberikan efek negatif seperti stun ke lawan. Terima kasih kepada satu tombol khusus Atreus (dengan menekan tombol kotak) yang bisa kamu tekan kapan saja untuk membuat Atreus membantumu dalam pertarungan.

Bahkan saat eksplorasi lingkungan, Atreus bisa jadi aset yang sangat berguna untuk mengecek celah sempit atau dilempar ke platform tinggi untuk membuka jalan.

By the way, Atreus tidak bisa tewas kok di game ini. Jadi saat pertarungan, kamu tidak perlu khawatir kepadanya. Eksploitasi saja dia untuk menarik musuh. Bahkan saat Kratos tewas pun, Atreus lah yang menghidupkannya kembali dengan item tertentu. Hehehe.

Setiap detail grafis yang memanjakan mata

Dengan keyakinan 100%, penulis bisa bilang God of War adalah salah satu game dengan grafis paling memanjakan mata saat ini. Yang paling membuat kagum adalah bagaimana Santa Monica Studios menggambarkan setiap detail dari karakter dan lingkungan yang ada.

Mulai dari pintu kayu dari rumah Kratos hingga kerutan di wajahnya, semua digambarkan dengan sangat mendetail. Di luar gameplay, memperhatikan detail-detail di setiap objek ini merupakan salah satu aktivitas favorit penulis juga saat memainkan game ini lho. Hehehe.

Bukan cuma itu, pencahayaan lingkungan juga sangat baik. Kamu bisa melihat pantulan cahaya di air, atau saat kamu berkunjung ke Alfheim, kamu bisa melihat banyak permainan cahaya yang cukup hangat dan tidak membuat mata lelah.

Daddy simulator yang mencampur aduk emosi

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Daddy simulator? Yap, selain bertarung melawan musuh, di game ini Kratos pun dituntut harus "melatih" sang anak, Atreus untuk bisa sehebat dirinya. Sebagai seorang ayah, bisa dibilang Kratos cukup keras untuk mendidik anaknya dan sosok yang-harus-wajib-dituruti-kemauannya-oleh-anaknya.

Akan tetapi, ayah tetaplah ayah. Meskipun terlihat sangat keras kepada Atreus, terkadang kamu juga bakal melihat sisi kasih sayang dan Kratos terhadap anaknya.

Di beberapa bagian kamu akan melihat bagaimana Kratos memarahi Atreus karena tidak bisa membidik buruan dengan tepat. Di bagian lain, kamu juga bisa melihat bagaimana Kratos sangat khawatir dan menyembunyikan Atreus saat ada orang asing yang datang dan mulai mengobrak-abrik rumah Kratos.

Hubungan ayah dan anak ini cukup mencampur aduk emosi. Dan yaah, bagi calon-calon bapak, ada beberapa yang bisa dicontoh kok untuk mendidik anak laki-lakimu kelak. Hehehe.

Wah, sepertinya game ini benar-benar sempurna ya! Eits tunggu dulu, tetap ada kekurangannya juga kok. Baca review God of War halaman ketiga ya!

Teks dan subtitle lumayan bikin mata lelah

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

God of War bisa dibilang salah satu game paling sempurna yang penulis mainkan, baik dari segi cerita, gameplay, grafis hingga sound-nya. Namun sayang, ada satu hal yang membuat penulis terganggu di game ini: teks dan subtitle yang terlalu kecil!

Hampir semua teks yang ada di dalam game ukurannya terlalu kecil, sehingga menjadi PR tersendiri bagi penulis untuk membacanya. Terutama untuk membaca subtitle yang tertulis langsung di layar, tanpa ada kotak dialog. Sehingga terkadang apabila cutscene-nya terlalu terang, bisa dipastikan penulis (dan juga mungkin kamu) akan melotot ke layar untuk membacanya.

Mungkin pihak pengembang menjadikan teks kecil dan tanpa kotak dialog dengan alasan, supaya gamer bisa menikmati setiap adegan di game ini secara maksimal layaknya menonton sebuah film, tanpa terganggu antarmuka yang berlebihan. Tapi terlalu lama melotot ini sih lumayan bikin mata lelah.

Kesimpulan

Review God of War: Sempurna, 100% Kandidat Game of The Year 2018!

Penulis jamin kamu akan menyesal seumur hidup jika kamu punya PS4 tetapi tidak memainkan game ini. God of War adalah kombinasi sempurna setiap elemen game, dan lima tahun pengembangannya benar-benar sepadan dengan hasilnya. Meskipun ada beberapa minus seperti teks yang terlalu kecil atau pengaturan kamera yang kadang-kadang membuat pusing (bagi penderita motion sickness), namun hal tersebut tidak akan mengganggu jalan game ini untuk meraih nominasi Game of the Year 2018.

Dan sebagai awal baru, God of War ini bisa dibilang juga sudah menghadirkan pondasi yang kuat untuk sekuel-sekuel selanjutnya.

Penilaian: 9.5/10

Diedit oleh Fachrul Razi

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU