Mengkristal Bersama Vandaria di MAKKO Go Show

Garda depan dijaga oleh Hans J. Gumulia dan Truly Rudiono

Vandaria kembali unjuk gigi di Jakarta pada MAKKO Go Show 3. Kinokuniya di lantai 5 Plasa Senayan yang menjadi lokasi acara tersebut sudah ramai sebelum acara dimulai pada pukul 18.30 hari Kamis, 5 April 2012, lalu. Tidak heran, berbagai hadiah seperti lima starter deck Vandaria Wars menanti para pengunjung pertama yang membawa novel Vandaria Saga. Untuk mendapatkannya, novel tersebut harus ditunjukkan kepada pria berkemeja merah muda di garda depan. Rupanya orang yang dimaksud adalah Hans J. Gumulia, penulis Takdir Elir, yang jauh-jauh datang dari Surabaya. Sesi tanda tangan Takdir Elir pun tak terelakkan terjadinya.

Dengan dimulainya acara, kita temukan Ami Raditya, Rama Indra, dan Azisa Noor di panggung. Kepada para penonton, Ami Raditya memperkenalkan semesta Vandaria yang disebut “ide yang membentuk ekosistem” oleh Marlin Sugama sang pemandu acara. Rama Indra pun menjelaskan keistimewaan hikayat Vandaria dengan konsep dualitas yang kini menjadi tanggung jawabnya. Lalu Azisa Noor memberikan bocoran seri komik Linimasa untuk Vandaria yang sedang digarapnya bersama nama-nama besar di dunia komik dan ilustrasi Indonesia. Linimasa akan diterbitkan oleh MAKKO secara online. Ketiga bintang tamu ini menyajikan paparan mereka bersama ilustrasi-ilustrasi yang menawan khas Vandaria. Tidak tertinggal dipamerkan sampul depan Sepuluh Kisah Vandaria Saga: Kristalisasi yang akan terbit akhir bulan ini.

Ami Raditya, Rama Indra, dan Azisa Noor dipandu Marlin Sugama

Seusai istirahat, Kris Antoni dari Toge Productions, juara pengembang game di Indonesia, diajak untuk bergabung ke depan. Kris Antoni mempresentasikan Necronator, yaitu realtime strategy game yang konsep permainannya juga akan melandasi game Lords of Vandaria garapan Toge Productions. Dalam Lords of Vandaria nanti, kita bermain sebagai pasukan elit yang mengabdi kepada Raja Tunggal. Tentu saja, sesuai semangat Mengkristal Bersama Vandaria, game ini terhubung dengan novel Sang Penantang Takdir dan Sang Raja Tunggal karya Ardani Persada yang segera terbit.

Kris Antoni dari Toge Productions

Sebagaimana kristal yang kuat dengan beragam warna, Ami Raditya mengusung gagasan bahwa semakin banyak kreator, semakin kuatlah Vandaria sebagai franchise. Novel Vandaria tidak harus khas role-playing atau epik fantasi karena fantasi dalam Vandaria diterapkan sebagai latar. Novel dan komik Vandaria bebas mengambil genre drama, horor, thriller, atau romance sebagai napasnya. Mewujudnya Vandaria dalam berbagai produk juga digiatkan demi memperkaya dan memperkuat kristal ini.

Ramainya hadirin acara ini tidak sembarangan. Selain penggemar setia Vandaria, juga tampak penulis fantasi Djokolelono (Anak Rembulan, Jatuh ke Matahari), FA Purawan (Garuda 5), Bonmedo Tambunan (seri Xar dan Vichattan), Andry Chang (Fireheart dan Vandaria Saga: Musafir Bedina yang akan terbit tahun ini), dan Fachrul Razi (Vandaria Saga: Hailstorm yang akan terbit tahun ini). Juga hadir jagoan-jagoan dari MAKKO dan Toge Productions yang telah mengkristal bersama Vandaria. Terlihat juga banyak publisher dan developer game Indonesia, seperti Lyto, Altermyth, Agate Studio, Mintsphere, Amulet Studio, Nusantara Online, dan banyak lagi. MAKKO Go Show 3 ini juga diramaikan oleh kehadiran para pencinta fantasi dari Le Château de Phantasm, Komunitas Visual Novel Project, Kaldera Fantasi, Hotgame, Megindo, well+done, dan gantibaju.com.

Mengkristal bersama Vandaria pada akhirnya dapat dipandang sebagai ajakan untuk memperkuat dunia hiburan Indonesia pada umumnya. Dengan semangat kristalisasi, Vandaria ingin menunjukkan bahwa produk Indonesia juga bisa berjaya di pasar Indonesia. Setelah itu, digemarinya produk Indonesia di pasar internasional bukanlah cita-cita yang muluk lagi.

Yuk, Mengkristal Bersama Vandaria

SHARE
Previous articleGalaxy Tab 2 10.1, Beratnya Naik Akibat Kelebihan Kalori Ice Cream Sandwich
Next articleInfeksi Zombie di Dunia Berlanjut dalam Infectonator 2!
Meskipun menyandang nama musik, Melody Violine lebih senang menulis daripada bermain musik. Itulah mengapa ia memutuskan untuk kuliah di Program Studi Indonesia FIB UI hingga lulus pada tahun 2009. Selain menjadi kontributor Duniaku, ia menerjemahkan novel-novel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, termasuk di antaranya adalah adaptasi novel Assassin's Creed (Oliver Bowden).