Dampak Radiasi Nuklir Bagi Manusia

Sejak beberapa hari yang lalu, berita mengenai peningkatan level radiasi nuklir di reaktor Dai-Ichi, Fukushima dari level 5 menjadi level 7 telah diumumkan. Level 7 setingkat dengan krisis radiasi nuklir yang pernah terjadi pada tahun 1986 di distrik Chernobyl, Uni Sovyet. Ketika itu, reaktor tersebut meledak hingga radioaktifnya menyebar dan memaksa penduduk sekitar untuk mengungsi. EFek dari radioaktif ini bahkan menyebar ke seluruh dunia hingga Belarus, Ukraina, dan Itali. Bencana ini disebut sebagai bencana nuklir terbesar hingga sekarang.
Radiasi pada reaktor Dai-Ichi yang telah mencapai level sama dengan Chernobyl tentu akan sangat membahayakan penduduk Jepang dan Negara-negara di sekitarnya baik secara kesehatan maupun alam. Chinf-wan, seorang patologi dari University of Hongkong berkomentar “Radiasi tingkat 7 sangat berbahaya bagi ekosistem sekitarnya, terus terang buruk sekali.”

Radiasi nuklir dapat menyebar dengan sangat cepat. Penyebarannya dapat melalui udara, melalui air yang terkontaminasi, bahkan melalui hasil alam dari tanah yang terpapar radiasi tersebut bahkan setelah beberapa tahun kemudian. Gejala keracunan radiasi nuklir berawal dari muntah-muntah, diare, mabuk, serta pening.
Gejala tersebut berlangsung selama beberapa hari. Setelah gejala awal hilang, gejala tersebut akan kembali berulang dengan efek yang lebih parah, hingga kelelahan dan kehilangan nafsu makan selama beberapa bulan. Selain itu, paparan radiasi nuklir dalam hitungan jam akan berdampak pada kulit. Gejala ini dapat berupa rasa perih hingga terasa seperti membakar dan menyebabkan rambut rontok.
Pada tingkat yang lebih parah, radiasi nuklir dapat berujung kematian melalui infeksi, pendarahan, serta kerusakan sum-sum tulang. Paparan radioaktif akut bahkan mampu merusak organ dalam seseorang dan membakar mereka dari dalam.

Radioaktif nuklir meracuni tubuh dengan cara mencegah sel-sel tubuh membelah dan berkembang biak. Sel-sel di usus besar yang paling terganggu dari efek radioaktif ini. Sebab usus besar menjadi pusat pembelahan sel untuk pembentukan darah di sum-sum tulang belakang. Oleh karena itu, paparan radiasi umumnya menyebabkan korban menderita kanker,
Untuk mencegah penyebaran radiasi nuklir ini, seseorang diharuskan melepas seluruh pakaiannya yang telah terpapar radiasi dan membasuh tubuhnya dengan air. Hal ini akan mengurangi paparan radiasi eksternal sebelum kemudian ditangani lebih lanjut.

RadX

Chem_Rad-X

RadAway

Pemerintah Jepang bahkan memiliki metode lainnya, yaitu dengan membagikan pil potasium iodine. Pil ini dipercaya mampu mencegah tiroid menyerap iodine sehingga mampu mencegah terjadinya kanker tiroid. Namun sejumlah pihak mengatakan bahwa metode tersebut kurang efektif, sebab iodine mampu menyebar dari media lain, seperti udara, tumbuhan, maupun daging dari makhluk hidup yang tercemar. Tentu yang diperlukan Jepang bukan hanya sebuah pil potassium iodine saja, tetapi Rad-X dam Rad away seperti yang ada di Fallout.


SHARE
Previous articleAwas, Jangan Salah Beli!!
Next articleThe Spring 2011 Anime Preview
Memulai kariernya sebagai freelance majalah Ultima Nation, Dipta berkembang hingga menjadi penulis guide di majalah Optima. Ia sempat menghilang pada tahun 2003 untuk mempelajari film di Australia. Pada tahun 2008 Dipta kembali ke Indonesia dan memimpin GAMEZiNE selama kurang lebih 2 tahun. Ia juga sempat memperoleh penghargaan MURI sebagai Pencipta TCG Indonesia Pertama melalui karyanya Vandaria Wars.